
Di dalam masjid, pemuda itu sedang bertafakur memohon ampunan. Mandi taubat sudah ia lakukan, menyusul sholat taubat, dilanjut dengan berzikir membaca istighfar. Bulir-bulir tasbih masih berputar di tangannya, bibirnya berkedut-kedut melafalkan bacaan istighfar.
Sesekali tangannya akan menyeka air mata yang turun, terbayang dua jasad yang terkapar di bawah guyuran hujan. Terbayang, darah mengalir terbawa air. Terbayang erangan menyakitkan ketika malaikat maut menarik paksa nyawa mereka.
Alfin tergugu sendirian di kesunyian malam, menangis dalam kubangan dosa yang tak dapat dicegahnya. Terlalu malu untuk menampakkan diri di hadapan semua orang, terutama kedua orang tua juga anak-anaknya.
Apa yang akan dia katakan pada anak-anak malang itu tentang seperti apa sosok ayah mereka? Jawaban apa yang akan terucap dari lisannya ketika dua orang sepuh itu bertanya?
"Allah ... ampuni hamba! Ampuni hamba!" Alfin menangis semakin histeris, menunduk semakin dalam, hampir-hampir mencium lantai.
"Aku sudah membunuh ... aku pembunuh ... ya Allah, masihkah ada tempat untukku di sisi-Mu? Ya Allah, ampuni dosaku!" ratap Alfin berseru memohon ampunan.
Ia jatuh tersungkur dalam sujud, kedua tangan meremas lantai, menggenggam udara dengan kuat. Tangisnya menyayat hati siapa saja yang mendengar.
Di pintu samping masjid, Ustadz Hasan memandangi pemuda itu. Kepalanya menggeleng lemah, turut mengucapkan kalimat istighfar untuknya. Ia mengelus dada, tak akan pernah membiarkan Alfin sendirian.
Langkahnya terlihat pasti tatkala menapak di lantai masjid. Perlahan menghampiri Alfin yang masih terpekur dalam tangis pertaubatan. Laki-laki bersorban hijau itu duduk bersimpuh di samping kanan Alfin, lebih mundur sedikit.
Menatap pemuda yang masih menangis dalam sujud. Dibiarkannya Alfin menumpahkan semua penyesalan, agar tak tersisa lagi setelahnya. Tangis Alfin kian melirih, kemudian mereda secara berangsur. Ia masih bersujud belum berkeinginan untuk mengangkat wajahnya.
"Tangisan yang paling utama adalah tangis penyesalan seorang hamba atas waktu-waktunya yang telah berlalu tanpa menaati perintah Allah. Sesungguhnya air mata taubat memadamkan api neraka dan air mata kerinduan pada Tuhan melicinkan ke surga. Wahai hamba Allah! Apa yang menyebabkan kamu menangis di tengah malam seperti ini?" tegur Ustadz Hasan tanpa beranjak dari duduk bersimpuhnya.
Alfin tertegun, menangis kembali sebelum mengangkat tubuh dari sujudnya. Ia berbalik menghadap Ustadz Hasan dengan berurai air mata. Menunduk, menatap kedua tangannya yang berlumuran darah manusia lain.
Alfin menangkupkan kedua tangan pada wajahnya, jatuh tersungkur di pangkuan sang guru.
__ADS_1
"Pak Ustadz!" Alfin memeluk lutut laki-laki itu. Menumpahkan segala penyesalan yang mengungkung jiwanya. Dia tahu dia berdosa, ke mana pun dia lari tak akan ada manusia yang membenarkannya.
"Kenapa lagi? Apa yang menyebabkan kamu menangis?" tanya sang ustadz sambil membantu Alfin untuk beranjak.
Pemuda itu sesenggukan, duduk tegak dengan kepala tetap tertunduk. Kedua bahunya berguncang hebat, sesekali tangannya akan menyeka air mata.
"Sa-saya sudah membunuh orang, Ustadz. Saya sudah membunuh mereka," jawab Alfin terus kembali histeris tak dapat menahan diri.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Coba ceritakan sama saya seperti apa kejadiannya?" pinta sang ustadz dengan pembawaannya yang tetap tenang.
Terbata-bata Alfin menceritakan kejadian malam itu, diselingi isak tangis yang akan menyela ucapannya. Ustadz Hasan mendengarkan dengan sangat baik. Sesekali menganggukkan kepala, kemudian menegang. Lalu, mengusap dada lega sambil mengucap hamdalah.
"Subhaanallaah, walhamdulillaah, wa laa ilaaha illallaah, wallaahu Akbar! Insya Allah ... insya Allah taubat kamu diterima oleh Allah. Jangan berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya rahmat Allah itu luas. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, dan Maha Penyayang. Insya Allah!" ucap Ustadz Hasan sambil menepuk-nepuk bahu Alfin.
Pemuda itu berharap yang sama, semoga dirinya diterima oleh Allah. Sepanjang malam, Alfin mendengarkan nasihat dan petuah ustadz Hasan. Ia memutuskan untuk menatap di dalam masjid beberapa hari lamanya sampai hati benar-benar merasa yakin bahwa Allah menerima taubatnya. Bukan berarti meninggalkan Naina.
Pagi hari di rumah sakit, Khadijah duduk menunggu Naina yang masih memejamkan mata. Sinar mentari yang menerpa wajah, bahkan tak mampu membangunkan gadis itu dari tidurnya.
Khadijah menatapnya dengan lekat, sungguh malang nasib mempermainkannya. Namun, ia yakin, Naina adalah wanita tangguh pilihan Allah yang mampu menjalani semua ujian yang Allah berikan.
Bibirnya tersenyum tatkala Naina melenguh, wajahnya mengernyit, perlahan membuka mata dan tersentak sendiri.
"Alfin!" Naina terperanjat dari tidurnya.
Satu sosok yang dia cari dan ingin dilihatnya untuk pertama kali adalah Alfin.
__ADS_1
"Alfin! Di mana kamu?" Naina mencari-cari ke segala arah, tak ia temukan sosok Alfin.
Khadijah berdiri dan mendekatinya, merasa iba dengan kondisi kejiwaan Naina yang sudah pasti terguncang.
"Naina! Kamu tenang, ya. Alfin pergi ke masjid, dia nemuin anak-anaknya. Nggak ke mana-mana," ucap Khadijah sambil mengelus punggung Naina yang bergetar.
Gadis itu hampir menangis, mata dan wajahnya memerah. Bibirnya yang pucat gemetaran, bahkan napasnya memburu berat. Rasa takut jelas terpancar dari kedua sorot mata itu. Khadijah tidak tega melihatnya.
"Kakak, Alfin nggak ninggalin aku, 'kan? Dia cuma ke masjid, 'kan, Kak? Semua itu nggak benar, Kak. Kasih tahu Alfin, itu semua nggak terjadi," ucap Naina bergetar.
Khadijah tidak tega melihat wajahnya yang pucat, ia memeluk Naina menenangkan gadis itu.
"Nggak, sayang. Kamu tenang aja, ya. Dia cuma pergi ke masjid, nggak ke mana-mana. Nggak usah berpikir yang macam-macam, nanti kalo hatinya udah merasa tenang, dia pasti datang lagi ke sini," ucap Khadijah mengusap-usap kepala Naina.
Hati Naina tetap saja tidak merasa tenang, tapi ia berharap semoga apa yang diucapkan Khadijah memang benar-benar yang terjadi. Gadis itu mencoba menekan perasaannya, menenangkan hati dan menepis semua prasangka buruk tentang Alfin.
Khadijah melepas pelukan, mengusap wajah Naina dari keringat yang membasahi.
"Kamu laper nggak? Makan dulu, ya. Supaya cepat pulih," tanya Khadijah sambil menarik kursi untuk menyuapi Naina makan.
Naina tak berselera, hatinya menginginkan Alfin ada di sana. Dia mulai meragukan pemuda itu. Satu suap, dua suap, Naina menggelengkan kepala menolak suapan berikutnya.
Khadijah mendesah, meletakkan piring dan mengambil segelas air. Memberikannya kepada Naina. Dia memang menyayangi gadis itu dengan tulus, tak peduli seperti apa kondisi Naina, di matanya dia tetap gadis yang baik.
"Nggak usah mikirin yang macam-macam, semalam Alfin pamit sama Kakak. Katanya, kalo Naina nanyain dia ada di masjid. Doakan saja semoga Alfin dapat menenangkan dirinya," ucap Khadijah ketika kegelisahan semakin gelas terlihat di wajah gadis itu.
__ADS_1
Naina menghela napas panjang, menunduk sambil memainkan ke sepuluh jarinya menahan gejolak di dalam hati. Mengangguk pelan, meski hati merasa ragu.
Ya Allah, aku pasrahkan hidup dan matiku hanya kepada-Mu.