
Di dalam rumah sakit, di tempat yang sama, Habsoh dan Khadijah masih berbincang dengan asik. Tentang apa saja, bahkan hal remeh sekali pun.
"Mbak Khadijah ini abis cek kandungan di sini?" tanya Habsoh, mereka terlihat akrab walau baru beberapa jam saling mengenal.
"Bukan, Mbak. Ibu saya dirawat di sini," jawab Khadijah kembali terlihat muram mengingat wanita tua itu yang tidak mengalami perubahan.
"Oh, maa syaa Allah. Sakit apa ibunya?" Habsoh memekik pelan, menilik raut wajah Khadijah yang tak lagi tersenyum.
"Yah, biasa. Namanya juga udah tua." Kakak Alfin itu tersenyum, menyembunyikan kesedihannya yang mendalam.
Habsoh mengangguk-anggukkan kepala, memaklumi jika memang keadaannya begitu.
"Mudah-mudahan ibunya Mbak Khadijah lekas sembuh."
"Aamiin."
****
Di parkiran, mobil Adrian menepi. Tergesa keduanya keluar dan terus berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Naina! Pelan-pelan, sayang! Jangan berlarian!" ingat Adrian melihat Naina yang berlari di dalam lorong rumah sakit.
"Ayo, Pah. Kasihan Mamah sendirian." Naina menghentikan langkah, menunggu Adrian mendekatinya. Berjalan berdampingan menuju lokasi Habsoh berada.
"Pah, emangnya Mamah sakit apa? Kok, kelihatannya sehat aja," tanya Naina sambil mendongak menatap wajah Adrian di sampingnya.
Adrian menarik napas, menundukkan kepala saat teringat pada sakit yang diderita sang istri. Semua itu disebabkan olehnya, sakit yang dialami Habsoh semua karena Adrian.
"Mamah menderita trauma yang berkepanjangan. Dulu, mamah sering nangis sendirian, ngamuk-ngamuk, bahkan mau bunuh diri. Semua itu karena Papah, tapi semenjak ada kamu tinggal di rumah. Papah lihat dia lebih tenang dan lebih sering tersenyum. Makasih, ya, sayang." Adrian mengusap kepala Naina, seperti halnya dia yang mengalami trauma atas kejadian malam itu.
Naina dapat melupakannya sedikit demi sedikit berkat kehadiran Adrian. Juga kasih sayang dan perhatian yang keduanya berikan dengan sangat tulus. Naina tak akan pernah melupakan semua itu, dia akan membantu Habsoh sembuh dari traumanya.
"Mudah-mudahan Mamah bisa sembuh," ucap Naina dengan tulus.
"Aamiin."
__ADS_1
Keduanya tersenyum dan terus menyusuri lorong rumah sakit yang seolah-olah tiada berbatas.
"Pah, Mamah nggak sendirian," gumam Naina ketika melihat kedua wanita duduk di bangku yang sama. Mereka terlihat akrab dan asik berbincang.
"Iya, itu tadi wanita yang Mamah tolong karena perutnya sakit," jawab Adrian teringat saat sebelum dia pergi membuntuti Anton.
"Tapi kayaknya Nai kenal sama perempuan itu." Naina menautkan kedua ujung alis melihat sosok yang memunggungi mereka. Dari caranya berpakaian, dari bentuk tubuhnya, dia tahu itu adalah kakak Alfin.
"Mamah!" Naina berhambur duduk di samping Habsoh, memeluk wanita itu dengan cemas dan tanpa segan lagi. Ia sudah membuang jauh-jauh rasa canggung yang selama beberapa hari dirasakannya.
"Sayang!" Hati Habsoh diliputi rasa haru mendapat pelukan tak terduga dari Naina.
Sementara Khadijah tertegun dengan kehadiran gadis itu. Gadis yang selama beberapa hari itu dicarinya ke segala tempat.
"Mamah nggak apa-apa? Maaf karena Mamah harus nunggu lama di sini," tanya Naina menatap lembut wajah Habsoh yang sedikit menegang karena terkejut.
Rasa hangat mengalir ke seluruh tubuh, merambah hatinya terus sampai pada kedua mata. Darahnya berdesir hebat, terus memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Mamah nggak apa-apa, sayang. Justru Mamah cemas sama kamu. Kata Papah kamu ke kantor polisi." Habsoh mengusap pipi Naina dengan lembut, kedua matanya memancarkan kecemasan yang tak dapat disembunyikan.
Mendengar kantor polisi, Khadijah teringat pada Alfin. Ia tersenyum lega, sudah pasti Naina telah bertemu dengan adiknya itu.
Naina yang hendak menjawab pertanyaan Habsoh, urung dan bersama-sama wanita itu menatap Khadijah. Dahi Adrian terlipat, tak menduga jika mereka saling mengenal satu sama lain.
"Kakak!" Naina tersenyum melihat wanita itu, ia berpindah tempat duduk, menyalami Khadijah dan memeluknya.
Adrian dan Habsoh saling menatap satu sama lain, keduanya nampak bingung melihat keakraban mereka. Namun, Habsoh tersenyum, mengingat Khadijah adalah perempuan yang baik sepanjang obrolan mereka.
Khadijah melepas pelukan, menangis bahagia karena pada akhirnya dapat menemukan Naina.
"Kamu udah tahu tentang Alfin?" tanya Khadijah dengan getir.
Naina menganggukkan kepala, semua itu berkat polisi muda yang datang menemuinya dan memberitahu semua tentang Alfin.
"Aku dari sana, Kak. Aku udah ceritain semuanya sama polisi. Mudah-mudahan bisa membebaskan Alfin dari penjara. Papah juga punya bukti kalo yang terjadi malam itu adalah rencana jahat seseorang," jawab Naina meyakinkan Khadijah lewat sorot matanya.
__ADS_1
Kakak Alfin memeluknya, bersyukur dan berharap semoga Alfin dapat terbebas dari kurungan.
"Makasih, ya. Kakak nyariin kamu ke mana-mana, tapi ternyata Allah punya rencana yang lebih baik. Makasih," ungkap Khadijah lirih.
Adrian menelisik kedua wanita yang saling berpelukan di depan mata, mendengar nama Alfin dia bertanya-tanya apa hubungan wanita berhijab itu dengannya.
"Maaf, kalo boleh tahu Mbaknya ini siapa Alfin?" tanya Adrian.
Khadijah melepas pelukan, berpaling pada papah Naina sambil tersenyum haru.
"Saya kakak Alfin. Beberapa hari ini saya mencari Naina untuk dapat membantu Alfin yang ditangkap polisi karena kasus malam itu. Saya hampir putus asa karena nggak bisa nemuin dia, tapi ternyata Allah memberitahunya lewat cara lain. Saya bersyukur dan semoga kehadiran Naina bisa membebaskan Alfin," ungkap Khadijah tak kuasa menahan keharuan.
Habsoh melihat cinta yang besar di kedua mata basah itu. Cinta yang begitu tulus, kasih sayang persaudaraan yang tak dapat dipisahkan. Namun, ia tak tahu siapa Alfin yang mereka bicarakan.
"Itu sudah kehendak Allah," sahut Adrian.
"Siapa itu Alfin? Ada kejadian apa di malam itu?" tanya Habsoh dengan gurat bingung yang jelas terlihat.
"Alfin itu calon suami Naina yang nggak sengaja membunuh orang karena menyelamatkannya, Mah," jawab Adrian menyambar lebih dulu lisan Khadijah dan Naina yang baru saja hendak berucap.
Habsoh memutar bola mata dari suaminya pada Naina. Gadis itu mengangguk membenarkan ucapan papahnya.
"Astaghfirullah al-'adhiim. Kalo gitu kita harus bantu dia supaya bisa keluar dari penjara, Pah. Kasihan, dia nggak sengaja membunuh orang," pekik Habsoh.
Hatinya bergetar, takdir apa yang menimpa pada Naina? Berdoa dalam hati semoga semuanya dapat selesai dengan baik dan tanpa hambatan.
"Papah udah serahin bukti sama polisi, Mah. Mudah-mudahan aja bisa membantu," jawab Adrian bergeming pada posisi berdiri.
Khadijah merasa lega, Naina dapat menemukan keluarga baru yang begitu baik dan penuh perhatian. Ia belum mengetahui bahwa Adrian adalah ayah biologis Naina. Hanya menduga jika mereka adalah orang tua angkat gadis itu.
"Makasih, ya, kalian udah bantuin Alfin." Khadijah memandangi ketiga orang itu, "tadi kalian bilang ada bukti? Apa?" lanjutnya bertanya penasaran.
Adrian memperlihatkan video dalam ponselnya pada Khadijah. Tercengang wanita itu melihat sekaligus mendengar percakapan kedua orang di sana.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Laa haula walaa quwwata illaa billaah! Ja-jadi, mereka otak perencana kejadian malam itu?" pekiknya tak percaya.
__ADS_1
"Iya, Kak."
"Allahu Akbar! Aku nggak nyangka, benar-benar nggak nyangka. Ya Allah!"