Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 152


__ADS_3

Hari-hari berlalu, Tiwi telah terbang mengejar cita-citanya. Naina dan Alfin menempati rumah baru mereka, mengurus anak-anak yang kian hari kian tumbuh. Usaha toko matrial Alfin semakin berkembang, bahkan cabang di luar pulau pun telah rampung dibangun.


Seperti hari-hari sebelumnya, Naina duduk di sebuah gazebo menunggu Halwa sekolah. Seperti ibu-ibu yang lainnya, tapi dia yang berpenampilan sederhana, apa adanya. Duduk terpisah hanya ditemani beberapa wali siswa saja yang berpenampilan sama dengannya.


"Kayaknya Neng Naina ini sayang banget sama Halwa, ya, padahal bukan anak kandungnya." Salah seorang ibu berceloteh setelah beberapa hari memperhatikan Naina.


Istri Alfin itu tersenyum, hanya mengangguk tak menanggapi terlalu jauh.


"Halwa itu dulu ditemukan ustadz Alfin di halaman masjid. Masih bayi, kayaknya baru dilahirin. Itu ibunya tega banget, ya. Untung ketemu sama orang baik kayak ustadz Alfin. Sekarang punya ibu yang baik juga. Alhamdulillah, saya ikut senang," sahut yang lain mengingat bagaimana Halwa ditemukan.


Naina menunduk, mengerikan baginya ada seorang ibu yang tega membuang bayi sendiri. Bagaimana jika kelak bayi itu menjadi orang sukses, dan mengharumkan nama orang tuanya?


"Neng, apa nggak kesusahan ngasuh anak sebanyak itu? Sedangkan Neng sendiri, 'kan, belum punya anak," tanya salah seorang ibu yang merasa kepayahan mengurus anak sendiri.


Naina tersenyum, mengangkat wajah dan menggelengkan kepala.


"Alhamdulillah. Mereka semua anak-anak yang baik, nggak ada yang ngerepotin. Jadi, ya, senang aja ngurusnya," ujar Naina tanpa beban.


Mata ibu-ibu itu berbinar, merasa takjub dengan Naina. Dalam pemikiran mereka, biasanya anak-anak yang tidak memiliki orang tua tumbuh menjadi anak yang susah diatur. Bel berbunyi, para orang tua sigap berdiri menyambut kedatangan anak-anak mereka.


"Ibu!" Halwa berlari terlihat lebih ceria dari biasanya.


Naina berjongkok, dan menyambut kedatangan Halwa dengan pelukan. Sesuatu yang tidak dilakukan orang tua lain kepada anaknya.


"Kenapa? Kok, kayaknya seneng banget." Naina menatap wajah berkeringat itu. Mengusap bulir-bulir peluh di wajah Halwa menggunakan hijabnya.


"Halwa mau ikut lomba mewarnai, kata ibu guru Halwa udah pandai mewarnai," ucap gadis kecil itu sambil memberikan secarik kertas berisi pemberitahuan.


"Wah, Alhamdulillah. Ya udah, nanti kita bilang ayah, ya." Naina antusias menyambut tantangan tersebut. Ia mengajak Halwa duduk untuk memakan bekal.


"Eh, lomba mewarnai kali ini pendaftarannya mahal banget, lho. Kok, bisa, sih, anak itu ikut. Mampu bayar?" Selentingan tak enak itu mengganggu ketenangan Naina.

__ADS_1


"Ya, paling-paling dibayarin sekolah. Biasa kebijakan sekolah untuk murid yang nggak mampu," sahut yang lain menimpali sambil melirik Naina.


Ibu-ibu yang duduk bersama Naina geram, tapi tak dapat melakukan apa-apa. Sementara istri Alfin itu tetap tenang dan menyuapi Halwa makan.


"Cuma tiga orang yang kepilih, Mah. Aku, sama anak laki-laki, sama dia." Naina melirik, tapi tidak menanggapi.


Biarkan mereka berbicara sampai puas. Dia tidak akan peduli.


"Neng, katanya bayar daftarnya mahal. Apa nggak apa-apa?" tanya salah seorang ibu sambil menyentuh bahu Naina.


Wanita itu menoleh dan tersenyum. "Nggak masalah, Bu. Demi pendidikan anak. 'Kan, salah satu syarat mencari ilmu adalah dirham, uang. Jadi, nggak apa-apa selama itu baik dilakukan anak-anak," jawab Naina terdengar tanpa beban.


Namun, hal tersebut mendapat cibiran dari para wali siswa yang merasa dirinya memiliki derajat paling tinggi. Beberapa saat, seorang guru datang untuk mengajak Naina berbicara. Membahas masalah pendaftaran yang akan dibayarkan sekolah.


Seharusnya, jika memang niat mereka baik membantu Halwa, tak akan mereka membicarakan itu di depan umum. Naina tersenyum, hal tersebut sama saja mengusik kehormatan suaminya. Mereka pikir Alfin tidak mampu membayar, dan Naina tidak bisa diam saja.


"Nggak perlu, Bu. Saya mampu membayarnya. Pakai kartu atau cash?" ujar Naina membuat mereka melongo.


"Cash saja, Bun. Biar nggak repot," katanya malu-malu.


Naina mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya kepada guru. Dihitungnya uang tersebut, tak kurang. Ia berterimakasih dan meminta maaf kepada Naina. Lalu, pergi sambil membawa kartu milik wanita kaya tadi.


"Nanti mewarnainya pakai apa, sayang? Perlu kita beli pewarna lagi?" tanya Naina setelah melewati ketegangan.


"Kata bu guru pake crayon, Bu. Kemarin, 'kan, Halwa udah beli masih baru. Jadi, nggak usah beli lagi," jawab Halwa sambil mengunyah makanannya. Naina tersenyum, melanjutkan menyuapi Halwa makan.


"Bu, kata ayah hari ini mau main ke mal. Nanti pulang dijemput sama ayah?" tanya Halwa setelah menyelesaikan makannya.


"Insya Allah. Kalo ayah udah nggak sibuk."


"Sibuk? Cuma marbot masjid aja memang sibuk apa? Lagian uang dari mana coba pake main ke mal segala," ketus wanita tadi dengan sengit.

__ADS_1


Naina tidak menanggapi, tapi Halwa tak senang mendengarnya.


"Nggak usah didengerin, masuk aja ke kelas, ya." Gadis kecil itu menurut, dan berlari ke dalam kelas. Dia merekam semua yang mereka bicarakan.


"Ya, paling-paling cuma ngandelin uang sumbangan, Bu. Marbot masjid mana ada uangnya," sahut yang lain, menyiram minyak ke dalam api.


Namun, Naina tetap diam, dengan bibir tersenyum ia terlihat tetap tenang. Sementara, para wanita yang bersamanya menggeram. Tak perlulah mereka bicarakan lagi fakta itu. Semua orang tahu siapa Alfin.


"Tuh, lihat. Dia diem aja, 'kan. Udah nggak bisa ngeles itu. Ada, ya, orang yang hidupnya ngandelin sumbangan."


Astaghfirullah al-'adhiim, astaghfirullah al-'adhiim, astaghfirullah al-'adhiim min kulli dzambil-'adhiim wa atuubu ilaih.


Naina menyambut ejekan mereka dengan berdzikir di dalam hati. Biarkan saja mulut-mulut itu terus mengoceh menunjukkan kebodohan mereka. Tarkuljawaabi 'alal-jaahili jawaabun. Tidak menjawab ucapan orang-orang bodoh adalah merupakan jawaban.


Sampai bel kembali berbunyi, dan waktu pulang tiba. Mobil Alfin telah berada di depan gerbang sekolah menjemput mereka. Mobil yang Naina kira dulu adalah mobil sewaan, nyatanya itu memang milik Alfin sendiri.


"Ayah!"


Jeritan Halwa melihat Alfin kembali mendapat cibiran dari para wanita tadi. Laki-laki itu membawa tubuh Halwa ke dalam gendongan, menciumi wajah serta tangannya. Terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.


"Mas!"


"Assalamu'alaikum, ya Humairah!" ucap Alfin ketika melihat istrinya.


"Wa'alaikumussalaam!" Naina mengulurkan tangan, mencium tangan suaminya dengan takzim. Tak segan Alfin mendaratkan kecupan di dahinya.


Hal tersebut mengundang kecemburuan dari semua orang termasuk guru Halwa. Mereka tahu seperti apa kehidupan pasangan baru itu, tapi mereka tetap terlihat bahagia. Alfin membukakan pintu untuk Naina, meletakkan gadis kecil itu di pangkuan ibunya. Untuk kemudian ia mengangguk kepada semua guru sebelum masuk ke dalam mobil.


"Halwa sekarang udah bahagia, dia punya ayah hebat dan ibu yang sangat sayang sama dia. Beruntungnya Halwa bertemu dengan orang-orang baik."


"Iya, Ibu benar, tapi yang jadi pemikiran saya kalo ayahnya itu marbot masjid dia selalu tepat waktu membayar iuran sekolah. Saya yakin bukan cuma Halwa yang dia tanggung biayanya karena saya dengar ada sepuluh anak yang diasuhnya di masjid. Terus tadi juga, uang pendaftaran lomba langsung dibayar." Semua guru berpikir, memang ada benarnya.

__ADS_1


"Begitulah orang-orang beriman yang meyakini Tuhannya. Rezeki akan selalu datang dari jalan yang nggak disangka-sangka," sahut kepala sekolah sembari berbalik setelah semua siswa pulang bersama orang tua mereka.


__ADS_2