Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 34


__ADS_3

Kehangatan anggota keluarga itu terasa kental di hati Naina. Ia tak menduga, ibu Alfin bahkan duduk di sampingnya. Naina diapit dua wanita di rumah besar itu. Sementara Alfin duduk di sofa lain diapit sang kakak ipar, suami Khadijah, juga Ahmad. Mereka berbincang sesekali akan melirik calon istrinya.


Naina tak banyak bicara, hanya bibirnya sesekali akan terlihat tersenyum. Jika ditanya dia menjawab, jika tidak ia diam.


"Ini kedua anak Kakak. Yang laki-laki Yasir namanya, yang perempuan Nisa. Umur mereka cuma berjarak dua tahun aja," ucap Khadijah memperkenalkan kedua anaknya.


"Hallo, Kakak. Aku Muhammad Maulana Yasir," ucap si Sulung memperkenalkan diri.


"Aku Nur Annisa Ramadhani. Nisa senang akhirnya ada keluarga baru di rumah nenek," celoteh si Adik terlihat cerdas dan menarik.


Naina tertegun, memandangi keduanya. Bola matanya bergulir menatap bergantian kedua anak yang berdiri di depannya itu. Berselang, bibir Naina tersenyum, bahkan anak-anak saja begitu sopan di keluarga ini.


"Terima kasih. Aku Naina, cuma itu namaku. Senang bisa berkenalan dengan kalian," lirih Naina sedikit gemetar.


Dengan mata yang berembun, Naina memandangi keduanya. Si kecil Anissa merapat, memperhatikan dari jarak dekat setiap inci garis wajah Naina. Dengan tangan mungilnya, gadis kecil itu mengusap kedua sudut mata Naina.


"Maaf, ya, Kak. Ada air di mata Kakak. Kata Umi, kita nggak boleh nangis karena yang boleh nangis cuma bayi," ucapnya dengan suara menggemaskan.


Kini, perhatian semua orang tertuju pada keduanya. Terlebih dengan reaksi Naina yang tersedu saat wanita sepuh itu menyambutnya dengan pelukan.


"Kakak nggak nangis, kok. Ini tadi kena debu di jalan. Sedikit perih," jawab Naina berkilah.


Bibir Anissa yang tipis membentuk bulatan, terlihat menggemaskan di mata semua orang.


"Kalo boleh tahu Nak Naina di sini tinggal di mana?" tanya Aminah sambil memperhatikan wajah calon menantunya.


"Di rumah bibi, mmm ... Bu," jawab Naina ragu akan panggilannya sendiri. Dia benar-benar berhati-hati dalam memilih kata dan kalimat agar tidak menyinggung keluarga besar terpandang itu.


"Ooh, iya." Aminah manggut-manggut seraya menarik tubuh Nisa dari hadapan Naina, "Umi denger kamu kerja di toko seberang masjid Alfin?" tanya Aminah yang dibenarkan langung oleh Naina.

__ADS_1


"I-iya, Bu." Naina menjawab dengan lidahnya yang kelu.


"Panggil Umi aja nggak apa-apa kayak anak-anak yang lain." Aminah menyarankan.


Naina mengangkat wajah tak percaya, apa artinya dia sudah diterima? Hatinya bertanya-tanya, mencari jawaban.


"Kami udah tahu tentang kamu dari Khadijah. Nggak usah sungkan, rumah ini selalu terbuka buat siapapun." Aminah tersenyum sambil menganggukkan kepala.


Jatuh air mata Naina tanpa ia sadari. Mulutnya sedikit terbuka, sungguh kejutan luar biasa yang ia dapatkan malam itu. Beberapa saat tercenung, isak Naina mulai melirih. Bahunya terguncang ringan karena tangis yang ditahannya.


Naina kehilangan napas beberapa saat, sampai membuat rongga dada menyempit dan sesak. Ia tergugu, tersedu-sedan sambil menutup wajah. Tak kuasa lagi menahan keharuan di hati.


Aminah merasa bingung, mata tuanya menatap Khadijah dan Alfin bergantian meminta penjelasan dari mereka berdua. Akan tetapi, pemuda yang sejak tadi menatap mereka itu, ikut meneteskan air dari mata yang segera disapunya dengan cepat agar tidak terjatuh.


Kedipan mata Khadijah menjadi syarat untuk mereka membiarkan Naina menumpahkan tangisan. Aminah melirik Alfin, pemuda itu pun berpaling sambil menutupi wajahnya agar tangis yang turun tak terlihat orang lain.


"Aku ... aku ...." Naina tak dapat melanjutkan ucapannya karena tangis yang belum bisa ia hentikan.


"Nggak apa-apa, nggak apa-apa. Semua yang terjadi di dunia ini merupakan ujian buat kita. Yang kaya diuji dengan kekayaannya, yang miskin diuji dengan kemiskinannya. Begitu pula kita, masing-masing mendapatkan ujian sesuai porsinya supaya bisa naik kelas. Yang berhasil melewati ujian dengan nilai yang bagus, dia akan naik ke kelas selanjutnya dan ujian pun akan bertambah. Kamu nggak sendirian, sayang. Ada banyak orang yang menyayangi kamu di sini termasuk kami," tutur Aminah nyaris seperti bisikan di telinga Naina.


Aminah menghela napas, bergetar hatinya mendengar tangisan Naina. Tanpa diminta air jatuh dari matanya. Tak mudah menjadi gadis itu, apalagi dia sendirian dan kehilangan sosok ibu untuk selamanya.


"Kamu pernah denger satu ayat Al-Qur'an, di mana Allah mengatakan bahwa manusia itu mampu melewati setiap ujian. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus'ahaa. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Jika Allah menguji kita dengan suatu masalah, itu artinya Allah percaya kita mampu melewatinya. Satu kuncinya, jangan berputus asa dari rahmat Allah dan yakin Allah bersama orang-orang yang sabar."


Untaian demi untaian kata yang diucapkan dengan lemah lembut, menghadirkan ketenangan dalam hati Naina. Sama seperti Aminah, Lita pun sering menasihatinya untuk tetap tegar menjalani ujian. Berangsur-angsur tangisnya mulai mereda, hatinya menghangat berada dalam dekapan Aminah.


Suami Khadijah menepuk-nepuk bahu Alfin, menguatkan lelaki itu dari semua rasa sedih yang dialami Naina. Ia mengangkat wajah, tersenyum kemudian. Bersyukur dalam hati kedua orang tuanya bisa menerima Naina dengan segala masa lalunya.


Tak perlu lagi bercerita karena Khadijah lebih bisa mengambil hati mereka daripada dirinya. Lelaki tua bersorban hijau pun, turut tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


Yah, beruntung aku mau mendengarkan Khadijah dan melihat sendiri seperti apa gadis yang dipilih Alfin. Jika tidak, rasanya aku akan menyesali keputusanku hari ini.


Melihat Naina yang nyaman berada dalam pelukan Aminah, istrinya, Ahmad mulai bisa menerima sosok gadis tersebut.


Mungkin dia nggak lebih baik dari Nadia dalam segi ilmu agama, tapi dia sosok seorang anak yang membutuhkan kasih sayang keluarga. Aku nggak nyesel nerima dia sebagai istri Alfin. Anak yang pemalu, jujur dan paling berani yang pernah aku temui.


Hati tua Ahmad bergumam, memuji kesederhanaan Naina juga kejujurannya yang tak segan membuka siapa dia sebenarnya. Kebanyakan dari mereka akan bersembunyi dibalik kebohongan. Akan tetapi, Naina lebih memilih jujur dan berani mengambil resiko ditolak.


Karena itulah dia menangis, aku mengerti sekarang.


Naina mengangkat wajah dari dekapan Aminah, menatap wanita sepuh itu dengan mata merah dan basah.


"Makasih ... Umi!" tutur Naina bergetar diiringi lelehan air mata yang menetes. Bibirnya gemetar menahan tangis, matanya memancarkan ketulusan yang tak bertepi.


Aminah mengusap kedua pipi Naina, mengecup dahinya penuh cinta. Sudah lama rasanya ia tak merasakan sentuhan benda lembut itu di dahi. Air mata Naina kembali menetes, sebisa mungkin menahan tangis.


Hingga sebuah salam dari suara seorang laki-laki menggema di ruang tengah. Aminah berbalik membelakangi, mengusap wajah menghilangkan kesedihan. Begitu pula dengan Naina, menunduk dan mengusap wajahnya yang berair.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam!"


****


"Naina!"


****


Maaf Kakak-kakak semua, kalo akhir-akhir ini update tidak teratur dikarenakan kesibukan di dunia nyata, tapi insya Allah sehari dua bab.

__ADS_1


__ADS_2