Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 176


__ADS_3

"Sah?" tanya pak penghulu setelah Yusuf mengucapkan kalimat qabul dengan lancar tanpa hambatan.


"Sah!"


"Sah!"


"SAH!"


Sahut menyahut para saksi dan orang-orang yang hadir dalam acara sakral itu menjawab pertanyaan pak penghulu.


"Baarakallaah lakumaa wa baaraka 'alaikumaa wa jama'a bainakumaa fii Khoir."


Doa dilantunkan penghulu dan diaminkan jama'ah. Wajah Yusuf dibanjiri keringat, gugup secara tiba-tiba melanda terlebih saat ia melirik ke arah samping. Di mana mempelai wanita mengangkat tangannya khusyuk.


Segala proses akad pun berjalan lancar tanpa hambatan. Rekan-rekan kerja Yusuf heboh, mereka bahagia pada akhirnya jomblo akut itu mendapatkan pasangan.


"Mas, dilap keringatnya. Sini, Adek yang lap." Biya menarik sebuah tisu dan hendak mengusap keringat di wajah Yusuf, tapi laki-laki itu sedikit menghindar.


Biya terkekeh, gemas dengan tingkah suaminya yang malu-malu. Ia menarik wajah Yusuf dan membersihkan keringat yang terus bercucuran hampir tak berhenti. Yusuf mencekal tangan Biya, menatapnya dalam-dalam.


"Ada apa, Mas?" tanyanya menggoda. Suka sekali Biya melihat wajah itu memerah semerah kepiting rebus.


"Ng-ngak. Jantung Mas mau lompat, Dek." Yusuf meletakkan tangan Biya di dadanya. Degup jantung itu memukul-mukul tangan sang istri membentuk rona merah di pipinya yang putih mulus.


Biya menarik tangannya perlahan, memalingkan wajah dengan perasaan yang berkecamuk. Sementara Yusuf, meremas udara berpaling pula.


Kenapa hal tersebut terus berlaku, padahal mereka sudah menikah. Bagaimana nanti malam?


Ya Allah!


Yusuf membayangkan mereka berada di dalam satu kamar pengantin, mungkin dia akan pingsan karena penyakit sialan itu. Ia menarik berlembar-lembar tisu untuk mengusap keringat.


Pelaminan yang dulu diimpikannya kini ia duduki bersama sang istri. Menjadi raja dan ratu dalam sehari, dilayani oleh para dayang yang sigap berdiri di kanan dan kiri.


Mereka beranjak ketika para tamu undangan naik ke pelaminan untuk memberikan doa restu mereka. Yusuf, hanyalah seorang pria biasa-biasa saja yang memiliki cinta luar biasa.


"Suami kamu kerja apa, Biya?" Pertanyaan itu terlontar dari seorang wanita berpenampilan elegan. Dia teman bisnis Biya, sesama designer.


"Dia sekretaris, di mana suami kamu?" Biya menjawab dengan bangganya. Ia melirik Yusuf yang keki, merasa rendah diri di hadapan teman-teman sang istri.


"Dia sedang berbincang dengan kakak kamu. Selamat, ya." Ia melirik Yusuf dengan pandangan mencibir. Seolah-olah merendahkan pemuda yang baru saja memulai perannya sebagai tokoh suami.

__ADS_1


Biya melirik tak enak, dari sikapnya yang gelisah ia tahu Yusuf tersinggung oleh sikap mereka. Laki-laki itu duduk berpaling muka, terus mengusap keringat yang tak henti bermunculan.


Biya pula ikut duduk dan melingkarkan tangan di lengan Yusuf, menyandarkan kepala di bahu kekar itu. Menunjukkan cintanya yang besar.


"Nggak usah dipikirin sikap teman-teman Adek, ya. Mereka emang gitu, udah biasa. Pikirin Adek aja. Apapun kata mereka, cinta Adek nggak akan berubah sama Mas Yusuf," bisik Biya mengalun lembut hingga menyentuh relung hati terdalam Yusuf.


Laki-laki itu tertegun, menoleh kemudian. Bulir-bulir sialan itu kembali turun, membuat Biya terkekeh geli. Biya juga tak segan melayangkan kecupan di pipi laki-laki itu, memucat wajah Yusuf seketika.


"Dek ... jantung Mas, Dek. Duh, Mas kayak mau pingsan!" Napas Yusuf tersengal-sengal, dadanya naik dan turun merasakan sesak yang merebak di dalamnya.


"Mas, jangan bercanda. Nggak lucu tahu!" Biya memukul pelan dada suaminya yang bersandar di kursi. Wajah yang tiba-tiba pucat membuat Biya diserang kepanikan hebat.


"Aku nggak bercanda, Dek." Napas Yusuf terputus-putus semakin sesak.


"Kakak!" Biya memekik bergetar hampir menangis.


Fatih yang mendengar panggilan sang adik segera menoleh. Lalu, berlari dengan cepat melihat Yusuf yang kesulitan bernapas. Disusul Alfin juga Adrian yang ikut merasa panik.


"Astaghfirullah! Kenapa sama suami kamu?" pekik Fatih seraya membantu Yusuf untuk beranjak.


"Nggak tahu, Kak." Biya sudah meneteskan air mata, cemas dengan keadaan Yusuf.


"Istirahat dulu aja," sambar Alfin yang sigap ikut membantu Fatih membangunkan laki-laki itu.


"Dia punya penyakit aneh. Gugup berlebihan kalo dekat dengan perempuan." Alfin berbisik di telinga Fatih, memberitahu keadaan Yusuf yang sebenarnya.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Jadi begitu." Fatih menoleh pada adiknya.


Gadis itu menjadi gugup mendapat tudingan dari tatapan sang kakak.


"Kamu pasti menggodanya berlebihan," tuding Fatih membentuk rona merah di pipi Biya.


"Aku cuma gemas, Kak. Gemas!" sahut Biya tanpa merasa berdosa.


"Nggak apa-apa, Kak. Jangan marahin Biya. Aku cuma belum terbiasa aja." Suara Yusuf yang sudah sedikit normal melerai Fatih.


"Mas! Minum." Biya memberikan air yang dibawanya kepada Yusuf, ia juga membantu laki-laki itu meminumnya.


"Udah mendingan?" tanya Alfin yang juga sempat terlihat cemas dengan keadaan Yusuf.


"Alhamdulillah, udah, Bos. Nggak sesak kayak tadi."

__ADS_1


Alfin menggelengkan kepala, kemudian keluar bersama Fatih meninggalkan mereka berdua. Di luar sana, ada banyak jama'ah pengajian yang rutin datang ke masjid Alfin. Berkumpul dan berbincang tanpa diduga-duga.


Biya duduk di samping Yusuf, menjatuhkan tubuhnya pada dada laki-laki itu. Yusuf yang sudah sedikit tenang, merangkul bahu sang istri, dan mengecup ubun-ubunnya.


"Maaf, ya, Mas. Adek nggak tahu kalo Mas akan kayak tadi. Bikin panik tahu." Biya mengusap dada bidang Yusuf, menyesal karena sudah menggodanya dengan keterlaluan.


Yusuf tersenyum, kembali mencium kepala istrinya.


"Mas yang seharusnya minta maaf sama kamu. Gara-gara penyakit aneh Mas ini, kamu pasti malu sama semua tamu undangan terutama teman-teman kamu itu." Yusuf mengeratkan pelukan, ia mencoba untuk beradaptasi meski jantung terus berdegup tak beraturan.


"Nggak, Mas. Aku nggak malu sama sekali. Mas nggak usah berpikiran kayak gitu." Biya menelusupkan wajah di dada Yusuf. Dia tak ingin suaminya itu merasa rendah diri di hadapannya.


"Jantung Mas udah agak normal. Udah nggak apa-apa?" Biya meraba dada kiri Yusuf, tak sekencang tadi pukulan yang ia rasakan.


"Alhamdulillah, udah agak tenang. Mungkin udah sedikit terbiasa deket sama istri." Yusuf tersenyum lega.


Biya ikut tersenyum senang, semoga yang seperti tadi tak akan terulang lagi.


"Mas, kita mau bulan ke mana?" tanya Biya iseng.


Yusuf menghela napas, memberikan sebuah amplop yang disimpannya di saku kepada Biya. Pemberian Alfin.


"Ini dari si Bos. Mas nggak tahu isinya apa. Coba aja Adek buka," ucap Yusuf.


Biya menerima sambil beranjak dari tubuh suaminya, membuka amplop karena rasa penasaran. Benda itu tipis, apakah cek? Atau tiket liburan?


Membelalak kedua mata Biya, melihat isi di dalam amplop tersebut.


"Apa itu, Dek?" Yusuf bertanya penasaran.


Pipi Biya merona seketika.


"Ini tiket bulan madu ke lombok, Mas. Baik banget, sih, bos Mas itu. Royal sama karyawannya. Buat tiga hari lagi." Biya terlihat sumringah, sementara Yusuf tak dapat berkata-kata lagi.


Alfin sudah banyak memberinya, tapi ia merasa belum mampu membalasnya.


"Bos terlalu baik. Aku nggak tahu harus kayak apa berterimakasih sama dia." Yusuf membanting diri pada sandaran sofa.


Tak tahu lagi harus mengatakan apa untuk berterimakasih kepada suami Naina itu.


"Bos Mas itu nggak berharap dibalas dengan materi. Buktikan aja kalo Mas hidup dengan bahagia. Itu udah cukup," ucap Biya sambil tersenyum.

__ADS_1


Yusuf menghela napas, semua yang diucapkan istrinya itu memang benar. Alfin tidak mengharapkan balasan materi dari setiap orang yang dibantunya. Perlahan hatinya merasa damai berada di dekat Biya.


"Mas sayang kamu, Dek. Mas harap kamu nggak akan pernah berubah," ucap Yusuf penuh ketulusan.


__ADS_2