
Ketiga orang itu masih duduk di ruang tamu setelah kepergian tamu mereka. Melakukan sidang terhadap seorang pemuda yang duduk dengan tenang di hadapan kedua orang tuanya. Wanita di sana melirik sang suami, kemudian menghela napas.
"Jadi, kamu menolak dijodohkan?" tanya sang kepala keluarga dengan pembawaannya yang tenang.
Alfin menghela napas, masih menatap layar ponsel setelah mengirimi Naina pesan. Perlahan mengangkat kepala, menyapa wajah sepuh sang ayah.
"Kalo buat urusan pasangan, biar Alfin yang nentuin sendiri, Abi. Siapa yang akan Alfin nikahi dan jadikan istri. Dia wanita shalihah, pantas dapat laki-laki yang sholih yang sepadan dengannya. Bukan Alfin, mantan berandalan yang nggak kenal agama," tutur Alfin menatap lekat kedua manik tua di hadapannya.
Laki-laki bersorban putih itu mendesah, sadar betul dari dulu Alfin adalah anak yang tidak ingin dikekang dengan aturannya. Bungsu dari keluarga terpandang itu, punya cara sendiri untuk menentukan hidupnya.
"Tapi kenapa nggak dicoba dulu, Nak? Nadia itu sangat mengerti agama, sudah pasti dia akan bisa membimbing kamu kelak. Kamu mau perempuan yang seperti apa lagi buat jadi istri kamu, Alfin?" sahut sang ibu dengan wajah memelas meminta lewat sorot mata agar anaknya mau menerima.
Alfin kembali menghela napas, menatap layar ponsel di mana gambar Naina terpampang sedang membantunya membagikan makanan kepada anak-anak.
"Alfin udah punya pilihan sendiri, Mi. Kalo Umi sama Abi mengizinkan, Alfin akan bawa dia ke hadapan Umi sama Abi. Yah, mungkin dia bukan lulusan sekolah ternama di Mesir kayak gadis tadi. Atau bahkan pendidikannya nggak sampai selesai, tapi dia lulus secara nyata sebagai seseorang yang peduli dengan sesama. Alfin menyukai kesederhanaannya, Mi," ungkap Alfin sambil tersenyum bersemu.
Melihat rona merah di pipi sang putra, kedua paruh baya itu lantas mengerti ada kebahagiaan yang terpancar di wajah anaknya ketika ia bercerita tentang gadis tersebut.
Keduanya saling pandang tanpa Alfin perhatikan, menghela napas berat karena harus memutuskan untuk menyetujui pilihan anaknya.
__ADS_1
"Yah, semua itu emang nggak masalah. Yang penting dia mengerti kewajiban-kewajiban sebagai seorang istri. Umi sama Abi juga nggak bisa maksa kamu kalo emang kamu udah punya pilihan, cuma sayang aja Nadia kalo sampai nggak bisa jadi bagian keluarga kita," ungkap sang ibu sembari melirik suaminya.
Alfin mengulas senyum, memandangi wajah keduanya yang sudah tampak tua.
"Coba aja ta'aruf sama bang Fahmi. Dia, 'kan, lulusan Mesir juga. LC gelarnya, mereka seimbang bisa bersama-sama menyebarkan dakwah agama Islam. Jadi, dia nggak akan ke mana-mana dan tetap jadi keluarga kita," saran Alfin dengan yakin.
Mendengar nama tersebut, suami istri di hadapannya manggut-manggut. Fahmi adalah kakak sepupu Alfin, pengurus pondok pesantren keluarganya yang belum menikah setelah menyelesaikan pendidikannya di Mesir. Dia pun seorang dosen di universitas ternama di kota tersebut.
"Yah, nanti Abi saranin ustadz Ghofur biar mendatangi pondok Fahmi. Sekarang, kapan kamu mau bawa calon istri kamu itu ke hadapan kami? Ingat, Nak. Berpacaran itu nggak dibenarkan oleh agama. Apalagi kalo kalian sering berkhalwat berdua. Itu nggak baik," ingat sang ayah yang tak ingin anaknya terjerumus ke dalam dosa zinah.
"Insya Allah Alfin ingat, Abi. Nanti Alfin omongin dulu sama dia. Soalnya kami cuma deket aja karena tempat kerjanya di seberang masjid Alfin. Alfin belum membahas sampai jauh apalagi ke pernikahan, kami juga ketemu dan ngobrol di hari Jum'at aja. Dia sering bantu Alfin bagi-bagi sedekah buat anak-anak," sahut Alfin sambil tersenyum saat membayangkan Naina bercengkerama dengan anak-anaknya.
Mereka mengangguk-anggukan kepala, ada cinta yang harus segera disucikan dengan ikatan pernikahan di sorot mata pemuda itu. Mereka mengerti, dan rasanya tidak mungkin melarang seseorang untuk jatuh cinta.
Dia tidak punya pekerjaan untuk menghidupi mereka, tapi juga tidak pernah meminta uang kepada kedua orang tua. Mereka bertanya-tanya dari mana sumber keuangan yang didapatkan Alfin.
"Insya Allah, Abi, semua kebutuhan mereka sangat tercukupi. Sekolah mereka terjamin, perut mereka terjaga. Alfin minta doanya aja mudah-mudahan usaha yang sedang Alfin rintis selalu berjalan lancar," pinta Alfin dengan kesungguhan hatinya.
Kedua paruh baya itu tersenyum puas mendengarnya. Anak yang dulu sempat hilang, sekarang pulang membawa kejutan.
__ADS_1
"Emang kamu punya usaha apa? Kok, kami nggak tahu, Nak?" tanya sang ayah sedikit terkejut mendengar Alfin memiliki usaha sendiri.
"Yah, cuma kecil-kecilan aja, Bi. Toko matrial, bahan bangunan. Itu juga bukan Alfin yang jaga, orang-orang yang nggak punya kerjaan tetap sebelumnya yang membantu Alfin mengurus toko," jawab pemuda itu sambil tersenyum mengingat senangnya mereka ketika dirangkul Alfin untuk membantu mengurus tokonya.
"Maa syaa Allah! Ternyata anak Abi udah dewasa, kamu bahkan lebih mulia daripada Abi, Nak. Mengurus anak-anak yatim, membuka lapangan kerja buat yang membutuhkan. Diam-diam punya tabungan untuk akhirat. Abi sama Umi bangga sama kamu."
Keduanya tersenyum bangga, terbesit rasa sesal di hati sang ayah bila mengingat dulu dia pernah mengusir Alfin dan bahkan enggan mengakuinya sebagai anak karena tingkah laku dan perbuatan Alfin yang kerap meresahkan mereka. Pemuda itu tersenyum mengaminkan dalam hati.
"Maafin Abi, Alfin. Abi menyesal karena dulu pernah ngusir kamu dari rumah. Sekarang kamu sudah membuktikan kalo kamu sama berharganya seperti anak-anak Abi yang lain. Maafin Abi, Nak. Abi sangat menyesal," ungkap sang ayah sambil menitikan air mata.
Laki-laki paruh baya itu menunduk sambil mengusap matanya menggunakan sorban. Sang istri di samping turut bersedih, mengusap punggungnya dengan lembut. Alfin tersenyum, berdiri dan kemudian duduk di antara mereka.
Kedua tangannya membentang merangkul bahu mereka, mengecup kepala dua orang tua itu secara bergantian.
"Alfin nggak marah, Alfin juga nggak benci, apalagi dendam. Alfin menyadari perbuatan Alfin dulu emang selalu bikin Umi sama Abi malu. Alfin juga nyesel, Abi. Karena itu Alfin sedang menebus semua dosa-dosa Alfin di masa lalu dengan memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang kurang beruntung semampu Alfin. Alfin minta maaf, Alfin cuma meminta ridho kalian untuk jalan yang Alfin tempuh sekarang ini."
Mendengar penuturan putra mereka, kedua orang tua itu memeluk tubuh Alfin. Menciumi anak mereka yang pernah jauh dari rumah, bahkan agama. Apa yang dilakukan Alfin sekarang, bukan hanya akan berdampak terhadapnya seorang, tapi juga terhadap mereka sebagai orang tuanya.
"Makasih, Nak. Makasih, sayang. Umi sayang sama kamu."
__ADS_1
"Yah, Abi juga."
"Alfin juga sayang sama kalian."