
Alfin mematung di ambang pintu, menatap lekat-lekat sosok Naina yang duduk sambil menatapnya. Wanita itu bahkan terlihat biasa saja, sedangkan ia mati-matian menahan sebuah keinginan yang terus meronta dan memberontak.
"Kenapa? Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" tanya Naina diucapkannya dengan wajah yang polos. Apa dia tidak mengerti, atau pura-pura tidak mengerti?
Alfin menggeram, tanpa sadar tangannya mencengkram erat gagang pintu yang dipegangnya. Ia memejamkan mata, sungguh diri tak kuasa menahan segala ajakan.
"Alfin?" tegur Naina membuat tubuh kaku laki-laki itu terlonjak lantaran sang istri telah berdiri sejajar dengannya.
Alfin meneguk saliva, membasahi tenggorokan yang tiba-tiba mengering. Peluh sebesar-besar biji jagung bermunculan di sekitar pelipis. Sangat tersiksa rasanya menahan semua keinginan.
"Naina?" Gemetar dan lirih Alfin menyebut nama istrinya.
Ia melangkah masuk, menutup pintu tanpa berpaling dari wajah Naina yang mulai memucat. Menyadari situasi yang berbahaya untuknya.
"Ka-kamu mau apa?"
Bayangan dua orang yang hendak melecehkannya dulu tiba-tiba muncul, membuat trauma Naina kembali. Ia menggelengkan kepala, air mata berjatuhan dengan sendirinya.
"Nggak! Jangan!" Naina menjatuhkan diri sambil menutupi wajahnya. Menangis histeris sambil terus meracau.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Naina!"
Alfin berhambur panik, ditepisnya tubuh itu ketika hendak memeluk Naina.
"Jangan! Tolong jangan lakukan itu. Aku mohon!" tangis Naina mengiba sambil membenamkan kepala di atas lutut.
Keinginan yang menggebu berubah menjadi kebingungan. Alfin mematung, menatap bingung pada istrinya yang tiba-tiba histeris.
"Alfin! Tolong aku!" lirih Naina menyebut namanya.
Alfin semakin dibuat bingung, karena dia ada di hadapannya sekarang.
"Naina! Ini aku, Alfin! Aku Alfin, Naina!" ucapnya dengan lantang.
Mendengar nama Alfin, Naina mengangkat wajahnya yang telah dibanjiri air mata. Mencari sosok Alfin yang tadi memanggil namanya.
"Alfin!" Naina bergetar memanggil nama itu.
"Iya, Naina. Ini aku." Alfin menahan diri untuk tidak mendekat.
Naina berdiri dari duduknya, dan berhambur ke dalam pelukan laki-laki itu.
"Alfin! Aku takut. Aku takut, Alfin. Aku takut." Naina meracau pilu dalam dekapan laki-laki itu.
__ADS_1
Kini, Alfin menyadari situasi yang terjadi. Keadaan kamar yang menjadi remang-remang setelah pintu ditutup membuat Naina kembali pada waktu malam itu. Malam di mana kehormatannya hampir terenggut dua orang yang tak bertanggungjawab.
"Sssst! Jangan nangis, jangan nangis! Aku di sini, aku ada di sini, sayang." Alfin membalas pelukan sang istri, mengusap-usap punggungnya yang gemetar.
Rasa tenang perlahan hadir di dalam hati Naina, berangsur-angsur ia menyadari keadaan saat itu. Naina mengeratkan pelukan, isak tangis mereda dengan sendirinya.
"Nggak akan ada yang bisa nyakitin kamu lagi, Naina. Kamu istri aku sekarang," bisik Alfin sembari menciumi pundak wanita itu yang tertutup hijab.
"Maaf. Tadi aku tiba-tiba keingetan malam itu." Naina merasa sedikit malu.
Alfin melepas pelukan, tangan kanannya mengusap kedua pipi Naina yang basah. Ia tersenyum maklum, kejadian itu sudah pastinya membekas di dalam ingatan Naina.
"Nggak apa-apa. Maafin aku juga. Aku lupa kalo kamu punya trauma," ucap Alfin sembari menarik kepala Naina terbenam di dadanya.
Rasa hangat yang mengalir semakin membuat Naina merasa damai. Ia tersenyum, lingkaran tangannya menguat di tubuh Alfin. Tak ingin terlepas lagi.
Naina memutar kepala, menatap Alfin tanpa melepas lingkaran tangan.
"Kamu udah sarapan? Aku tadi bawa sarapan banyak. Anak-anak juga makan," tanyanya dengan sikap yang manja membuat Alfin berbunga.
Alfin menggelengkan kepala, menunduk dan bertatapan dengan manik istrinya.
"Belum."
"Aku mau sarapan yang lain, boleh?" Alfin menatap lekat-lekat manik Naina.
Kerutan di dahi wanita itu muncul, terlihat bingung dengan ucapan suaminya.
"Apa?" tanya Naina polos.
Tangan Alfin terangkat, meraba permukaan kulit pipi Naina. Lalu, berhenti tepat di bibir wanita itu.
"Boleh, aku ...."
Dulu, ketika Alfin masih menjadi anak jalanan, berandalan orang-orang menyebutnya. Ia sering melihat rekan sejawatnya melakukan hal tersebut di depan semua orang tanpa rasa canggung dan malu. Alfin sering memperhatikan meskipun tak pernah melakukan.
Naina menundukkan kepala, mengindari tatapan Alfin yang mengoyak pertahanannya. Jari telunjuk Alfin mengangkat dagu Naina, membuat wajah mereka kembali berhadapan. Seperti yang dilakukan temannya dulu, laki-laki itu mendekatkan wajah pada Naina.
Secara refleks, mata Naina terpejam. Bersiap menerima hal baru yang lumrah dilakukan pasangan suami istri. Alfin membuka bibir, memagut lembut benda kenyal itu. Darah Naina berdesir, tanpa sadar jemarinya mencengkeram jaket Alfin dengan kuat.
Sentuhan lembut itu membuatnya melayang, Hanyut dan terbawa arus permainan sang lelaki.
Dor-dor-dor!
__ADS_1
"Ayah, Ibu! Apa kalian di dalam?" Suara teriakan Halwa membuat mata mereka terbuka.
Alfin melepas pagutan, Naina menjauh sambil menunduk menutupi wajahnya yang memanas. Ia membenarkan hijab serta kemeja yang dikenakannya. Begitu pula dengan Alfin, berdehem menetralkan hatinya.
"Ayah! Ibu! Kenapa sembunyi di dalam?" teriak Halwa lagi disambut helaan napas Alfin. Ia melirik Naina, wanita itu terkekeh kecil sambil menutupi mulutnya.
Dengan malas Alfin membuka pintu, gadis kecil itu menerobos masuk ke dalam sambil tersenyum lebar.
"Kenapa sembunyi di sini?" Mata kecil itu memindai wajah mereka yang memerah, "Kenapa wajah Ayah sama Ibu merah kayak gitu. Kalian ngapain emangnya?" cecarnya lagi disambut tawa Naina yang garing.
Ia menghampiri gadis kecil itu, berjongkok di dekatnya seraya mengusap lengan kecil Halwa.
"Halwa udah pulang sekolah? Pulang sama siapa? Ini masih pagi." Naina melirik jam di kamar Alfin, baru pukul 08.30 pagi, seharusnya Taman Kanak-kanak belum pulang.
"Iya, Ibu. Halwa ikut sama teman, karena hari ini ada rapat di sekolah. Jadi, sekolahnya cuma sebentar," jawab Halwa sembari menyerahkan sebuah surat kepada Naina.
"Ini dari ibu guru, katanya harus dikasih sama Ibu atau Ayah," ucap Halwa memandang keduanya secara bergantian.
"Ayo, keluar!" Alfin menggiring mereka ke dapur masjid, duduk di atas lantai sambil membuka bekal yang dibawa Naina.
"Ini surat pemberitahuan. Ada rapat bersama wali siswa Rabu besok. Apa kamu biasa hadir?" Naina melipat surat tersebut dan menyerahkannya kepada Alfin.
Laki-laki itu tengah melahap makanannya, lapar akibat sesuatu yang tak dapat tersalurkan.
"Dulu, iya. Sekarang, 'kan, udah ada kamu. Jadi, kamu aja yang pergi. Aku mau mulai kerja besok," sahut Alfin mengangkat sendok ke dekat mulut Naina.
Wanita itu tertegun, melirik Halwa yang mengerutkan dahi bingung.
"Buka mulut kamu, katanya belum makan. Biar aku suapi," ucap Alfin menggoyangkan sendok tersebut.
Naina membuka mulutnya, melahap makanan itu tanpa mengalihkan pandangan dari mata tajam Halwa.
"A!" Halwa ikut membuka mulut, meminta Alfin menyuapinya.
"Kamu belum makan?" Laki-laki itu meniliknya.
"Udah, tapi Halwa mau disuapi Ayah sama kayak Ibu," katanya sambil tersenyum.
Alfin mendesah, seperti itulah rasanya memiliki anak yang masih kecil.
"Kenapa Halwa bisa tahu Ayah sama Ibu ada di sini?" tanya Alfin sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Lihat sendalnya. Halwa cari Ibu, tapi lihat sendal Ayah juga."
__ADS_1
Keduanya melirik dua pasang sandal yang tergeletak di depan kamar.