Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 180


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, perut Naina membesar seiring waktu. Ia dan Alfin berjalan beriringan sambil menyeret sebuah koper berisi keperluan Salma untuk tinggal di Jakarta.


Gadis remaja itu tengah menangis dikelilingi semua saudaranya. Terutama Halwa yang padanya dia selalu bermanja.


"Udang, dong. 'Kan, Kakak di sana juga mau belajar biar cita-citanya tercapai. Jangan ditangisin lagi, ya." Naina duduk di dekat Halwa, mengambil anak itu dan memeluknya.


Tak lupa juga tangannya dengan lembut mengusap kepala masing-masing anak memberi mereka pengertian.


"Ibu bener. Kita seharusnya mendukung Salma untuk mencapai cita-citanya bukan malah menghambat kepergiannya. Adek-adek, udah, ya. Biarin Salma pergi," ucap Wildan ikut memberi pengertian kepada adik-adiknya.


Dengan berat hati mereka melepas kepergiannya, pun dengan Naina. Namun, demi cita-cita yang diimpikannya, mereka harus rela menerima takdir perpisahan yang hanya sementara itu.


"Ayah, pergi, ya. Kalian di rumah jaga Ibu dan Adek bayi di perut Ibu. Coba lihat, Ibu udah kepayahan buat jalan juga." Alfin tersenyum getir, disambut tawa oleh sebagian anak.


"Hati-hati, Yah. Kakak Salma juga."


"Jangan lupa pulang."


"Nanti Kakak pulang, 'kan, kalo Ibu lahirin adek?" tanya Halwa dengan polosnya.


Salma menangkup wajah adik bungsunya dengan gemas.


"Iya, sayang. Nanti Kakak pasti pulang kalo Ibu lahiran. Kakak juga mau nemenin Ibu," sahut Salma sambil memeluk tubuh Halwa.


Ia beranjak berhadapan dengan Naina. Pertemuan mereka yang terbilang masih sangat baru meninggalkan kesan mendalam di hati Salma. Bagaimana sikap Naina terhadap dirinya juga adik-adik, selayaknya seorang ibu kandung kepada anak-anaknya.


"Kamu hati-hati di sana, ya. Jangan lupa sama pesan-pesan Ayah. Ini, Ibu buatkan ini untuk kamu. Jangan menyusahkan tante Biya sama om Yusuf. Kalo ada keperluan kamu pakai uang yang di sini, tapi ingat juga jangan gunakan untuk hal yang tidak perlu." Naina mengingatkan anaknya, menarik tubuh Salma ke dalam dekapan.


Bukannya tak sedih dengan perpisahan itu, tapi cukuplah dia seorang yang tak dapat mengejar cita-cita karena keterbatasan. Semua anak-anaknya harus dapat mewujudkan apa yang menjadi impian mereka.


"Makasih, Bu. Salma nggak akan pernah lupa nasihat Ayah sama Ibu. Salma sayang Ibu." Gadis remaja itu menangis dalam dekapan Naina, menjatuhkan air mata wanita hamil itu karena guncangan tubuhnya.


Salma menggenggam sebuah ATM di tangannya, berjanji dalam hati akan menggunakan uang yang diberikan kedua orang tua itu dengan sebaik-baiknya. Salma melepas pelukan, dan masuk ke dalam mobil diikuti adik-adiknya.


Naina mendekati Alfin, berhambur memeluk laki-laki itu. Menangis tanpa suara, merasakan pahitnya perpisahan.


"Kamu hati-hati di rumah. Kalo butuh bantuan bilang saja sama Wildan dan yang lainnya. Nanti sore Mas pulang lagi." Alfin mengecup ubun-ubun Naina.


Wanita itu menganggukkan kepala dengan mata terpejam. Alfin mengurai pelukan, mengusap air mata di pipi istrinya. Hal tersebut dilihat Wildan, seketika ia tahu bahwa ibunya itupun berat berpisah dengan Salma.


"Jangan menangis. Kamu harus menjadi kekuatan untuk anak-anak. Kalo kamu menangis, mereka juga akan ikut-ikutan menangis. Mas pergi, ya." Alfin memeluk singkat istrinya, mencium seluruh wajahnya.


Naina memanggil anak-anak untuk berkumpul dengannya. Melepas kepergian Alfin dan Salma yang hendak mengejar cita-cita.

__ADS_1


"Hati-hati, Ayah, Kakak!" teriak mereka sambil melambaikan tangan.


"Ibu, Kakak nggak akan lupa sama kita, 'kan?" Halwa berbalik menghadap Naina, mendongak saat melontarkan pertanyaan itu.


Tangan Naina dengan lembut mengusap rambutnya, tersenyum juga meyakinkan hati gadis kecil itu.


"Nggak akan pernah, sayang. Kakak nggak akan pernah lupa sama kita, apalagi sama kamu. Kakak pasti pulang ke rumah," ucap Naina.


Semua anak-anak itu tersenyum, termasuk Wildan. Senyum yang sangat jarang sekali terlihat di wajah itu.


****


Berbulan telah berlalu, acara pesta tujuh bulanan Naina pun telah digelar meriah oleh kedua belah pihak. Terutama Habsoh dan Adrian yang begitu antusias menyambut cucu pertama mereka.


Dua bulan pun berlalu, Naina mulai banyak mengeluh. Tak dapat tidur nyenyak, gelisah setiap malamnya. Berguling kian kemari, tapi tak menemukan posisi yang pas. Rasa ingin selalu buang air kecil pun membuatnya tak nyaman.


Tepat malam itu, perutnya mulai menandakan reaksi. Hanya beberapa saat saja, kemudian hilang kembali. Sampai pagi hari, ia duduk di teras rumah, melihat anak-anak bermain di halaman. Ayah mereka pergi ke toko karena ada pesanan yang harus ditandatangani.


"Ugh!" Naina melenguh sambil memegangi perutnya.


Wildan yang melihat bergegas menghampiri.


"Ibu kenapa?" tanyanya cemas.


"Perut Ibu sakit. Tolong telpon Ayah, minta Ayah pulang, ya."


Wildan berlari masuk ke dalam rumah, mengambil ponsel Naina dan menelpon Alfin dengan segera.


"Ibu!" Mereka berhambur mendekati Naina, menemani wanita itu berjuang melawan sakitnya melahirkan.


"Ibu, Ayah di jalan. Apa aku boleh menelpon tante Biya? Salma juga mau menemani Ibu melahirkan," ucap Wildan meminta izinnya.


Naina menganggukkan kepala sambil tersenyum. Rasa sakit yang hilang timbul masih dapat ia tahan, masih bisa tersenyum dan berbincang. Mengatakan kepada semua anak-anak kalo ia baik-baik saja.


"Sayang! Humairah! Ya Allah!" Alfin sigap membantu istrinya beranjak, anak-anak masuk lebih dulu ke dalam mobil. Mereka ingin menemani ibunya melahirkan.


****


"Tenang, Pak. Ini masih pembukaan satu. Bapak jangan panik, ya." Dokter menenangkan Alfin, di sebuah ruangan khusus Naina ditempatkan.


"Mas, ih. Pembukaannya ada sepuluh, ini masih lama. Panik banget, sih," ucap Naina sambil tertawa geli.


Aminah dan yang lainnya ikut datang, juga Habsoh dan orang-orang di rumahnya. Mereka berkumpul di rumah sakit menemani Naina.

__ADS_1


"Mas, heboh, ih. Pake bilang-bilang sama mereka. Nanti aja kalo udah keluar bayinya," ucap Naina gemas.


"Nggak apa-apa, biar kamu tahu kalo ada banyak orang yang sayang sama kamu." Alfin mengusap kepala istrinya.


****


Beberapa jam berlalu, rasa sakit semakin hebat dirasakan Naina, tapi dokter mengatakan masih pembukaan tiga. Astaghfirullah al-'adhiim!


"Ibu!" Salma berlari masuk ke dalam ruangan, langsung memeluk Naina yang tengah kepayahan. Menangis melihat penderitaan wanita itu.


"Nggak apa-apa, sayang. Ibu nggak apa-apa, jangan nangis. Doakan saja sama adik-adik semoga ibu dan adik bayi sehat selalu."


Salma menganggukkan kepala. Dia bersyukur karena tidak terlambat datang.


Naina dibawa dokter masuk ke dalam ruang bersalin, hanya diikuti Alfin seorang. Di luar, semua orang tak henti berdoa untuk kemudahan Naina.


Setiap kali mendengar erangan, mereka berharap bayi itu akan keluar. Alfin tak henti membisikkan kalimat-kalimat thoyibah di telinga sang istri, menguatkan wanita itu untuk menghadirkan si buah hati. Ditiupnya ubun-ubun Naina, sambil sesekali menciumnya.


Tangisan bayi di sore hari itu menggelegar. Semua orang berucap syukur, sambil berpelukan dan menangis. Seira dan keluarganya juga turut hadir mengantar Salma bersama Biya dan Yusuf.


"Alhamdulillah, ya Allah. Alhamdulillah. Makasih, sayang. Kamu udah berjuang dengan sangat keras melahirkan buah hati kita. Kamu wanita yang hebat, wanita yang tangguh. Aku sayang kamu." Alfin mengecup dahi Naina, menempelkan dahinya di sana.


Air mata mereka berbaur menjadi satu, menandakan kebahagiaan yang tiada tara.


"Selamat, Pak. Bayinya laki-laki, tampan dan sehat. Silahkan diadzani, Pak!" ucap seorang perawat memberitahu Alfin.


Laki-laki itu berpamitan kepada Naina setelah mengecup dahi wanita itu. Mendekati box bayi bersiap melakukan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.


Dengan derai air mata, ia melantunkan adzan dan iqamah di kedua telinga sang bayi.


"Selamat datang ke dunia ini, anakku, Muhammad Syauqi Asy-Syakiir."


Kebahagiaan keluarga mereka sempurna, kehidupan Naina pun tak lagi dirundung kesedihan juga penderitaan.


"Senyum!"


Seorang fotografer memotret momen bahagia itu.


\=END\=


****


Terima kasih author haturkan kepada para pembaca setia yang mengikuti kisah cinta Naina dari kecil hingga memiliki si Kecil. Alhamdulillah, kisah Naina berakhir. Kita lanjut bertemu di novel selanjutnya. Terima kasih banyak. Sayang kalian semua.

__ADS_1


__ADS_2