
"Naina? Kamu ini Naina, 'kan?" tegur seorang laki-laki dengan nada mengejek.
Wanita yang tengah memainkan ponsel itu menoleh dengan dahi berkerut. Kemudian tersenyum manis, menyambut sapaannya.
"Iya, kenapa? Kamu masih ngenalin aku?" tanya Naina dengan santai meskipun jelas-jelas laki-laki itu memandang remeh padanya.
"Yah, hampir aja nggak ngenalin, sih. Karena kamu pake kerudung sekarang. Ngomong-ngomong ngapain kamu di sini ... ooo."
Naina berjengit manakala bibir laki-laki itu membentuk bulatan sempurna.
"Aku tahu, kamu pasti mau cek kandungan kamu, 'kan? Hhmm ... kira-kira siapa, ya, bapaknya? Aku yakin kamu sendiri nggak tahu siapa bapak anak di kandungan kamu itu, 'kan? Hmm ... kasihan, ibunya nggak bener anaknya juga sama." Dia mencibirkan bibir mengejek Naina.
Kesal? Marah? Tentu saja, tapi kalimat Alfin yang akan melindunginya terngiang di telinga. Membuat Naina dapat mempertahankan sikap tenangnya.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Kamu pikir bisa memprovokasi aku? Nggak lah, ya. Sorry!" Naina melengos sembari mengibaskan tangannya, kembali bermain ponsel mencoba untuk tidak terpancing.
Oh, ibu ... pinjami aku kekuatanmu. Yang sebenarnya dalam hati.
Laki-laki itu menggeram marah, mengepalkan kedua tangan kesal. Mengumpat dalam hati karena tak dapat memprovokasi Naina sama sekali, yang ada dia emosi sendiri.
"Sayang. Ngapain, sih? Siapa lagi perempuan ini? Kamu kenal dia?" Suara seorang perempuan genit menyeruak dengan manja. Melirik Naina tak senang, tapi wanita itu tak acuh.
"Oh, kenal, dong. Kamu tahu siapa dia? Dia itu perempuan yang pernah aku ceritain dulu. Yang anak haram itu, bapaknya nggak jelas siapa. Terus sekarang lagi hamil nggak tahu juga siapa bapaknya." Dia melirik tajam pada Naina, tapi istri Alfin itu tak mengindahkan ejekannya.
Naina menghela napas pelan, mencoba untuk tetap bersikap tenang.
Puasa, Nai. Puasa. Puasa hati dari amarah, puasa mulut dari mencaci. Diam, ingat kata suamimu diam itu jawaban yang tepat untuk membungkam mereka yang banyak bicara.
Lagi-lagi kalimat Alfin menjadi penenang. Membuat Naina yakin harus melakukan apa.
"Oh, jadi ini perempuan itu. Dia alim juga, ya. Pake kerudung gede udah kayak ustadzah-ustadzah aja. Nggak tahunya, hamidun nggak jelas lagi bapaknya-"
"Siapa yang nggak jelas bapaknya?" sentak Alfin kebetulan tiba di sana. Ia bersama Ahmad dan Aminah yang juga secara sengaja datang ke rumah sakit tersebut. Naina menunduk, tersenyum lega.
Kedua insan penista itu menoleh, menatap Alfin dengan kerutan di dahi. Bersamanya Ahamd dan Aminah menatap tajam dua manusia itu.
__ADS_1
"Siapa kamu? Kelihatannya kamu orang baik-baik, nggak mungkin kamu suami perempuan sundal ini, 'kan?" Laki-laki itu tersenyum mengejek.
Plak!
Plak!
Dua kali tamparan mendarat sangat keras di kedua pipi laki-laki itu. Dia meringis, cairan merah merembes dari salah satu sudut bibirnya. Alfin tersenyum mengejek, tanpa kata mendekati Naina yang masih terduduk di kursinya.
"Al-khabiitsaatu lil-khabiitsiina wal-khabiitsuuna lil-khabiitsaati. Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula)," sarkas Alfin membacakan satu potongan ayat Al-Qur'an sembari melemparkan tatapan tajam pada laki-laki itu.*
Ia menjulurkan tangannya pada Naina, dan mengangkatnya untuk beranjak dari kursi. Menautkan jemari mereka menunjukkan bahwa wanita yang dihinannya memiliki seseorang yang siap berdiri di depan untuk melindunginya.
"Pantaslah Allah jauhkan kamu dari wanita suci ini, karena sifat dan lisan kamu yang nggak terjaga membuktikan bahwa kamu emang nggak pantes untuk perempuan baik-baik manapun. Setiap ucapan akan kamu temui pertanggungjawabannya di akhirat nanti, bahkan kamu bisa melihatnya langsung di dunia ini." Alfin tersenyum, menyayangkan sikap mereka yang arogan.
Laki-laki itu meringis sambil memegangi pipinya. Geram, tapi tak dapat melakukan apapun untuk melawan.
"Ayo, Humairah. Ada banyak debu di sini yang bisa mengotori pakaian suci kamu." Alfin mengajak Naina pergi, berpindah tempat duduk.
Wanita itu tersenyum, mengikuti langkah sang suami tanpa melirik pada laki-laki yang telah mencibirnya. Ia mendekap lengan Alfin, merasa aman berada di sana.
Mereka berdua bungkam tak mampu berkata-kata. Kesal? Sudah pasti. Marah? Jelas, dia marah sekali.
"Kenapa kamu diem aja coba? Mereka mengejek kita tadi," rengek wanita yang bersamanya sambil menghentakkan kaki di lantai.
Laki-laki itu hanya berdecak, mengibaskan tangan si wanita seraya berbalik dan pergi meninggalkan rumah sakit membawa kekalahannya.
"Sayang! Tunggu! Kok, aku ditinggalin, sih!" Dia cepat-cepat menyusul, bibirnya yang dipoles gincu semerah cabai itu memberengut maju ke depan.
****
"Mas, makasih, ya. Mas dateng tepat waktu. Aku nggak tahu apa bisa bertahan kalo Mas datang lebih lambat tadi," ucap Naina menjatuhkan kepala di bahu Alfin.
Laki-laki itu merangkul bahunya, mengecup ubun-ubunnya dengan mesra.
"Nggak usah dipikirin, nanti bisa mengganggu kandungan kamu. Pikirin aja anak kita." Alfin mengusap-usap bahu sang istri tersenyum menguatkan hatinya.
__ADS_1
"Iya, Nak. Yang kayak tadi-tadi itu nggak usah dipikirin. Mereka cuma orang-orang yang kurang kerjaan dan suka cari masalah." Aminah menimpali sambil menggenggam tangan Naina.
Ia melepaskan diri dari Alfin dan memeluk wanita tua itu.
"Iya, Umi. Makasih," ucap Naina getir.
Suaranya bergetar karena rasa haru yang memenuhi hatinya. Ada banyak orang yang peduli dan sayang padanya. Dia tidak lagi sendirian, tidak perlu lagi memendam kesakitan sendiri.
"Ibu Naina!"
Panggilan suster mengakhiri keharuan mereka.
"Ayo, masuk!" Alfin beranjak lebih dulu, disambut Naina dengan sukacita. Keduanya masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan.
"Masih muda, ya. Baru tiga Minggu usia kandungan Ibu. Jangan sering-sering melakukan pekerjaan berat terlebih dahulu, istirahat yang cukup dan usahakan jangan stress," ucap dokter kandungan sambil tersenyum ramah.
"Makasih, Dokter." Alfin antusias menjawab.
"Ini ada vitamin yang harus Ibu minum secara rutin. Bisa ditebus di farmasi, ya. Silahkan!"
Alfin mengambil kertas tersebut seraya mengucapkan terima kasih. Lalu, beranjak bersama Naina meninggalkan ruangan pemeriksaan.
"Gimana?" Aminah menyambar penuh semangat.
"Baru tiga Minggu, Mi. Insya Allah sehat," jawab Alfin.
"Alhamdulillah." Aminah melirik Ahmad, suaminya itu menganggukkan kepala penuh syukur.
Alfin pergi ke bagian farmasi, sedangkan Naina mengikuti Aminah dan Ahmad keluar. Dengan hati yang diliputi kebahagiaan, mereka kembali ke rumah dalam keadaan penuh syukur.
Alfin menautkan jemari, menciumi punggung Naina penuh cinta.
Makasih, Ibu, karena selama ini Ibu sudah kuat merawat Naina. Ibu sudah mengajari Naina sabar, Ibu juga mengajari Naina untuk ikhlas. Semoga Ibu mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin.
****
__ADS_1
*Qur'an surat An-Nur ayat 26