Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 49


__ADS_3

Tiwi masih duduk di sana hingga kegelapan datang menggantikan siang. Menatap riak air yang diselimuti kegelapan. Lampu-lampu di perahu mengapung, bergerak ketika ada orang yang menaikinya. Juga lampu taman yang menyala tak cukup menerangi.


Ia menghela napas, memikirkan ucapan Naina. Tiwi beranjak, berbalik dan melangkah pelan mendekati mobilnya yang terparkir di pinggir danau. Duduk tercenung sambil memegangi kemudi.


"Kalo Naina bisa, kenapa aku nggak? Bismillahirrahmanirrahim, aku bisa!" Tiwi menyemangati dirinya sendiri. Kedua matanya memancarkan tekad yang kuat. Malam itu juga dia akan berbicara dengan kedua orang tuanya tentang kejujuran.


Tiwi menjalankan mobilnya menuju rumah, dengan semangat menggebu dia tersenyum saat kalimat-kalimat Naina mengiang di telinga. Itulah sahabat fillaah, saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Saling menguatkan ketika lemah, saling mendorong untuk terus maju membentuk pribadi yang lurus.


Shodiiquka man abkaka laa man adlhakaka. Temanmu adalah dia yang membuatmu menangis, bukan dia yang membuatmu tertawa. Seorang teman bukanlah dia yang datang ketika banyak hutang, dan hilang entah ke mana ketika senang.


Tiwi menyiapkan hatinya untuk berbicara dengan kedua paruh baya di rumahnya terutama laki-laki itu. Ia menghentikan mobil di halaman rumah, memberikan kunci pada penjaga gerbang untuk memasukkannya ke dalam garasi.


"Assalamu'alaikum!" ucapnya dengan nada lebih riang dan gembira. Tiwi mengayunkan langkah memasuki rumah, mencari-cari kedua orang tuanya.


"Mah! Pah! Di mana? Aku mau ngomong sama kalian," seru Tiwi mengeraskan suara agar terdengar oleh kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumussalaam!"


Kedua orang tuanya muncul dari belakang.


Ekspresi wajah mereka berbeda. Sang papah terlihat biasa saja, tapi wanita yang bersamanya terlihat sedih. Mata tuanya berembun, teringin menangis.

__ADS_1


Tiwi alias Nadia menghampiri keduanya, menyalami mereka penuh hormat.


"Mau ngomong apa? Kayak penting banget kelihatannya," tanya sang papah seraya mengikuti Nadia ke ruang keluarga di mana mereka baru saja bercengkerama bersama.


"Malam ini Mamah sama Papah harus dengerin aku." Tiwi memulai niatnya.


"Ada apa? Sekalian Papah juga mau ngomong sama kalian. Ini soal Alfin," sahut papah Tiwi sembari menelisik kedua wanita yang bersamanya itu.


"Apa itu, Pah? Kok, Mamah nggak tahu. Dari tadi kita ngobrol, tapi Papah nggak ngomong apa-apa," ujar sang istri menatap curiga pada suaminya.


Ustadz Ghofur menghela napas, dia memang tidak berniat membicarakan itu dengan istrinya.


"Yah, karena Papah pengen kalian berdua yang denger. Itu aja," kilahnya padahal takut istrinya itu akan menolak dengan tegas seperti yang sudah-sudah.


"Papah udah cari tahu soal Alfin. Kabar dia punya toko matrial itu emang benar, dan apa kalian tahu? Toko yang paling besar di kota itu, yang harganya jauh lebih murah, itu adalah milik Alfin. Iya, itu punya Alfin. Papah berencana untuk melanjutkan perjodohan kalian," ungkap Ustadz Ghofur dengan wajah sumringah.


Ia bersemangat menyampaikan hal tersebut kepada mereka, berharap keduanya akan menyambut dengan gembira. Namun, apa yang terjadi, istri dan anaknya terlihat tak senang. Menatap aneh pada dirinya.


"Cukup, Pah! Jangan ngatur-ngatur aku lagi. Alfin itu mau nikah sama sahabat aku. Nggak mungkin aku ngerebut dia dengan dalih perjodohan. Aku nggak mau apalagi sampai menghancurkan persahabatan aku. Aku nggak mau, Pah," tolak Tiwi dengan nada tegas dan berani.


Laki-laki itu berdecak, tak senang dengan reaksi keduanya.

__ADS_1


"Mereka itu belum nikah, 'kan? Jadi, kamu masih bisa bikin Alfin nerima perjodohan ini. Papah pastiin hidup kamu terjamin kalo nikah sama dia. Mau apa aja pasti bisa dia kasih. Percaya sama Papah," ucapnya berapi-api.


Ibu Tiwi tak tahu harus seperti apa menasihati suaminya itu. Semakin ke sini sosoknya semakin jauh dari agama, bahkan tidak mencerminkan seorang pendakwah. Seorang yang sering memberi nasihat bukan hanya pada satu dua orang, tapi ribuan orang yang berada di seluruh pelosok negeri.


"Nggak, Pah. Aku nggak mau ngerusak kebahagiaan orang lain cuma buat ngebahagiain diri aku sendiri. Nggak! Lagian aku udah muak dengan semua kebohongan ini, Pah. Aku mau jujur sama Fahmi kalo aku nggak kuliah di Mesir, aku mau jujur sama dia soal semuanya, Pah," tolak Tiwi lagi dengan tegas.


Ibunya tersenyum setuju mendengar itu, mendukung keputusan Tiwi untuk jujur terhadap Fahmi.


"Itu bagus, Nak. Itu baru benar, buat apa berbohong yang pada akhirnya cuma nyiksa diri sendiri aja. Lebih baik jujur, yang akan membuat hati kita tenang. Katakanlah kebenaran, walaupun itu pahit. Mamah mendukung kamu, Nak. Sangat mendukung," ucap sang ibu dengan tegas sambil menatap manik Tiwi yang berbinar terang.


"Kalian ini gimana, sih? Papah cuma mau yang terbaik buat kamu, Nadia. Alfin itu laki-laki yang mapan, kaya, nggak akan habis uang yang dia punya. Apa kamu nggak mau hidup enak, banyak uang, tanpa harus bekerja. Cukup diam di rumah menunggu kedatangan suami. Kamu nggak mau kayak gitu?" ucapnya kecewa.


Ia menatap anaknya lekat-lekat, menegaskan lewat sorot mata bahwa apa yang dia ucapkan adalah benar.


"Kalo kamu kasih tahu Fahmi, itu sama saja kamu mempermalukan Papah. Kamu mau Papah kamu ini jadi gunjingan orang-orang? Jadi bahan omongan mereka, jadi olok-olokan mereka semua? Kamu mau begitu? Lagian belum tentu juga si Fahmi itu mau nerima kamu. Yang ada kamu akan kehilangan semuanya. Hilang kesempatan buat kamu untuk jadi bagian anggota dari keluarga terpandang itu. Ngerti!" bentaknya lebih mementingkan gengsi daripada keluarga.


"Papah egois, jujur itu nggak akan mempermalukan Papah. Justru itu langkah yang baik untuk dilakukan, daripada terus menerus berbohong. Mamah setuju sama Nadia untuk mengatakan yang sejujurnya pada mereka. Mamah akan mendukungnya, Pah," ucap sang istri yang bertolak belakang dengan keinginannya.


Laki-laki itu menggeram, tangannya yang mengepal bergetar, menunduk menghindari tatapan sang istri. Bisa saja meja di hadapan mereka itu terbelah ketika ia memukulkan tangannya pada benda itu.


"Lagian, Pah. Belum tentu Alfin mau menerimanya. Papah nggak denger, mereka itu udah mau nikah. Janganlah Papah memaksakan keinginan Papah itu. Sadarlah, Pak. Papah udah dibutakan dunia hingga lupa di mana Papah berjalan. Setiap hari berdakwah memberikan nasihat pada semua orang, tapi lupa memberi nasihat pada diri sendiri. Berhentilah berdakwah, Pah. Kalo sikap Papah masih seperti ini. Malu sama Allah, Pa. Ya Allah!" Ia menangis, menyesali sikap suaminya yang semakin jauh dengan Tuhan.

__ADS_1


Tiwi tersentuh, dihampirinya wanita itu seraya memeluknya. Dia memang wanita yang baik, contoh sempurna untuk seorang istri. Tiwi akan membenahi diri, meniru sikap sang mamah juga akan lebih mendengarkan nasihatnya.


"Terserah!" Laki-laki itu bangkit dengan cepat, pergi meninggalkan ruang keluarga yang selama ini selalu terasa hangat. Menyisakan dua wanita yang menangis saling memeluk dan menguatkan.


__ADS_2