
Di dalam masjid, Fatih dan keluarganya disambut hangat oleh para DKM masjid. Dipersilahkan untuk mengambil tempat duduk seperti biasanya. Pengajian rutin dimulai dengan Ustadz Hasan sebagai pembuka. Dilanjutkan ceramah agama oleh ulama yang sengaja diundang.
Fathya mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari-cari sosok Naina di antara jamaah wanita. Terlalu banyak kepala membuat matanya berkunang-kunang. Tanpa sengaja pandangannya terpaku pada sosok paruh baya yang begitu khusyu melantunkan dzikir. Matanya terpejam, seolah-olah tak ingin diganggu sekitar.
"Kak! Coba lihat laki-laki yang di sana? Kakak masih inget nggak siapa?" Fathya menunjuk laki-laki tersebut memberitahu Rayan yang beberapa saat ikut hanyut dalam buai dzikir asma Allah.
Pemuda itu membuka mata, mengikuti arah yang ditunjuk Fathya. Matanya memicing, mempertajam indera penglihatannya. Rayan membelalak disaat mengenali sosok tua itu.
"Dia paman kak Nai!" pekiknya berbisik pada Fathya.
"Bener, Kak! Itu paman kak Nai. Berarti kita deket sama Kakak," seru Fathya begitu bahagia.
Wajahnya memerah karena luapan kebahagiaan dari dalam hati. Ia beringsut mendekati Seira dan Fatih, duduk di antara mereka yang larut di dalam dzikir.
"Sstt! Jangan berisik, dzikir bareng-bareng," bisik Fatih merasa tak enak dengan tingkah putrinya.
"Pah, Mah, abis ini kita mampir ke rumah paman kak Nai, yah. Nginep, aku kangen sama Kakak," bisiknya memelas pada kedua orang tua itu.
Fatih dan Seira saling menatap satu sama lain, bingung dengan permintaan si Bungsu.
"Naina? Emang dia di sini?" tanya Seira menyebutkan nama gadis itu.
Fathya mengangguk pasti, memandang bergantian kedua paruh baya itu.
"Kenapa kamu bisa tahu?" Kali ini Fatih yang mengerutkan alis.
Fathya memberengut, kedua orang tuanya pasti lupa bahwa gadis itu ikut mengantar Naina.
"Aku sama Kakak yang dulu nganter kak Nai ke rumah pamannya. Rumah paman kak Nai di sini, Pah. Itu ... tuh, yang pake peci item koko abu-abu. Itu paman kak Nai!" seru Fathya sembari menunjuk Asep yang masih memejamkan mata tak peduli dunia sekitarnya.
Fatih dan Seira mengerutkan dahi, melihat lebih jelas sosok Asep yang secara kebetulan duduk di dekat sebuah pilar.
"Kamu yakin nggak salah orang? Gimana kalo salah?" celetuk Fatih memastikan penglihatan anaknya.
__ADS_1
Fathya berdecak, bibirnya cemberut menatap Fatih.
"Nggak, Pah. Aku yakin itu pamannya kak Nai. Nanti, ya, abis ini kita samperin. Terus kita tanya bener nggak dia itu pamannya kak Nai," tantang Fathya menatap tegas kedua orang tuanya.
Fatih dan Seira sama-sama mengangguk, menerima tantangan tersebut.
"Boleh. Kalo emang bener, Mamah juga mau ketemu sama Naina. Kita nginep aja sekalian," saran Seira, terlalu lelah jika harus bolak-balik Jakarta. Perjalanan yang mereka tempuh bukanlah sebentar.
"Yes!" Fathya terlihat kegirangan. Akhirnya akan bertemu sosok kakak yang selama ini menjadi pendengar baik setiap curahan hatinya. Semenjak Naina pergi, tak ada tempat nyaman untuk gadis itu mengungkapkan isi hati.
Ia membayangkan tidur di atas kasur yang sama bersama Naina, saling mencurahkan isi hati. Meluapkan kerinduan. Betapa bahagianya, padahal baru membayangkan saja.
Di rumah Adrian, Naina duduk di ruang tengah seperti malam kemarin. Menunggu Alfin datang untuk bermalam di sana. Ia menghela napas, ingin menelpon saja, tapi sadar suaminya itu tengah disibukkan oleh kegiatan pengajian.
Habsoh yang melihat tersenyum-senyum sendiri, sedikit merasa kasihan terhadap wanita itu yang berharap suaminya akan pulang. Ia mendekat dan duduk di samping Naina.
"Istirahat, sayang. Ini udah malam, kamu itu pasti tadi capek nenemin anak-anak." Habsoh mengusap kepala Naina dengan lembut.
"Mah, jadi istri itu berat nggak? Gimana waktu Mamah pertama kali jadi istri papah?" tanya Naina tak sungkan, seolah-olah Habsoh adalah ibunya.
Wanita itu tersenyum lembut, membayangkan kehidupan bahagia di awal-awal pernikahannya dengan Adrian.
"Mamah canggung, malu lebih tepatnya. Papah itu laki-laki yang lembut, nggak pernah bersikap kasar. Selalu memuji, menyanjung, membuat cinta Mamah semakin tumbuh setiap hari. Hal pertama yang Mamah lakukan dulu adalah mempelajari makanan kesukaan papah. Mamah belajar dari alm. ibu mertua dulu." Habsoh terkekeh membayangkan adegan masak-memasak bersama sang mertua.
Naina tersenyum, khusyuk mendengarkan. Hatinya menghangat berada dalam dekapan wanita itu. Bukan ia ingin menggantikan tempat Lita, tapi hanya mengisi kekosongan yang ditinggalkan wanita itu.
"Kamu tahu makanan kesukaan Alfin?" tanya Habsoh kemudian.
Naina berpikir, mengingat makanan yang selama ini menjadi pengisi perut suaminya.
"Kayaknya Alfin bukan tipe pemilih, Mah. Yang Nai perhatikan, semua makanan dia makan. Apa nggak apa-apa, Mah, kalo aku tanya makanan kesukaan suamiku?" Naina mengangkat kepalanya, menatap Habsoh yang tersenyum.
"Ya, nggak apa-apa. Tanya aja sama dia, mas mau makan apa? Mamah sering gitu sama papah," ujar Habsoh membuat pipi Naina seketika merona membayangkan dia memanggil sebutan 'mas' untuk Alfin.
__ADS_1
"Saran dari Mamah ... kalian itu, 'kan, udah nikah. Sebaiknya ubah panggilan kamu buat Alfin. Panggil dia dengan sebutan Mas, atau apapun itu yang menyenangkan hatinya," cetus Habsoh menggenggam lembut tangan Naina.
Teringat saat sore tadi, saat Alfin memanggilnya dengan sebutan lain.
"Tadi sore Alfin manggil aku pake sebutan bahasa arab gitu, Mah. Aku pikir dia bukan manggil aku," beritahu Naina semakin merona kedua pipinya.
Habsoh mengusap pipi gadis itu, mendinginkannya dari gejolak rasa.
"Nah, itu. Mulai malam ini coba kamu pikirkan sebutan apa yang cocok buat suami kamu," ucap Habsoh.
"Nanti Nai pikirkan, Mah."
Habsoh mengangguk-anggukkan kepala. "Ya udah, sekarang kamu istirahat di kamar. Ini udah malam, besok pagi kamu mau ke asrama lagi, 'kan? Mamah temenin, ya."
Naina menganggukkan kepala senang, ia mengecup pipi Habsoh sebelum beranjak dari sofa.
"Mamah juga istirahat. Jangan tidur malam-malam, Nai nggak mau Mamah sampai sakit." Naina menyalami tangan wanita itu, ketulusan jelas terlihat dari raut wajahnya yang selalu tersenyum.
"Iya, sayang." Habsoh melepas genggaman, membiarkan wanita itu pergi ke kamarnya.
Rasa haru seketika menyeruak, memenuhi relung jiwa. Tanpa sadar air mata menetes, merasakan kasih sayang yang tulus dari anak seorang wanita yang pernah memporak-porandakan kebahagiaannya.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Ya Allah. Lita, kamu ibu yang hebat. Rahimmu luar biasa, bisa melahirkan seorang anak yang berhati mulia seperti Naina. Aku meminta izinmu untuk menganggapnya anakku. Jangan marah padaku, Lita. Aku menyayangi anak kamu. Sangat menyayanginya," lirih Habsoh sembari tersedu-sedan seorang diri.
Ia pernah membenci Lita, pernah mencacinya, pernah mengutuk wanita itu, tapi darinya terlahir seorang anak luar biasa sehingga ia bisa merasakan bagaimana rasanya disayangi dan dicintai seorang anak.
Habsoh masih duduk di ruang tengah, bergumam penuh syukur. Berkat kehadiran Naina, hatinya tak lagi terasa hampa. Kekosongan yang hampir seumur hidupnya mendekam, kini telah terisi.
Ia beranjak, mematikan setiap lampu di rumah dan menyisakan penerangan teras saja. Langkah terayun meninggalkan ruang tengah rumah hendak ke kamarnya. Namun, lamat-lamat telinga mendengar suara di luar rumah.
Habsoh mengernyit, menajamkan pendengarannya. Memastikan suara-suara itu memang nyata.
"Siapa?" Ia bergumam pelan.
__ADS_1