Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 147


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!" sapa Yusuf usai berjamaah di masjid. Ia menuruti perintah Alfin untuk kembali ke rumah membahas sesuatu.


"Wa'alaikumussalaam!" sambut semua orang yang sudah berkumpul di ruang tengah rumah.


"Nah, itu dia Yusuf!" tunjuk Alfin pada sosok berperawakan sedang yang berjalan memasuki rumah.


Fatih dan semua keluarganya menoleh, terbelalak mata kedua orang itu. Biya mengedip-ngedipkan mata memastikan dia adalah lelaki yang sama yang telah menolongnya tadi siang.


Uhuk-uhuk!


Biya tersedak liurnya sendiri, cukup alot dan menjengkelkan. Seira memberikan tepukan-tepukan lembut di tengkuk gadis itu untuk mengurangi rasa perihnya.


"Minum, Aunty!" Fathya memberikan segelas air padanya, diterima dengan cepat oleh Biya. Sementara Fatih masih mematri tatapan pada pemuda yang terlihat kebingungan lantaran banyaknya orang di sana.


"Di-dia ... Yusuf?!" pekik Biya dengan napas tersengal-sengal. Alfin dan Naina terkekeh, ini semacam kejutan untuk mereka.


"Masuk, Suf! Kenapa cuma berdiri aja di sana. Sini, duduk! Kita kongko," ajak Alfin melambaikan tangan memanggil temannya, kemudian menepuk lantai di samping meminta Yusuf untuk duduk.


Pemuda itu menggaruk kepala, mengangguk sopan pada Fatih yang tak berkedip mata melihatnya. Ia berjalan terbungkuk-bungkuk melewati sisi barisan dan duduk bersila di samping Alfin.


"Ini kenapa, Bos? Kok, aku kayak mau disidang?" bisik Yusuf setelah duduk di tempat yang diminta Alfin.


"Yah, memang kamu ini mau disidang. Makanya kami semua kumpul di sini, ingin melihat terdakwa," sahut Alfin sedikit lantang agar terdengar oleh semua orang.


"Bos ... jangan ngeprank, deh. Nggak lucu, Bos!" ucap Yusuf terlihat gugup. Apa yang sudah dia lakukan hingga disidang di hadapan banyak orang? Namun, hatinya menduga ketika pandang jatuh pada Biya. Mengira perihal pertemuannya dengan gadis itu.


"Lho. Ini bukan prank. Ini serius, kamu emang mau disidang di sini," ucap Alfin sambil menahan tawa melihat wajah temannya yang memucat.

__ADS_1


"Bos, emang apa yang udah aku lakuin? Duh, Bos. Mana aku belum kawin, masa harus tidur di hotel prodeo. Bos, kasihan." Yusuf merengek terlihat lucu dan menggemaskan.


Beberapa saat hening, hingga tawa menggelegak dari semua orang. Kecuali Alfin yang masih mampu menahan diri untuk tidak tergelak.


"Nah, itu! Itu dia yang bikin kamu mau disidang ... karena kamu nggak kawin-kawin!" Alfin tergelak, diikuti wajah Biya yang merona.


Sementara Yusuf, masih linglung belum masuk ke inti pembicaraan. Alfin menepuk-nepuk bahunya, cukup keras hingga membuat Yusuf tersadar apa yang sedang terjadi. Ia menatap semua orang, senyum-senyum tercetak di wajah mereka.


"Ini dia Yusuf. Temanku yang luar biasa. Pekerja keras, pantang menyerah. Yang pasti dia pemuda yang bersahaja dan jujur. Yang saya senangi dari dia adalah sifat jujurnya yang luar biasa," ucap Alfin memperkenalkan Yusuf pada semua orang.


Pemuda itu terenyuh, menatap penuh arti pada suami Naina yang memuji dirinya secara berlebihan.


"Maa syaa Allah!" seru Fatih bersama yang lainnya.


Yusuf menundukkan kepala saat Alfin tersenyum penuh makna. Pandangan yang teduh, lagi mendamaikan hati. Dia benar-benar terharu, karena Alfin sangat memperhatikan dirinya.


"Jangan memujiku berlebihan, Bos. Nanti kalo nggak sesuai, pasti ada yang kecewa," lirih Yusuf sambil tertunduk.


"Yah, beginilah. Pak Fatih bisa menilai sendiri. Mempertimbangkannya apakah akan dilanjutkan ataukan sekedar perkenalan saja?" ucap Alfin menyerahkan keputusan kepada Fatih.


Suami Seira itu manggut-manggut, perkenalan singkat mereka tadi sore cukup baginya mengenal sedikit bagaimana seorang Yusuf.


"Yah, saya serahkan semuanya kepada yang bersangkutan. Bagaimanapun, mereka yang akan menjalani untuk selanjutnya." Fatih tersenyum dikala Yusuf mengangkat wajah.


"Ini adik saya, Biya. Mungkin sodara Yusuf sudah bertemu bahkan mengantar adik saya ini. Cuma mungkin nggak saling tahu aja. Maa syaa Allah! Kami sepakat ingin memperkenalkan kalian berdua, tapi tangan Allah sudah bertindak lebih dulu. Ini kuasa Allah," ujar Fatih dengan bijaksana.


Sadarlah Yusuf yang dipanggil Alfin adalah untuk dikenalkan pada seorang perempuan. Biya mengangguk malu-malu ketika pandang Yusuf tertuju padanya. Sungguh tak dinyana, mereka mengatur rencana, tapi rencana Allah yang lebih dulu mendatangi mereka.

__ADS_1


"Betul. Kita membuat rencana, pada saat yang sama Allah juga membuat rencana. Akan tetapi, rencana Allah adalah sebaik-baiknya rencana. Mungkin ini petunjuk dari-Nya. Lewat sifat Qudrah Iradah-Nya, DIA ingin kita semakin yakin bahwa Dialah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya," tutur Alfin seraya menepuk-nepuk punggung Yusuf menyadarkan laki-laki itu dari lamunan.


Uhuk-uhuk!


"Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar! Astaghfirullah al-'adhiim!" Yusuf mengusap wajahnya sembari mengucap kalimat thoyyibah.


Yusuf terbatuk-batuk, tersedak udara yang masuk ke rongga dada. Ia menatap Biya, gadis itu memalingkan wajah ketika kedapatan mencuri pandang pada laki-laki yang baru saja disebutnya di dalam doa.


Ya Allah. Aku baru saja memohon, Kau sudah mengabulkannya. Apakah ini jawaban doaku kemarin? Batin Biya bergumam. Merasa takjub dengan takdir yang Allah gariskan untuknya.


"Aunty, laki-laki yang aku maksud itu adalah beliau. Aku memang nggak kenal siapa dan bagaimana beliau, tapi berkaca dari ustadz Alfin, sudah pasti beliau sama baiknya karena perilaku seseorang dapat dilihat dari pertemanannya. Dengan siapa dia berteman," ujar Rayan ikut meyakinkan hati Biya setelah menilai sendiri bagaimana sosok Yusuf.


Biya menundukkan kepala, mengingat kembali doa yang ia langitkan tempo hari. Jika dia baik untukku, untuk agamaku, dunia dan akhiratku. Maka, dekatkanlah.


Takdir memang rahasia Allah. Biya meyakinkan hati bahwa ini adalah jawab doanya. Kembali berdoa untuk kebaikan semua. Memohon petunjuk untuk keputusan yang akan diambilnya.


Yusuf meneguk ludah, dia tak tahu jika setekernal itu. Melirik Alfin kemudian, tak dinyana pemuda itulah yang telah menghebohkan dunia tentang dirinya.


Ya Allah, apa si Bos mau ngejodohin saya sama Mbak itu, ya? Kalo iya, Mbaknya itu mau nggak sama saya. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Hamba senang sekaligus bingung. Bolehkah hamba langsung meminta menikah saja? Duh, Gusti! Kumaha ieu? Deg-degan deui wae hate, teh.


(Duh, Gusti! Gimana ini? Deg-degan lagi aja hati.)


Yusuf menyusut keringat di dahi, sekali-kali meneguk saliva untuk membasahi tenggorokannya yang mengering tanpa sebab. Dia mengumpulkan keberanian untuk mengangkat wajah, memastikan praduga di hatinya.


"Jadi, saya mau dijodohkan sama mbak Biya?" tanya Yusuf sedikit bergetar karena gugup, dia menatap Alfin dengan penuh tanya.


"Itu kalo Tante Biya setuju, Mas," sambar Naina yang mematahkan semangat Yusuf.

__ADS_1


"Saya ... mmm ... gimana, ya? Mungkin saling mengenal dulu satu sama lain-"


"Nggak usah, Mbak. Saya terima kebaikan dan kekurangan Mbaknya. Kita langsung nikah aja!"


__ADS_2