
Setelah menerima panggilan dari sang ibu, Alfin berpamitan kepada pak ustadz dan juga anak-anak. Ia pulang ke rumah dengan menaiki sepeda motornya segera. Di sepanjang perjalanan berpikir apa yang akan dibicarakan sang ibu padanya.
Motor Alfin memasuki sebuah pintu gerbang, dan berhenti di halaman sebuah rumah yang tidak sederhana. Pepohonan tumbuh dengan rimbun, meneduhkan pemiliknya. Ia turun dan berjalan pelan menuju teras rumah.
Alfin mengernyit ketika melihat ada banyak sandal juga sepatu di teras. Ia melirik ke belakang, sebuah mobil asing terparkir di depan garasi.
"Assalamu'alaikum!" ucap Alfin seraya masuk ke dalam rumah.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang serba tertutup mengejarnya. Menyambut Alfin dengan sebuah pelukan, juga ciuman di pipi.
"Wa'alaikumussalaam. Akhirnya anak Umi pulang juga," katanya dengan senang.
"Ada apa ini, Umi? Kayaknya lagi ada tamu?" tanya Alfin melirik ruang tamu yang dipenuhi orang-orang.
"Oh, iya. Ada teman Abi dari pondok pesantren mau silaturahmi. Ayo, Umi kenalin." Ia mengajak Alfin memasuki ruang tamu, duduk dengan sopan di hadapan satu keluarga lainnya.
"Ini Nak Alfin, ya?" tanya seorang laki-laki paruh baya yang usianya di bawah ayah Alfin sembari menunjuknya dengan senyum sumringah.
"Iya, Pak Ustadz. Saya Alfin." Pemuda itu menyalaminya, seraya menangkupkan kedua tangan di dada pada dua wanita lain.
Ia duduk di samping sang ibu, setelah menyalami laki-laki sepuh bersorban putih yang tak lain adalah ayahnya.
"Maa syaa Allah, ganteng banget Nak Alfin ini. Sopan lagi, nggak salah kita datang ke sini, Mi," ujar laki-laki itu sembari melirik sang istri juga wanita muda berhijab yang menunduk malu-malu.
"Makasih, Pak Ustadz. Saya biasa-biasa aja," ucap Alfin merendah.
"Ah, iya. Ini Nadia, dia anak bungsu kami." Ia memperkenalkan gadis itu kepada Alfin.
Tak sesuai harapan, respon Alfin biasa saja nyatanya. Ia sedikit kecewa tentu saja, tapi menahannya agar tidak tampak di wajah. Sementara gadis itu mengangguk sopan saat diperkenalkan.
"Dia hafidzoh, lho. Lulusan Mesir. Prestasinya juga bagus, calon istri idaman pokoknya," bisik sang ibu di telinga Alfin.
__ADS_1
Pemuda itu menghela napas, apapun jenisnya ... hatinya sudah terlanjur memilih Naina. Alfin tidak berniat mencari perempuan lain untuk menjadi istrinya.
"Kalo Umi panggil Alfin pulang cuma buat dijodohin, maaf, Mi. Alfin udah punya pilihan sendiri." Jawaban Alfin membuat senyum di bibir wanita itu surut.
Mereka memang merencanakan perjodohan Alfin dengan gadis berhijab itu. Sayangnya, Alfin telah menetapkan pilihan pada Naina.
****
Sore hari, Naina memutuskan mendatangi masjid. Berharap akan bertemu Alfin atau mendapat kabar tentangnya. Lagi-lagi, masjid itu sepi. Suara-suara yang terdengar bukanlah dari dalam masjid, melainkan dari bangunan yang berada di belakang rumah Allah itu.
Naina menghela napas, seusai sholat ia mendekati gerbang asrama. Di depan bangunan tersebut duduk semua anak dengan rapi dan tertib. Di hadapan mereka seorang laki-laki paruh baya bersorban hijau mengajari mereka mengaji.
Hati Naina mencelos, apa Alfin sama saja seperti laki-laki lainnya? Yang memberikan harapan setinggi-tingginya, untuk kemudian menghempaskannya begitu saja.
Ia berbalik hendak pergi, tapi panggilan dari guru rohani Alfin mengurungkan niatnya. Naina berbalik dan melihat wajah teduh di sana sedang tersenyum padanya. Tangan laki-laki itu melambai lembut memintanya untuk datang.
"Kemari, Nak!" pintanya, seraya melayangkan tatapan pada semua anak, "kalian ngaji sendiri dulu, ya. Bapak ada tamu sebentar." Ia berpamitan pada semua anak.
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalaam!"
Laki-laki tersebut keluar dari teras dan meminta Naina mengikutinya. Menuju sebuah gazebo yang tak jauh dari asrama. Naina duduk dengan segan, kepala menunduk malu.
"Kamu pasti cari Alfin, betul?" tanya pak ustadz dengan suaranya yang teduh lagi menenangkan.
Naina mengangguk tanpa berani mengangkat wajah. Bersiap lisannya menyahut, tapi kelu tiba-tiba. Jadilah ia mengunci mulutnya rapat-rapat, takut salah dalam mengucap kata.
"Nggak usah mikir yang macem-macem. Alfin baik-baik aja, dia diminta pulang sama ibunya ke rumah. Katanya udah lama nggak pulang, jadi ibunya kangen sama dia. Nanti saya sampaikan sama dia kalo kamu datang mencari supaya dia menghubungi kamu langsung, ya," ungkap pak ustadz dengan wibawanya yang tetap mengalir teduh.
Naina kembali mengangguk, niat ingin bertanya di mana rumah pemuda itu, hilang entah ke mana.
__ADS_1
"Makasih, Pak Ustadz. Kalo gitu saya permisi dulu, assalamu'alaikum," ucap Naina seraya menunduk di depan laki-laki itu sambil menangkupkan kedua tangan di dada.
"Wa'alaikumussalaam. Hati-hati, dan ingat kamu nggak boleh lengah. Ingat terus sama Allah, minta perlindungan kepada-Nya. Yang paling penting, sabar," ingat pak ustadz.
Naina mengangguk lagi, seraya turun dari gazebo dan pergi dengan hati yang lega sekaligus bingung memikirkan ucapan pak ustadz yang terakhir. Naina menemui Asep di tempat kerjanya, menunggu sampai laki-laki itu selesai mengganti pakaian.
"Paman. Paman tahu nggak di mana rumah Alfin?" tanya Naina memberanikan diri untuk bertanya kepada pamannya saat di perjalanan.
Ia menggigit bibir, gugup secara tiba-tiba.
"Waduh, Paman nggak tahu. Soalnya ketemu sama nak Alfin di masjid itu," jawab Asep membuat Naina mendesah.
"Kenapa? Emang akhir-akhir ini Paman juga nggak lihat nak Alfin di masjid. Dengar-dengar tiga hari yang lalu, ada yang membegal dia di jalan waktu abis nganterin kamu pulang," ucap Asep.
Naina membelalak, ia sama sekali tidak mendengar berita itu. Rasa cemas seketika memenuhi relung hatinya, berdecak tanpa suara ingin segera tiba di rumah.
"Kamu tenang aja, kata pak ustadz dia nggak kenapa-napa. Malah begalnya itu yang dibikin babak belur sama dia. Hebat, 'kan? Kalo nanti kamu sampai nikah sama dia, Paman senang banget. Paman sama Bibi pasti tenang ninggalin kamu," ucap Asep lagi mengaminkan ucapannya sendiri di dalam hati.
Naina tersipu, mengucap kalimat aamiin tanpa suara. Motor tiba di depan rumah, Naina bergegas masuk dan menemui sang bibi sebelum menuju kamarnya.
Ia membanting diri di dipan kayu, mengeluarkan ponsel menghubungi Alfin. Satu, dua, tiga kali Alfin tidak menjawabnya membuat hati Naina semakin cemas.
"Ck. Alfin, ayo angkat, dong. Aku mau denger suara kamu. Please!" Ia meremas benda pipih di tangan, mengetik pesan dengan lihai dan mengirimnya kepada Alfin.
"Ya Allah. Mudah-mudahan dia nggak kenapa-napa," mohonnya masih setia menatap ponsel.
Naina mendesah saat panggilannya tak kunjung terjawab juga pesan yang dikirimnya tak terbalas. Ia membanting tangan ke atas kepala, menatap langit-langit kamar dengan hati yang gundah.
Beberapa saat termenung, sebuah nada dering pesan berbunyi menyentak lamunannya. Ia gegas beranjak duduk memandangi si pengirim pesan.
Tunggu, ya. Nanti aku telpon.
__ADS_1
Hanya singkat saja, sudah membuat hati Naina menjadi tenang. Ia kembali menjatuhkan tubuh di kasur, berkedip-kedip melihat pesan yang baru saja dikirimkan Alfin. Lalu, menghela napas dan mencoba untuk menenangkan diri.