
Fatih dan Seira bersama Fathya masih berdiri menunggu kedatangan mobil Rayan dan Biya yang sedikit tertinggal.
"Kalo Rayan, sih, udah tahu. Gimana kalo Biya ketinggalan, Mas? Dia nggak tahu daerah sini," gumam Seira mencemaskan adik iparnya itu.
"Hhmm ... mudah-mudahan masih sama Rayan. Kita masuk dulu aja, nggak enak soalnya udah kesiangan ini," ajak Fatih setelah melirik jam di pergelangan tangannya.
Seira mengangguk, ikut masuk bersama suaminya serta sang anak menemui Naina dan Alfin. Mereka disambut antusias oleh Adrian dan juga Asep beserta kedua istri mereka.
"Maa syaa Allah! Selamat datang, Pak. Mari!" Adrian menggiring mereka menuju tempat khusus, tapi mereka memilih menemui Naina terlebih dahulu.
"Ibu Sei!" Naina tersenyum senang melihat keluarga itu datang. Tamu yang sangat diharapakan kedatangannya. Seira dan Fathya memeluk wanita itu, dan menyelami Alfin.
"Di mana Rayan sama tante Biya? Kok, cuma bertiga?" tanya Naina sedikit kecewa karena tidak melihat kedua orang itu.
"Mereka masih di jalan, tadi tertinggal. Tenang aja, Rayan udah tahu ke sini. Dia nggak akan nyasar," jawab Seira disambut senyuman Naina.
Mereka melakukan sesi pemotretan. Tak henti Fathya memandangi wajah tertutup niqab itu. Ingin rasanya membuka dan melihat kecantikan sang kakak.
"Kakak. Kenapa, kok, pake cadar kayak gitu, sih? Buka aja, aku pengen lihat. Kakak pasti cantik. Aku suka baju ini, pasti perancangnya hebat," ujar Fathya mengagumi gaun pengantin yang dikenakan Naina.
Mendengar itu, Alfin lekas menoleh dengan kedua matanya yang melebar. Melirik Naina dan Fathya bergantian, tak senang apalagi bila Naina sampai membukanya. Terlalu banyak laki-laki dalam pesta tersebut dan Alfin tak ingin mereka bebas memperhatikan wajah sang istri.
"Terlalu banyak tamu laki-laki. Kakak nggak nyaman aja kalo buka cadar," jawab Naina.
Alfin mengelus dada lega mendengar jawaban sang istri. Diam-diam tersenyum dengan wajah yang merona.
"Sayang. Ini kamu bikin di butik di sini? Gaunnya cantik, maa syaa Allah!" Seira ikut memperhatikan gaun yang dikenakan Naina. Berpikir pastilah perancang hebat yang mendesignnya.
"Kalian mau tahu perancangnya?" Kedua orang itu mengangguk cepat.
Naina menunjuk pada sebuah panggung di mana ke sepuluh anak Alfin sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
"Dia di sana. Si sulung kami, itu yang sedang mengaji itu persis yang memegang mic. Dia yang merancang gaun ini, namanya Salma, masih duduk di kelas sepuluh tahun ini." Dengan bangga Naina menunjuk sosok Salma yang sedang mendapat giliran mengaji.
Seira mengelus dada sambil tersenyum haru. Selain suaranya yang merdu dan bacaannya yang fasih, remaja itu juga memiliki bakat luar biasa yang akan membesarkan namanya kelak.
"Maa syaa Allah! Masih remaja sudah luar biasa. Apalagi jika dikembangkan lebih lanjut, pasti akan menjadi orang hebat," puji Fatih.
__ADS_1
Alfin tersenyum bangga, dialah anakku. Seorang anak yang sudah berani tampil dan menggaungkan satu kalimat kebanggaan 'haa anaa dzaa!' Inilah saya.
"Aamiin. Insya Allah, jika Allah berkehendak apa yang nggak mungkin. Katanya 'kun!' fayakun. Jadilah," sahut Alfin meski lirih karena rasa haru.
Fatih mengangguk-anggukkan kepala setuju, semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Jodoh, rezeki, maut, itu menjadi rahasia ilaahi. Anak yang terlunta di jalanan tanpa tahu siapa orang tuanya, kini menjelma menjadi sosok mengagumkan di tangan seorang hebat dan memiliki hati yang tulus.
"Anak yang hebat nggak akan terlepas dari sosok orang tua yang hebat juga. Kalian memang bukan orang tuanya, tapi kalian sangat hebat. Kalian telah sukses menjadi orang tua," ujar Seira menatap bangga pada anak sahabatnya itu.
Seseorang yang telah menghancurkan hidupnya, dapat melahirkan seorang anak hebat seperti Naina.
"Aamiin!"
"Mah, itu Kakak sama kak Rani!" pekik Fathya menunjuk pintu masuk pesta.
Di sana Rayan dan Rani berjalan bersama tanpa Biya.
"Di mana Biya?" Fatih turun dari pelaminan menghampiri anaknya.
"Pah, mobil Aunty hilang. Aku sudah putar balik buat nyari, tapi nggak ketemu. Ditelpon nomornya nggak aktif." Rayan melaporkan kehilangan Biya.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Fatih mengusap wajahnya gusar. Inilah yang dia takutkan, Biya menghilang.
"Maaf, Pak Fatih. Ini ada apa? Kenapa kalian terlihat cemas?" tanya Adrian menatap wajah mereka satu per satu.
"Begini, adik saya membawa mobil sendiri, tapi dia tertinggal. Saya khawatir dia nyasar. Saya izin mau cari dulu," jawab Fatih semakin cemas.
"Ada fotonya? Biar saya bantu cari."
Fatih tersenyum, mengangguk senang karena mendapat bantuan. Lebih banyak orang yang mencari akan lebih mudah menemukan Biya.
"Kalo begitu, kalian semua duduk saja. Biar orang-orang saya yang mencari. Mari, Pak. Tunjukkan pada mereka seperti apa mobil juga pengemudinya. Mereka pasti bisa menemukannya," ujar Adrian yang ditolak secara tegas oleh Rayan.
"Aku ikut!" keukeuh Rayan tak ingin tertinggal dalam pencarian Biya.
Adrian setuju, ia memanggil beberapa orang yang bertugas menjaga keamanan pesta. Sekitar delapan orang berseragam serba hitam berkumpul di hadapan mereka. Fatih menunjukkan gambar mobil Biya di ponselnya berikut Biya sendiri.
"Temukan mobil dalam gambar ini. Kemungkinan berada di kota ini, juga pengemudinya. Secepatnya, gunakan kemampuan kalian semaksimal mungkin!" titah Adrian dengan tegas.
__ADS_1
"Siap, Pak!"
Fatih dan Rayan merinding mendengar sahutan mereka yang serentak. Seperti sebuah pasukan yang diperintah oleh seorang komandan. Kompak, tegas, dan berani.
Mereka membubarkan diri, diikuti Fatih dan Rayan juga Adrian yang akan ikut mencari. Sebelumnya, mereka berpamitan terlebih dahulu kepada pengantin juga istri mereka.
****
Di jalan, Yusuf membawa motornya dengan pelan. Tubuhnya gemetar secara tiba-tiba, peluh bermunculan memenuhi wajah. Rasa gugup muncul tidak tepat waktu.
"Pelan banget, sih. Kapan nyampenya! Aku mau telpon keluargaku," keluh Biya memandang punggung Yusuf yang berlapis jaket kulit.
"Mmm ... i-iya. Bentar lagi nyampe, kok," sahut Yusuf terbata.
Duh, Gusti! Deg-degan jiga kieu. (Duh, Gusti! Deg-degan kayak gini).
Yusuf mengumpati diri sendiri, penyakitnya tiba-tiba datang begitu saja. Sudah dapat ia pastikan wajahnya pucat pasi. Biya mengernyit ketika melirik spion dan mendapati wajah pemuda itu memucat.
"Kamu sakit? Muka kamu pucet banget itu," tanya Biya sedikit kesal karena Yusuf berkendara seperti siput.
"Ah ... anu, saya nggak terbiasa dekat sama perempuan. Jadi, sedikit grogi." Yusuf mengusap keringat di dahi, mati-matian menekan penyakit itu agar tidak membuatnya malu. Namun, tetap saja, itu menjadi kelemahan seorang Yusuf.
Biya mendengus, berpaling memandangi jalan raya yang tak sepadat Jakarta. Pohon-pohon tinggi dan besar berjajar di sepanjang jalan, membuat teduh lingkungan. Biya menyukai udaranya, terasa masih segar tak seperti di Jakarta.
"Nah, itu suaranya udah kedengaran. Bentar lagi nyampe," beritahu Yusuf saat telinga samar-samar mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an.
"Yang ngaji ini? Biasanya kalo pesta hajatan itu musik bukan ngaji. Ini mah pengajian kali." Biya mendelik, menduga Yusuf akan membawanya ke sebuah perkumpulan pengajian.
"Nggak, kok. Kamu nanti juga tahu kalo udah sampe," ucap Yusuf yang tak lagi ditanggapi Biya.
Gadis itu terus diam tak lagi bicara. Semakin dekat, semakin jelas terdengar suara bacaan Al-Qur'an itu. Biya mengernyit ketika melihat dua buah janur terpasang di sisi kanan dan kiri sebuah rumah mewah.
"Nah, ini dia. Bener, 'kan, bukan pengajian." Yusuf memarkirkan motor di tempat yang telah disediakan.
Biya merasa takjub, seketika mengernyit saat membaca nama pengantin yang menggantung pada janur tersebut. Ada foto kedua mempelai di pintu masuk, Biya masih tak percaya karena Naina sangat berbeda.
"Mari, Mbak. Saya akan minta tolong sama teman saya supaya Mbak bisa numpang ngisi batre hp di rumahnya," ajak Yusuf yang tak lagi berkeringat.
__ADS_1
Biya seperti orang linglung.