Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 173


__ADS_3

Kabar kehamilan Naina tersebar begitu cepat, Alfin mengadakan syukuran di masjid bersama para jamaah pengajian. Disaksikan teman-temannya yang dulu, mereka sudah berubah banyak.


Wanita yang memfitnah Alfin menundukkan kepala sepanjang pengajian. Melihat kebahagiaan Alfin dan istrinya, ia sungguh merasa tak pantas lagi.


"Kamu lihat, mereka bahagia sekali, 'kan? Kamu tega mau merusaknya? Sebentar lagi mereka mau punya anak. Minta maaf sama mereka, Kakak yakin mereka punya hati yang pemurah. Mereka pasti memaafkan kamu," ujar sang kakak sembari menepuk bahu wanita itu.


Ia terisak, betapa berdosanya karena sudah menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan Alfin.


"Aku udah salah, Kak." Ia mendongak, menatap wajah sang kakak dengan mata yang basah.


Laki-laki itu tersenyum, mengusap rambutnya yang tertutup sebuah kerudung panjang.


"Kalo tahu salah, kamu juga pasti tahu harus ngapain, 'kan?" tanyanya dengan nada lembut.


Wanita itu mengangguk, masih terisak-isak pilu. Dia akan meminta maaf kepada Alfin juga istrinya. Keduanya kembali fokus mendengarkan tausiyah dari seorang ulama yang diundang masjid untuk mengisi pengajian sebelum ramadan.


Di antara mereka, ada keluarga Seira turut hadir dalam acara tersebut. Mereka terlihat bahagia, dengan Biya yang sesekali akan melirik ke arah Yusuf. Tak sabar menunggu bulan depan, di mana laki-laki itu akan menikahinya.


Mas Yusuf udah siap jadi imam aku? Pesan yang dikirim Biya membuat Yusuf berkeringat dingin.


Ia mengetik pesan balasan dengan tangan yang gemetar.


Insya Allah. Kamu siap jadi makmumku? Makmum yang selalu siaga untuk mengingatkan aku.


Balasan dari Yusuf membuat hati Biya ketar ketir jadinya. Jantung berdegup-degup tak karuan, seolah-olah akan melompat menemui sang pujaan. Oh, jatuh cinta berjuta rasa, ada rindu bila tak jumpa. Jatuh cinta berjuta rasa, ingin selalu mesra berdua.


Insya Allah, kalo itu imamnya Mas Yusuf.


Bunga-bunga bertaburan di dalam hati Yusuf, tak peduli lagi lingkungan. Yang ada dalam pandangan, hanya dia seorang. Gadis yang mampu meruntuhkan pertahanannya, yang mampu membuat rasa takutnya menjadi rindu.


Di lain sisi pula, seorang remaja celingukan kian kemari mencari satu sosok yang mengganggu harinya. Ia berdecak karena tak mendapati dia yang dicari.


"Eh, mau ke mana?" sergah Fatih disaat Fathya beranjak berdiri hendak keluar.


"Keluar bentar, Pah. Pengap," kilahnya sambil mengibaskan tangan di dekat wajah.


Masjid yang sangat luas itu, dipenuhi para jama'ah yang datang dari berbagai daerah. Fatih memaklumi, dan membiarkan Fathya untuk pergi.

__ADS_1


"Ya udah, jangan jauh-jauh. Kamu nggak kenal daerah ini, bukan kota kita, sayang." Peringatan Fatih diangguki Fathya.


Remaja itu keluar sambil melilau ke segala arah, mencari anak laki-laki Alfin yang menggaet hatinya.


"Dih. Kok, di mana-mana nggak ada, sih? Sebel." dia mengumpat kesal. Melanjutkan langkah ke arah gazebo yang tak banyak orang.


Duduk dengan pandangan awas melihat ke segala arah.


"Kakak, cepat! Aku mau ke Ibu!" Suara seorang anak laki-laki kecil mengusik telinga Fathya.


Ia menoleh ke belakang tubuh, ke arah gazebo yang lain. Orang yang dicarinya muncul, ditarik oleh anak yang berbicara tadi. Oh, dia tampan! Dingin, tapi ngenganin.


Fathya bersemu, tersenyum sendirian. Tangannya meremas udara gemas, ingin rasanya menarik remaja dingin itu.


"Iya."


Suaranya menggetarkan jiwa, sungguh merdu terdengar. Fathya ingin mendengarnya lagi dan lagi.


Jangan pergi!


Hatinya mencegah lirih, tapi lisan tak mampu berucap. Anak laki-laki yang menyeret tangan remaja itu menghentikan langkahnya saat melihat Fathya yang tak berkedip ke arah sang kakak.


"Kakak, itu bukannya anak yang dulu pernah ke sini? Sama jama'ah ustadz itu, Kakak ingat nggak? Dari Jakarta itu," tanya anak laki-laki tersebut menunjuk Fathya terang-terangan.


Namun, gadis itu bergeming, terhanyut oleh pesona seorang Wildan yang memabukkan. Dia baru setengah matang, tapi ranumnya bukan main, sangat menggoda. Wildan mengangkat pandangan, melihat ke arah yang ditunjuk sang adik.


Kedua ujung alisnya bertaut, mengingat-ingat sosok yang tersenyum-senyum sendiri di antara banyaknya jama'ah.


"Mungkin. Kakak nggak begitu kenal. Ayo!" Wildan menarik tangan anak tersebut dan membawanya pergi.


Tak nyaman rasanya mendapat tatapan dalam seperti yang dilakukan Fathya padanya.


"Eh? Kok, pergi, sih?" Fathya mendumel, menghentak-hentakkan kaki saat melangkah mengikuti sosok remaja laki-laki itu.


"Bener-bener, ya ... nengok, kek. Masa terus aja maju ke depan. Dia nggak tahu apa di belakangnya ada orang cantik ngikutin," racau Fathya semakin mempercepat laju kakinya.


"Ups!" Fathya menghentikan langkah secara mendadak karena remaja yang dibuntuti tiba-tiba menghentikan langkah.

__ADS_1


Telinganya yang tajam sangat awas, bukan dia tak sadar seseorang mengikuti. Hanya saja, dia tidak terlalu peduli. Seringkali hal tersebut terjadi padanya, Wildan sudah terbiasa.


"Kenapa, Kak?" tanya anak kecil di sampingnya.


Fathya waspada, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari tempat sembunyi. Lalu, berlari ke balik sebuah pilar masjid menyembunyikan diri menghindari tatapan mereka.


"Nggak ada apa-apa. Ayo, itu Ayah sama Ibu." Wildan kembali mengajak anak itu melangkah, mendekati Naina dan Alfin yang berada di dalam masjid bersama saudara-saudara mereka yang lain.


Fathya mengintip, tak sadar seseorang telah berdiri di depannya.


"Duh! Astaghfirullah!" pekiknya sambil memegangi dada, tubuhnya terpental menabrak pilar. Beberapa saat wajahnya memucat karena kehadiran sosok tersebut.


"Lagi ngapain?" Ia ikut melongo, dan tak ada hal yang mencurigakan. Lalu, kembali menatap Fathya yang masih memburu udara dengan rakus.


"Kamu, kok, kayak abis lihat hantu gitu, sih? Muka kamu juga pucet. Kamu sakit?" tanya gadis remaja lainnya sambil memperhatikan wajah Fathya.


Eh?


Anak Seira itu memegangi kedua pipinya, memastikan dia baik-baik saja.


"A-aku nggak apa-apa, kok. Kamu ngapain tiba-tiba di sini?" Fathya menunjuk sosok Salma yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Remaja itu mengangkat kedua tangan yang dipenuhi kantong plastik.


"Aku ngambil ini, buat dibagikan sama jama'ah yang baru datang," katanya sambil tersenyum ramah.


Fathya membulatkan mulutnya. Memang masih ada saja jama'ah yang datang.


"Aku bantu, ya? Nggak apa-apa, 'kan?" ucap Fathya mencoba mendekatkan diri kepada anak-anak Alfin.


"Oh, boleh. Yuk! Itu di gazebo ada yang baru dateng." Salma menunjuk para tamu yang baru saja turun dari mobil dan duduk di gazebo.


Fathya mengangguk, mengambil satu kantong besar berisi snack untuk dibagikan pada para jama'ah. Keduanya terlihat kompak, akrab, dan seperti memiliki ikatan persahabatan.


Diam-diam Wildan mendongak, dari tempatnya duduk ia dapat melihat kedua gadis remaja itu asik membagikan makanan.


"Kak, lihatin apa, sih? Kok, dari tadi lihat ke sana mulu?" cecar sang adik.

__ADS_1


"Nggak ada. Cuma lihatin jama'ah yang baru pada dateng. Malam ini, banyak banget yang datang. Nggak kayak kemarin-kemarin," kilah Wildan sembari menghela napas dalam. Ia melirik sang adik, dan mendesah lega.


__ADS_2