
"Emang kamu mau kerja?" tanya Naina sambil memperhatikan Alfin yang mengangkat karpet-karpet masjid dan menjemurnya bersama marbot lain di masjid itu.
"Iya. Sebenarnya aku ada usaha kecil-kecilan, sih, tapi jarang aku tengok." Alfin melirik pada istrinya yang menemani Halwa bermain di gazebo depan asrama.
"Usaha? Usaha apa?" Naina bertanya penasaran. Ia tak pernah tahu soal itu, selama ini yang dia tahu Alfin hanyalah seorang marbot.
"Usaha toko matrial gitu. Kayaknya aku mau ikut kerja juga di sana. Sekarang, 'kan, aku udah punya istri." Alfin berkedip mata nakal, menggoda Naina.
Wanita itu menunduk sambil menggigit bibir menahan senyum. Terkadang dia pun bertanya, apa benar mereka sudah menikah? Rasa tak percaya, malam itu Alfin mengucap kalimat qabul di masjid tersebut.
"Rumah kita udah mau selesai, kalo keluargaku udah datang ke rumah kamu. Kita pindah ke sini, ya." Alfin mendekat seraya duduk di samping Naina. Memeluk pinggangnya dengan mesra, menjatuhkan dagu di bahu wanita itu.
"Iya, tapi kalo anak-anak sekolah dan kamu pergi ke toko, aku sendirian di rumah. Aku masih takut," lirih Naina membayangkan jika harus ditinggal sendirian.
Alfin mengeratkan dekapannya, mengerti ketakutan Naina. Ia sendiri pun tidak tega meninggalkannya sendirian.
"Aku nggak akan tiap hari pergi ke toko. Kalo ada pesanan aja yang membutuhkan tanda tangan aku, baru aku akan pergi. Kamu nggak usah khawatir," bisik Alfin sembari melirik pipi sang istri.
Ingin dia mengecupnya, tapi malu kepada Halwa. Alfin hanya dapat meneguk ludah, menahan gejolak yang kian meronta.
"Apa aku boleh ikut ke toko kamu?" Naina melirik bibir suaminya yang nyaris menempel di pipi.
Dekapan Alfin terlepas, ia menjatuhkan tubuh di atas gazebo, tidur terlentang menghadap atap tempat tersebut.
"Aku, sih, pengennya kamu di rumah aja." Alfin menatap Naina yang tengah memperhatikan dirinya.
"Kenapa?" Nada tak senang terdengar di telinga laki-laki itu.
Alfin merubah posisinya menjadi miring menghadap Naina. Tersenyum bibir itu, melihat sang istri sedikit cemberut.
"Bukan apa-apa, pekerja di sana laki-laki semua. Aku nggak mau kamu jadi pusat perhatian mereka." Alfin meraih tangan Naina dan menggenggamnya, menyalurkan perasaan lewat sentuhan, meyakinkan Naina bahwa apa yang diucapkannya adalah benar.
Wanita itu memalingkan wajah, menghindari tatapan suaminya. Tersenyum malu-malu, merona kedua pipinya.
"Assalamu'alaikum!" seru beberapa anak Alfin yang mengenakan seragam sekolah dasar.
"Wa'alaikumussalaam!" sahut ketiganya sambil menoleh ke arah mereka.
Tiga orang anak itu datang menyalami keduanya. Kemudian masuk ke asrama berganti pakaian. Lalu, ikut duduk di halaman bermain bersama Halwa.
"Gimana sekolah kalian? Kalo ada PR kerjakan dulu, baru main," ujar Alfin mengingatkan mereka.
Ketiganya tersenyum lebar, merayu sang ayah.
__ADS_1
"Aman, Yah." Kembali bermain di halaman bersama adik mereka.
"Pr-nya gimana? Kerjakan dulu," titah Alfin lagi membuat mereka sedikit cemberut.
Ketiganya bangkit, kembali mengambil tas mereka. Duduk di gazebo bersama keduanya, membahas soal-soal yang diberikan guru. Alfin yang berbaring di samping sang istri, mengangkat sebelah tangannya menopang kepala. Sementara tangan yang lain, merayap di pinggang sang istri dan melingkar di sana.
"Belajar sama Ibu, lebih mudah ngerti. Beda kalo sama Ayah," celetuk salah satu anak setelah selesai mengerjakan tugas.
"Oya?" Alfin merapatkan tubuh pada Naina. Memandang wajah sang istri yang terlihat biasa saja.
"Iya. Kalo sama Ayah kita diajak muter-muter dulu," sahut anak lainnya yang disambut kekehan Alfin.
Ia kembali terlentang, menjadikan kedua tangannya sebagai bantal. Naina melirik, tapi tidak menimpali apa-apa.
"Kami boleh main lagi? Pr-nya udah selesai."
Naina menganggukkan kepala, mengizinkan ketiganya bermain bersama Halwa. Tak ada gadget untuk anak-anak itu, mereka dibebaskan bermain apa saja yang penting tidak membahayakan.
"Nai!" Alfin meraih tangan Naina, membuat wanita itu berpaling padanya.
"Kenapa?" Naina bertanya sambil tersenyum malu melihat wajah sang suami.
"Tiduran sini!" pinta Alfin menepuk ruang kosong di sampingnya.
"Dih, ada anak-anak. Malu tahu." Ia melengos berpaling wajah dari suaminya.
"Kangen, Nai."
"Iya, tapi nggak di sini."
"Nggak ada siapa-siapa, lho."
"Ada anak-anak, Alfin."
"Ayolah, Nai."
Sebuah pukulan diterima Alfin di lengan, terkekeh laki-laki itu. Senang bukan main menggoda istrinya. Wanita itu memunggungi Alfin, menyembunyikan pipi yang memerah.
****
Di tempat lain, seorang wanita berpakaian seksi datang ke kantor lapas di mana Adrian ditahan. Ia membawa surat di tangan yang akan diserahkan kepada laki-laki itu.
Mereka duduk berseberangan, saling menatap satu lain. Masih ada rasa cinta yang memancar di kedua manik mereka meski hanya sedikit.
__ADS_1
"Aku mau mengambil alih hak asuh anak karena kamu udah nggak bisa merawatnya. Aku bawakan suratnya dari pengadilan, ini supaya kamu nggak sembarangan mengambil Azka." Wanita itu memberikan surat tersebut yang diambil Anton dengan tangan gemetar.
Pasrah. Itulah yang terlihat di wajahnya, dia bisa apa sekarang? Semua hancur oleh rencananya sendiri. Apa itu yang disebut karma? Sebuah balasan dari tindak kejahatan yang dilakukannya.
Wanita itu beranjak, meninggalkannya sendirian. Kini, Anton benar-benar sendiri. Tak ada siapapun lagi di sisinya, dan mungkin akan tetap sampai akhir hayat.
****
"Alfin udah nikah sama gadis itu. Udah nggak ada harapan lagi buat kita berbesan dengan Ustadz Ahmad," ujar seorang laki-laki sambil membanting dirinya di sofa.
Ia memijit-mijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Memikirkan sang anak yang tak pernah berubah.
"Ya udahlah, Pah. Emang mereka berjodoh, mau apa lagi? Lagian Nadia juga, 'kan, bentar lagi mau nikah sama Fahmi. Kurang apa calon suaminya itu?" sahut sang istri menatap malas suaminya yang tak pernah merasa puas.
"Alfin itu lebih baik, Mah. Dunia akhiratnya baik. Udah pasti bisa mencukupi kebutuhan anak kita satu-satunya," sambar laki-laki tersebut dengan kesal.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Ternyata Papah nggak pernah berubah. Sama keras kepalanya seperti anak kita. Fahmi juga baik, dia pengurus pesantren sudah tentu ilmu agamanya lebih mumpuni. Dia pasti bisa membimbing anak kita menjadi perempuan yang baik dan sholihah. Udahlah, Pah. Nggak usah mikirin hal lain, fokus aja sama mereka."
Rasa kecewa terlihat jelas di wajah tua wanita itu. Tak habis pikir dengan sikap sang suami yang selalu membandingkan orang lain. Tiwi yang baru saja datang ke rumah sambil menenteng tas belanja, berkerut heran melihat keduanya bersitegang di ruang tengah.
Ia mengenakan hijab meski alakadarnya, hanya sekedar khawatir akan bertemu dengan Fahmi di jalan.
"Ada apa lagi? Kalian berselisih lagi?" tanya Tiwi sambil membanting diri di sofa seberang keduanya.
Ia duduk bersedekap dada, menumpuk kedua kaki menatap heran pada orang tua di depannya.
"Kenapa lagi, Pah?" tanyanya beralih tatapan pada sang papah.
Ghofur menghela napas, menatap lesu putrinya.
"Alfin udah nikah sama gadis itu. Kamu udah nggak ada harapan buat nikahin seorang pengusaha sukses kayak Alfin," ucap laki-laki tersebut memandang rendah pada putrinya.
"Terus? Papah mau aku ngapain? Mereka udah nikah, ya udah. Aku juga udah punya calon suami, nggak usah mikirin yang lain," sahut Tiwi yang sudah lelah diatur-atur kehidupannya oleh laki-laki itu.
Wanita tua di sana menatap Tiwi tak percaya, anaknya telah berubah dan bisa menerima semua. Tiwi terlihat lebih dewasa, dan tidak menuruti egonya seperti laki-laki itu.
"Kamu udah nerima semuanya, Nak?" tanyanya terbata.
Tiwi mengalihkan pandangan pada sang mamah, tersenyum dan mengangguk pelan.
"Iya, Mah. Tiwi udah memutuskan mau menikah dengan Fahmi. Dia laki-laki yang baik dan sabar," jawab Tiwi tanpa keragu-raguan.
"Alhamdulillah!"
__ADS_1