
Usai berpamitan pada Habsoh, istrinya, Adrian pergi menyusul seseorang yang ia lihat di lorong rumah sakit. Kakinya terus bergerak, sesekali akan bersembunyi di balik pilar saat mereka menoleh ke belakang.
Tiba di halaman rumah sakit, Adrian bersembunyi di balik sebuah mobil. Mendengarkan apa yang kedua orang itu bicarakan. Tingkah mereka yang menoleh ke segala arah mengundang kecurigaan Adrian. Mungkin saja dia bisa mendapatkan bukti dari apa yang sedang diselidikinya.
"Ngapain kamu nyusul ke sini? Kalo ada orang yang lihat gimana?" tegur wanita tersebut tak senang.
Ia mencebik, melipat kedua tangan di dada dengan kesal.
"Makanya aku bawa kamu ke sini. Ke mana aja kamu? Menghilang gitu aja, mau menghindar?" cerocos rekan laki-laki terlihat geram pada wanita di depannya.
Wanita itu berdecak, berpaling muka menghindari tatapan tajam lawan bicaranya.
"Menghindar? Aku cuma butuh waktu buat nenangin diri. Kamu pikir hidup aku tenang setelah kejadian malam itu? Emangnya kamu ... enak masih bisa datang ke tempat kerja tanpa rasa berdosa sama sekali. Aku ini perempuan." Dia menepuk-nepuk dadanya menekankan bahwa mereka tak sama.
Laki-laki itu berkacak pinggang, menatap nyalang pada wanita di depannya. Mereka memang tak sama, tapi mau bekerjasama melakukan kejahatan.
Adrian merasa apa yang mereka bicarakan sesuatu yang penting. Ia mengeluarkan ponsel, merekam keduanya dari balik badan mobil.
"Terus kamu mau lari dari tanggung jawab, gitu? Kamu mau lepas tangan gitu aja? Kita berdua sepakat merencanakan itu, dan kita juga yang harus mempertanggungjawabkan semuanya berdua. Kalo sampai polisi mencium bau kita, bisa-bisa kita berdua mendekam di penjara."
Adrian terhenyak mendengar ucapan itu. Kejadian apa yang mereka maksud.
Menarik. Apa yang kalian sembunyikan. Ayo, beberkan semuanya.
Batin Adrian bergumam, bersorak untuk mereka berdua agar membuka rahasia selebarnya.
"Bertanggungjawab? Bertanggungjawab apa? Mereka itu udah mati. Nggak akan ada yang kasih tahu siapa yang nyuruh mereka kalo di antara kita saling menjaga rahasia. Polisi nggak akan tahu karena nggak ada bukti yang mengarah ke kita. Jadi, berhenti menemui aku dan berpura-pura nggak kenal kalo ketemu. Kamu ngerti? Dan lagi semua itu rencana kamu, bukan aku," tegas wanita itu dengan kedua mata yang menjegil tajam.
Sang lawan bicara mendengus, berpikir apakah polisi benar-benar tidak akan menemukan mereka. Bagaimana jika mereka menemukan sebuah bukti? Maka, pastilah hidup mereka akan berakhir di penjara.
"Asal kamu tahu, laki-laki itu sekarang di penjara karena membunuh mereka," ujar wanita itu lagi menekan setiap kata yang ia ucapkan.
Bukan terkejut, apalagi bersedih, laki-laki tersebut justru tertawa mencibir. Terlihat senang bukan main.
__ADS_1
"Baguslah kalo gitu. Emang itu yang aku harapkan. Biarin aja dia mendekam di penjara, kalo perlu membusuk sekalian," katanya diakhiri tawa yang menggelegak.
"Diamlah. Kalo orang lain melihat, mereka akan curiga. Kamu mau ada yang mendengar ucapan kita," tegur wanita itu sambil memukul perut laki-laki tersebut.
Ia menghentikan tawanya, mengangkat tangan meminta maaf. Sungguh, mendengar kata penjara hatinya terus saja merasa bahagia.
"Setelah ini kamu jangan pernah nemuin aku lagi. Pura-pura aja nggak kenal. Jujur aja, tiap malam aku nggak bisa tidur tenang. Aku dihantui rasa bersalah, aku menyesal. Benar-benar menyesal karena udah ngikutin rencana kamu. Kalo tahu jadi begini, mending aku menolak permintaan kamu waktu itu." Ia menuding si Laki-laki dengan kejam.
Namun, bukan merasa bersalah, laki-laki itu justru menghendikan bahu sambil mencibirkan bibir.
"Tapi semuanya udah terjadi, 'kan? Kamu juga udah terima uangnya. Jadi, nikmatin aja semua sekarang. Yang penting kamu nggak buka mulut maka, semuanya akan aman," ujar laki-laki itu dengan entengnya.
Adrian yang bersembunyi menggeram marah, siapapun yang sedang mereka bicarakan, ia adalah korban dari ketamakan dua manusia laknat itu.
Kalian yang seharusnya mendekam di penjara, manusia tamak dan serakah. Bisanya memfitnah orang dan mengadu domba orang lain. Aku akan menyimpan bukti rekaman ini sampai semuanya jelas.
Adrian bergumam, tangannya tanpa sadar meremas ponsel di genggam. Tak henti hentinya mengutuk kedua manusia laknat itu.
"Itu yang aku sesali. Dalam sekejap mata aku sudah menjadi penjahat karena membantu kamu. Aku kira nggak akan sampai begini, makanya aku mau bantu kamu. Ternyata aku tertipu. Aku akan kembalikan uang kamu, aku nggak mau dihantui rasa berdosa seumur hidup aku," ujar wanita itu menyesali tindakannya yang ceroboh.
"Jangan coba-coba mengkhianati aku. Kamu tahu apa yang bisa aku lakukan terhadap kamu juga keluarga kamu, 'kan? Aku nggak akan pernah melepaskan kamu sekalipun dari dalam penjara!" ancam laki-laki tersebut sambil meluruskan telunjuk di depan wajahnya.
Wanita itu bergeming, mematri tatapan pada kedua mata laki-laki yang mengancamnya. Dengan berani, ia menggenggam tangan tersebut dan menurunkannya secara perlahan.
"Nggak perlu ngancam aku. Kamu tenang aja, aku nggak akan membocorkan rahasia ini. Aku cuma merasa bersalah karena semua itu terjadi, ada turut campur tanganku dan aku menyesal," ucapnya sembari menggelengkan kepala.
Ia mendesah, membuka pintu mobil tanpa ingin mendengar sahutan dari lawan bicaranya. Adrian terburu-buru mematikan kamera. Duduk meluruh di atas aspal ketika laki-laki itu menoleh tepat ke arahnya bersembunyi.
Namun, ia mendesah lega saat pintu mobil terbanting, menyusul bunyi mesin menderu dan perlahan pergi meninggalkan parkiran rumah sakit.
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Aku harus mencari tahunya." Adrian bertekad, perlahan beranjak dan meninggalkan parkiran.
Ia hendak kembali ke dalam rumah sakit menemui sang istri, tapi dering ponsel berbunyi. Telpon dari seseorang yang disuruhnya untuk mengikuti ke mana Naina pergi.
__ADS_1
"Yah, ada apa?" tanya Adrian begitu telpon tersambung.
"Pak, mereka pergi ke kantor polisi. Saya melihat laki-laki itu mengajak anak Bapak masuk ke dalamnya," lapor laki-laki itu sesuai dengan apa yang dilihatnya.
"Ngapain mereka di kantor polisi? Kamu harus cari tahu. Aku akan ke sana sekarang juga!" pinta Adrian seraya mematikan sambungan dan terus mengubungi Habsoh.
Adrian bergegas mendekati mobilnya, masuk dan dengan cepat menginjak pedal gas menuju lokasi yang dilaporkan orang suruhannya.
Ban mobil berdecit begitu tiba di depan kantor polisi. Adrian keluar, orang suruhannya itu dengan cepat menghadap.
"Apa yang kamu dapat?" tanyanya.
"Saya dengar ada tahanan yang mau bertemu dengan anak Bapak. Sekarang, mereka di dalam," ucapnya.
Adrian tak senang mendengarnya, dengan geram masuk ke dalam kantor polisi dan memanggil nama Naina. Dia melihat polisi muda yang membawa Naina, menghampirinya dan bertanya tentang gadis itu.
"Dia di dalam. Mereka harus berbicara, Pak. Berikan mereka waktu," pinta Bas dengan ramah.
Adrian tidak mau tahu, lekas mendatangi ruangan tersebut dan memanggil Naina.
"Naina! Sayang! Kamu di dalam?" Berselang, pintu tersebut terbuka. Adrian menatap nyalang pemuda yang duduk dengan tegang. Mata tajam mereka beradu, Alfin bergeming tak gentar.
Tanpa dapat menjelaskan, tangan Naina disambar laki-laki itu.
"Kalo tahu kamu mau ke sini nemuin seorang kriminal ... ah, ayo pulang!" Adrian menarik tangan Naina dengan cepat.
"Tunggu dulu, Nai bisa jelasin," pinta Naina memelas.
"Jelasin di rumah. Nggak di sini!"
Naina menoleh pada Alfin, laki-laki itu berdiri menatapnya dengan sedih.
"Nanti aku datang lagi," janji Naina sebelum pintu itu tertutup.
__ADS_1
Jatuh air mata Alfin, hatinya bertanya-tanya siapakah laki-laki yang membawa pergi calon istrinya itu?