
Awan senja telah memayungi bumi ketika motor yang dikendarai Alfin bersama Busyro tiba di parkiran rumah sakit. Mata pemuda itu melilau ke segala arah, mencari-cari kendaraan lain. Tak ia temukan selain milik aparat di sana.
"Kak!" Bergetar hati Alfin ketika sebuah firasat buruk datang menghantam jiwanya.
Busyro menepuk bahu sang adik, menenangkannya agar tetap berpikir positif.
"Kita masuk dulu. Mudah-mudahan beliau belum membawa Naina pergi," ujarnya dengan tenang.
Alfin menurut, mengekor di belakang Busyro memasuki gedung yang beberapa saat lalu baru ia tinggalkan. Keadaan tempat tersebut terasa sunyi senyap, tak ada riuh rendah suara-suara, ataupun derap langkah para pekerja di dalamnya.
Mata mereka memindai ke segala arah, mencari sosok polisi muda untuk ditanyai.
"Bas!" panggil Alfin segera saat melihat laki-laki itu.
"Alfin?" Kedua alis Bas saling bertaut satu sama lain. Ia berjalan menghampiri, dan mengajak mereka untuk duduk.
"Aku tahu, kamu datang pasti mencari Naina," sela Bas di saat Alfin hendak mengutarakan maksud kedatangannya.
Pemuda itu mengangguk cepat, berharap yang dicarinya masih berada di tempat. Namun, gelengan kepala dari polisi muda itu, sudah menjawab kegelisahannya.
"Kamu terlambat. Baru saja dia pergi bersama papahnya." Bas melipat kedua tangan di perut. Sedikit iri dengan keberuntungan yang dimiliki Alfin, tapi ia juga sadar diri mungkin amal ibadahnya tak segencar yang dilakukan pemuda di hadapan itu.
"Kamu tahu ke mana mereka pergi? Kumohon, Bas. Aku nggak mau kehilangan Naina, aku nggak mau pisah lagi dari dia," ujar Alfin mengiba pada kawannya itu.
Bas menghela napas, mengurai tangan seraya mengaitkan keduanya di atas meja. Ia menatap dalam-dalam manik Alfin yang dipenuhi derita dan kesedihan. Laki-laki itu benar-benar menyedihkan.
"Aku nggak tahu, Alfin. Yang aku tahu dia pemilik toko tempat Naina dulu kerja. Selebihnya aku nggak nemuin alamat pribadi. Mungkin kamu bisa datang ke toko itu dan bertanya sama karyawan di sana," saran Bas, meski kesal dengan sikap Alfin, ia tetap menginginkan kebahagiaan untuknya.
"Ya udah. Makasih, Bas. Aku mau langsung ke sana. Aku nggak mau terlambat lagi," ucap Alfin terburu-buru bangkit dari duduknya disusul Busyro.
__ADS_1
"Selamat berjuang! Semoga kamu berhasil, Kawan!" seru Bas sambil melambaikan tangan dan menggigit bibirnya sendiri.
Alfin tidak menyahut, hanya membalas lambaian tangan laki-laki itu saja. Setelahnya, motor mereka melesat pergi meninggalkan gedung tersebut.
"Cepat, Kak! Siapa tahu mereka ada di sana," pinta Alfin pada sang kakak yang mengendarai motornya.
"Sabar! Ugal-ugalan di jalan itu nggak baik. Kamu ingat, 'al'ajalatu minasy-syaaithooni. Terburu-buru itu pekerjaan syaithon. Jadi, tenang, sabar. Nanti juga sampe," sahut Busyro dengan santai.
Alfin berdecak, tak seperti dirinya yang mengendarai motor secepat kilat tanpa rasa takut. Busyro lebih berhati-hati dalam melakukan segala hal. Pemuda itu menghela napas, menyesal karena tidak mengambil alih kemudi.
****
Di masjid, Naina berkumpul bersama semua anak-anak di sana. Menikmati kebersamaan, aneka makanan dan minuman yang dibelanjakan Adrian di tokonya sendiri.
Ia tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Naina. Duduk bersama Ustadz Hasan mendengarkan nasihat-nasihatnya.
Hati Adrian tertohok, mengira bahwa sang ustadz belum tahu jika Naina terlahir dari sebuah kesalahan.
"Itulah yang saya sesali, Ustadz. Dosa-dosa yang saya lakukan di masa lalu, kini harus ditanggung Naina. Seharusnya saya yang menderita, dia nggak tahu apa-apa. Dia lahir karena kesalahan yang saya dan ibunya lakukan, tapi saya tetap bersyukur karena Naina masih mau nerima saya," ungkap Adrian menundukkan kepala dalam-dalam.
Rasa sesal yang menyelimuti hatinya, semakin merundung jiwa.
"Saya tahu. Dia diasuh oleh sosok ibu yang hebat. Naina sangat pandai menjaga diri, bahkan dengan Alfin saja dia tetap menjaga jarak. Anda sudah mengenal Alfin?" Ustadz Hasan menatap Adrian.
Laki-laki itu mendongak, balas menatapnya dengan sedih. Teringat pada kisah cinta sang anak yang rumit. Terlalu banyak duri yang harus mereka lalui. Namun, ia tak ingin Naina bernasib sama seperti dirinya, yang kehilangan cinta.
"Sudah, Pak. Di penjara kemarin sebelum Naina menggantikannya," jawab Adrian. Tak terlihat gurat kebencian di kedua maniknya yang hitam. Sebab bukan Alfin yang membuatnya kesal, tapi ibu pemuda itu.
"Mereka memang luar biasa, Pak." Ustadz Hasan menghela napas, memandang Naina yang tertawa bahagia bersama anak-anak Alfin.
__ADS_1
"Rasa cinta yang Allah titipkan di hati mereka itu murni, nggak ada unsur hawa nafsu. Mereka bisa saling menjaga, saling melengkapi satu sama lain. Alfin membutuhkan teman seperti Naina, dan Naina mampu mengimbangi perjalanan Alfin yang keras. Seandainya mereka berpisah, maka tercerai pula harapan untuk mengukuhkan iman mereka." Ustadz Hasan menoleh pada Adrian, memandangnya lekat-lekat.
Sementara laki-laki itu, terus menatap pada gadisnya.
"Saya sendiri nggak tahu, Ustadz. Saya nggak punya keberanian memisahkan cinta mereka, saya hanya merasa sedikit tersinggung oleh ucapan ibu pemuda itu yang menyebabkan anak saya menukar kebebasannya dengan kebebasan Alfin. Entahlah, Ustadz. Mungkin saya akan menerima mereka kalo ibu pemuda itu datang meminta maaf," ujar Adrian seraya mengalihkan pandangan menatap manik meneduhkan di depannya.
Ustadz Hasan manggut-manggut mengerti. "Manusiawi. Terkadang saya juga masih merasa tersinggung saat seseorang menyentuh hal pribadi milik saya. Hanya saja, jangan sampai keegoisan kita justru akan menyakiti banyak orang, atau bahkan menimbulkan masalah baru yang membuat semuanya semakin rumit," tutur sang ustadz yang didengarkan dengan baik oleh Adrian.
"Saya sendiri sudah menguji seberapa besar cinta Alfin untuk Naina. Seberapa ingin dia membuat gadis itu bahagia, dan seberapa kuat tekadnya untuk melindungi Naina dari segala hal yang membuatnya celaka. Sampai-sampai dia lepas kendali dan ... ya, Bapak tahu sendiri sekarang gimana, 'kan?" cetus sang ustadz memberitahu Adrian perihal perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan Alfin.
Adrian menghela nafas, sekali melihat saja dia tahu bahwa Alfin adalah laki-laki yang baik, yang kebaikannya belum pernah dia temukan dari laki-laki manapun.
"Jadi, menurut Ustadz saya harus bagaimana?" tanya Adrian bingung.
"Kita serahkan pada keduanya. Beri mereka kesempatan untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. Sebagai orang tua, kita harus berdiri di tengah-tengah mereka, mendengar isi hati mereka, dan memberi solusi dengan bijak. Apakah Bapak siap menerima Alfin sebagai suami anak Bapak?" ujar pak ustadz sambil tersenyum.
Adrian meneguk ludah, gamang dengan jawabannya sendiri.
"Saya ...."
****
"Ibu nggak akan pergi ninggalin kita, 'kan?" Pertanyaan Halwa yang begitu tiba-tiba, menyentak tubuh Naina.
Canda tawa yang sejak tadi terdengar seketika berubah senyap. Naina memandang mereka yang menunggu jawaban darinya.
"Nggak, Ibu nggak akan pernah ninggalin kalian." Ia tersenyum seraya merengkuh tubuh mereka ke dalam pelukan.
"Naina!"
__ADS_1