
Alfin masih duduk di tempatnya semula, merenungi setiap kata yang dilontarkan perempuan tadi. Helaan napasnya terhembus berat dan panjang, tertunduk kepalanya dengan kedua tangan mengepal erat.
Ia tak sadar jika seseorang duduk di sampingnya, melirik Alfin dengan iba, mendesah berat.
"Apa yang kamu bilang itu semuanya benar?" tanya polisi yang kemarin menjemput Alfin.
Pemuda itu menghela napas, belum ingin mengangkat wajahnya.
"Walaupun benar, semua itu nggak akan bisa membebaskan aku dari jerat hukum tanpa bukti dan saksi, 'kan?" Alfin mengangkat wajah, menatap rekan sejawat yang memilih jadi penegak hukum.
Polisi muda itu menghela napas, membernarkan apa yang diucapkan Alfin. Memang semuanya sia-sia jika tak ada bukti dan saksi yang menguatkan.
"Mungkin perempuan itu satu-satunya kunci yang bisa meringankan hukuman kamu, Fin. Dia saksi kuat, aku yakin jika dia bersedia dia bisa memberikan kamu kebebasan," ujar laki-laki itu sembari menatap Alfin.
Ia menghela napas, berpaling dari tatapan temannya. Bukan tak berharap, Alfin sesungguhnya sangat berharap kehadiran wanita itu, tapi bukan untuk membebaskan dirinya dari hukuman. Dia hanya ingin bertemu untuk meminta maaf.
"Itu dia masalahnya, Bas. Aku nggak tahu dia di mana. Rumah paman dan bibinya kosong, rasanya nggak mungkin kalo dia balik ke Jakarta," keluh Alfin menurunkan pandangan menatap tautan jemari di atas meja.
Pemuda yang dipanggil Bas oleh Alfin menepuk bahunya sedikit kuat, meremasnya, menyalurkan kekuatan pada hati Alfin yang lemah.
"Aku turut prihatin, semoga cepat atau lambat gadis itu segera datang," ucapnya.
Alfin menoleh, kedua matanya bercahaya penuh harapan.
"Aku bisa minta tolong sama kamu, Bas." Alfin menegaskan permintaannya lewat sorot mata yang tajam.
"Apa? Selama itu nggak menyalahi tugasku sebagai penegak hukum, maka aku akan membantu kamu," jawabnya dengan yakin pula.
Alfin terkekeh mendengarnya, dalam hati merasa kagum terhadap rekan sejawat yang menjadi penegak hukum yang jujur.
"Kamu tenang aja. Kalo permintaan aku ini akan mendatangkan bala' dan dosa, maka biar aku yang menanggungnya di dunia dan akhirat," sahut Alfin membuat pemuda di sisinya tersipu malu.
Bibir Alfin tersenyum ketika ia melengos menghindari tatapannya.
"Aku nggak akan berani meminta kamu untuk melanggar sumpah yang kamu ucapkan. Aku cuma mau minta tolong supaya kamu meringankan beban hatiku."
Ia kembali menoleh, memandang Alfin dengan kerutan di dahi.
"Apa kamu punya foto wanita tadi juga anaknya?" tanya Alfin, semakin dalam kerutan di dahi polisi muda itu.
__ADS_1
"Kebetulan ada di berkasnya bersama salah satu korban. Untuk apa?" Ia menelisik Alfin, mencoba membaca rencana apa yang ada di dalam otak pemuda itu.
"Bisa kamu fotokan? Perempuan dan anaknya saja. Setelah itu kamu kembali ke sini," pinta Alfin berharap lewat sorot matanya.
Bas beranjak dan pergi meninggalkan ruangan Alfin. Ia kembali setelah beberapa saat dan duduk di tempatnya semula.
"Ini. Buat apa, sih?" Mata polisi muda itu menyelidik, tapi Alfin hanya menanggapi dengan senyuman.
"Aku boleh pinjam, 'kan? Buat kirim pesan ke orang toko," tanya Alfin belum berani menggunakannya.
"Yah, pake aja."
"Makasih, ya."
Alfin mengirimkan sebuah pesan kepada bendaharanya di toko. Singkat dan sekejap mata, ia mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.
Penasaran, sang polisi memeriksa pesan Alfin. Kedua matanya membelalak setelah membaca ketikan temannya itu.
"Gila! Nggak salah kamu! Kamu mau nanggung semua kebutuhan anak itu?" pekiknya sembari menahan napas yang menggebu.
Kalo dihitung-hitung uang yang dia kasih hampir sama dengan gajiku. Batin polisi muda bergumam.
Dia menggelengkan kepala, rasa tak percaya terlihat jelas di kedua matanya.
"Dari dulu kamu emang suka sekali buang-buang uang. Apalagi sekarang ... aku nggak bisa ngomong apa-apa kalo udah berurusan sama uang kamu, Fin," ungkapnya, mengeluhkan tindakan Alfin.
"Udah, nggak usah dipikirin. Nanti kamu nggak bisa tidur lagi." Alfin terkekeh.
Dia baru akan merasa lega setelah mendapat laporan dari pesan yang dikirimkannya. Semoga wanita itu bisa menerima dan ikhlas terhadap semua yang terjadi.
"Aku boleh minta tolong satu hal lagi sama kamu?" ucap Alfin kali ini terlihat sendu.
"Apa lagi? Jangan bikin aku jantungan karena uang yang kamu buang-buang itu, ya," katanya mengancam.
Alfin menggeleng dan menjawab, "Bukan masalah uang. Aku minta sama kamu, tolong tengok anak-anakku di masjid. Sampaikan pada ustadz Hasan aku titip mereka sementara, tapi jangan bilang sama mereka kalo aku di penjara. Anak-anak itu akan kecewa kalo tahu ayah mereka adalah seorang pembunuh."
Bas tertegun, meneguk ludah gugup. Amanah yang Alfin berikan sungguh berat. Apa yang harus dia katakan kepada anak-anak itu ketika mereka bertanya tentang ayah mereka?
"Terus kamu mau aku bilang apa kalo mereka tanya soal ayah?" Maniknya tak berpaling dari wajah pemuda itu.
__ADS_1
"Bilang aja, ayah kalian sedang pergi menjemput ibu. Mereka merindukan ibu," jawab Alfin menatap manik temannya itu.
"Gadis itu?"
Alfin menganggukkan kepala, ia memelas padanya untuk menjaga semua anak-anak di masjid. Polisi muda itu membuang pandangan, menunduk dengan hati yang berdegup kagum dan bangga. Dia tahu seperti apa kehidupan Alfin, meski sering berada di jalanan, dia tidak pernah melupakan Tuhannya dan tak pernah lupa jalan kembali.
Ia menganggukkan kepala, setuju dengan permintaan pemuda itu. Beranjak dan pergi tanpa dapat berkata-kata lagi. Tinggallah Alfin sendiri, merenungi setiap yang terjadi dalam perjalanan hidupnya.
"Semoga Allah melindungi kalian, maafkan aku." Alfin menjatuhkan kepala di atas meja, menangis teringat pada nasib semua anak-anaknya bila ia mendekam di penjara dalam waktu yang lama.
Maafkan aku, Naina. Di mana kamu? Anak-anak kangen sama ibunya.
****
Uhuk-uhuk!
"Duh, pelan-pelan makannya. Keselek, 'kan." Wanita paruh baya di rumah besar dengan cepat memberikan segelas air kepada Naina ketika ia tersedak.
Adrian, Naina, Asep, Sumiyati dan istri dari Adrian, tengah menikmati makan siang mereka di meja makan rumah besar Adrian. Istri dari ayah biologis Naina itu memperlakukan Naina dengan penuh perhatian. Layaknya seorang ibu kepada anaknya.
"Makasih, Mah. Nai nggak apa-apa, kok," ucap Naina sambil menyusut air dari sudut bibirnya. Meski canggung, ia tetap memanggil wanita itu dengan sebutan mamah.
Ia tersenyum, mengusap rambut Naina dengan lembut.
"Syukur kalo gitu, lanjut lagi makannya. Habiskan, supaya kamu cepet pulih sepenuhnya," ucapnya dengan lembut.
Adrian, Asep dan Sumiyati tersenyum melihat kedekatan keduanya padahal Naina baru beberapa hari tinggal di rumah itu.
"Minggu besok Papah mau mengontrol toko lagi, Papah rasa ada yang janggal di sana," ucap Adrian sembari mengusap bibirnya menggunakan tissue.
"Wah, kebetulan Mamah juga pengen ajak Naina jalan-jalan ke mall. Sekalian aja, ya, Pah."
Adrian memandang Naina, gadis itu masih terlihat canggung.
"Ya, boleh."
****
"Ibu!"
__ADS_1