
Hari-hari berlalu, tiba acara resepsi pernikahan Naina dan juga Alfin yang digelar mewah di kediaman Adrian. Pintu rumah itu terbuka lebar untuk siapa saja. Tak hanya tamu penting yang terdiri dari kolega bisnisnya, para pejabat, rekan sejawat, tapi juga masyarakat biasa yang memiliki kasta di bawah mereka.
Mereka berbaur menjadi satu, tentunya dengan tempat jamuan yang berbeda demi menghormati privasi masing-masing. Naina begitu tampak cantik meski selembar kain niqab menuruti bagian mulutnya.
Salma tersenyum haru hasil rancangannya begitu pas melekat di tubuh orang tua asuh itu.
"Ibu cantik, ya. Walaupun ditutupi kayak gitu, ibu tetap cantik," celoteh Halwa memandang Naina dengan takjub.
Anak-anak Alfin mengisi pesta tersebut dengan lantunan ayat Al-Qur'an yang mereka baca sebagai estafet. Bergantian satu demi satu, tak terkecuali Halwa yang meskipun belum sefasih kakak-kakaknya.
"Perhatikan Al-Qur'anmu, Dek. Jangan sampai salah karena lihatin ibu terus," tegur Salma membuka bibir Halwa lebar-lebar.
Tak sedikit tamu yang mengagumi suara-suara merdu nan halus mereka. Setiap orang tahu, kesepuluh anak itu adalah anak-anak asuh Alfin yang dipungutnya dari jalanan.
"Aku nggak nyangka mereka semua memiliki suara yang merdu," ucap Naina menyanjung kesepuluh anak Alfin.
"Mereka punya bakat sejak lahir. Sayang, nggak punya orang tua atau keluarga. Atau mungkin sengaja dibuang karena nggak diinginkan," sahut Alfin terbayang masa-masa di mana ia menemukan mereka.
__ADS_1
Satu per satu terlunta-lunta di jalan. Tidur di emperan toko, di kolong jembatan, bahkan ada yang mengais rezeki di tempat pembuangan sampah. Kecuali Halwa yang ia temukan sejak bayi di sekitar masjid.
"Semoga mereka menjadi orang sukses di kemudian hari. Aamiin."
"Aamiin." Alfin menggenggam tangan Naina setelah menyambut doa sang istri.
****
Di Jakarta, Fatih dan keluarganya telah bersiap-siap sejak dini hari. Ia dan Rayan akan pergi menggunakan mobil yang berbeda karena ada Rani yang ikut bersama mereka.
"Di mana Aunty? Kenapa lama sekali?" Rayan melirik jam di tangan, mengernyit menatap jalanan menunggu kedatangan Biya.
"Itu mobil Aunty!" Fathya berseru ketika mobil Biya memasuki halaman rumah mereka.
"Berangkat sekarang?" tanya Biya tanpa menuruni mobilnya.
"Kamu mau bawa mobil sendiri, Biya? Perjalanan ini jauh, lho," tanya Fatih sedikit merasa cemas terhadap adiknya itu.
__ADS_1
"Iya, Kak. Aku udah biasa, kok. Nggak akan tertinggal. Aku nggak mau mengganggu mereka." Biya menggerakkan kepalanya menunjuk Rayan dan Rani.
Gadis itu tertunduk malu, terlebih saat senyum Biya terlihat menggoda karena mereka berpakaian serasi.
"Ya sudah. Ayo berangkat! Ingat, jangan tertinggal!" ingat Fatih seraya masuk ke dalam mobil setelah berpamitan pada ibu serta bi Sari.
"Kalian hati-hati, salam buat Naina. Maaf, ibu nggak bisa ikut," ucap ibunya Fatih melepas kepergian mereka.
"Iya, Bu. Jangan melakukan apapun di rumah. Istirahat aja," ingat Fatih sebelum menjalankan mobilnya pergi lebih dulu.
Menyusul mobil Biya, kemudian mobil Rayan di belakangnya. Tiga mobil itu beriringan di jalan raya dengan kecepatan normal. Entah apa yang terjadi, mobil Biya terpisah dan berada di paling belakang. Namun, ia masih dapat melihat kedua mobil yang bersamanya.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih, mereka memasuki perbatasan kota. Biya pernah datang ke kota tersebut untuk menghadiri acara fashion show yang melibatkan rancangannya.
Mungkin nasib sial sedang menimpa padanya, Biya kehilangan mobil Rayan dan Fatih. Lalu, mobilnya tiba-tiba berhenti, mogok di jalan. Ia turun dan memeriksa, asap mengepul ketika membuka kap mobil miliknya.
"Kenapa harus mogok, sih? Duh, ketinggalan, 'kan." Dia mengeluh kesal. Ingin menelepon, tapi ponsel yang mendadak mati seolah-olah melengkapi kesialannya.
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"