Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 174


__ADS_3

Malam bertabur bintang, rembulan menyelinap terang. Langit cerah mendukung jalannya acara pengajian, syukuran atas sebuah kehamilan. Di bawah taburan tarian bintang, sepasang muda mudi duduk berjauhan. Tingkah mereka sungguh menggemaskan.


Sesekali akan mencuri pandang, melirik menahan kerinduan. Lalu, tersenyum kemudian. Malu-malu menggambarkan perasaan. Yusuf, menyeka keringat yang terkadang bermunculan. Datang tak tepat waktu, sungguh memalukan.


"Mas Yusuf gimana kabarnya?" Suara tanya lembut mengalun membentuk keindahan. Meronta-ronta jantung Yusuf meminta dilepaskan.


"Alhamdulillah, ba-baik. Gimana kabar kamu?" Terbata ia memberi jawaban. Lidah yang tiba-tiba kelu tak dapat digerakkan, memang harus dipaksakan.


Tawa itu kembali mengiang, menggelitik hati Yusuf membuatnya melayang.


"Alhamdulillah. Jadi, nanti Mas Yusuf mau langsung nikahin aku?" Pertanyaan lanjutan, membuat tubuh Yusuf gemetaran.


"I-iya. Insya Allah." Ya Allah, kenapa penyakit ini tidak Kau hilangkan?


Yusuf membatin merasakan seluruh tubuhnya dirambati cairan. Panas dingin rasanya, ingin menghilang dari pandangan. Sungguh, memalukan.


"Aamiin. Nanti kita tinggal di mana, Mas?"


Astaghfirullah al-'adhiim! Gusti! Tolong benarkan hatiku. Apa aku nikahi aja dia sekarang, ya. Bos! Gimana ini?


Yusuf gelisah, menundukkan kepala dengan jari yang dimainkan. Jawaban seperti apa yang Biya inginkan? Entahlah, apa yang harus dia katakan.


"Terserah, Adek. Mau tinggal di mana? Mas nggak masalah." Meluncur dengan lancar, jawaban dari lisan.


Biya tercengang, dengan apa dia memanggil barusan? Oh, hatinya melayang-layang di awan. Terbang hingga menyentuh rembulan.


"Aku ikut Mas Yusuf aja. Kalo tinggal di Jakarta juga kejauhan, kasihan bolak-baliknya jauh. Kalo seminggu sekali pulang, nanti kangennya jadi berat," goda Biya suka sekali gadis itu melihat Yusuf dilanda kegugupan.


Ah? Bagaimana nanti di malam pertama pernikahan? Dia pasti sangat menggemaskan.


Yusuf berbalik dengan tiba-tiba mengundang keterkejutan. Kulit dahi gadis itu membentuk lipatan, menatap dengan keheranan.


"Kita nikah sekarang aja, yuk, Dek. Kamu godain aku terus. Aku jadi nggak mau nunggu lagi," ucap Yusuf spontan.

__ADS_1


Mata lentik Biya berlomba dalam kedipan, bibir terbuka menerima sebuah kejutan. Tak mengira Yusuf akan mengatakan itu kemudian. Ia kembali tertawa menghantarkan kegelisahan. Yusuf berbalik memunggungi karena terbawa perasaan.


Tegukan demi tegukan ia lakukan untuk membasahi tenggorokan. Sungguh malu rasanya karena Biya membuatnya tak dapat lagi menahan godaan.


"Coba aja bilang sama Kakak. Kak Fatih wali aku. Kalo diizinkan malam ini kita nikah, tapi Mas Yusuf udah nyiapin segalanya? Mahar atau yang lain? Aku juga udah daftar di KUA buat pernikahan kita nanti," ucap Biya sambil mengulas senyuman.


Yusuf salah tingkah, kelopak mata rapat ia pejamkan. Terlupa bahwa sudah mengirimkan berkas ke rumah Biya di Jakarta untuk pernikahan.


"Mas lupa. Ya udah, nanti di sana aja nikahnya." Tanpa berbalik, ia mengatakan.


Biya benar-benar meruntuhkan keimanan. Terbayang dalam benak, bagaimana jika nanti mereka berada di dalam satu ruangan?


Ya Allah.


"Ngomong-ngomong kenapa Mas Yusuf selalu keringetan kalo lagi deket aku?" tanya Biya penasaran. Sudah lama pula hatinya ingin menanyakan, tapi ada rasa tak enak yang menjadi halangan.


"Nggak tahu. Mas selalu gugup kalo deket perempuan," jawab Yusuf dengan kepala yang ditundukkan.


Biya mengulas senyuman, memberi pemakluman. Lalu, mengedarkan pandangan pada sekeliling masjid yang sudah lengang. Hanya terlihat berbagai orang warga juga anak-anak Alfin yang melakukan pembersihan.


Yusuf mengangkat pandangan, berkerut dahi lalu mengulas senyuman.


"Itu anaknya si Bos. Kenapa, kok, gadis yang di belakang itu ngekor terus ya?" Yusuf bertanya sambil memperhatikan. "Namanya Wildan, anaknya jarang banget ngomong. Irit, tapi paling perhatian, paling peduli sama bos. Cita-citanya menjadi penerus si Bos menjaga keamanan, ketentraman, kedamaian masjid ini."


Yusuf melanjutkan, tanpa diminta ia memberikan keterangan. Mungkin saja keluarga Fatih berniat menjadikannya bagian. Lalu, menoleh pada Biya dan bertemu pandangan. Keduanya mengukir senyuman, penuh arti kekaguman.


Terenyuh perasaan, sungguh mulia yang dia cita-citakan. Sangat jarang sekali anak muda yang memiliki tujuan kemuliaan. Meramaikan rumah Allah agar selalu hidup dan tentram.


"Anak yang baik. Dia manis sekali." Biya memuji penuh kejujuran, dia pemuda idaman. Pantaslah Fathya menaruh perasaan. Cinta monyet memang manis menggemaskan.


****


Di dalam masjid, Alfin dan yang lainnya duduk berkumpul larut dalam perbincangan. Hati rapuh Habsoh diliputi kebahagiaan, duduk berdampingan tanpa beban. Ia membawa tangan Naina ke dalam genggaman, menyalurkan kehangatan juga kekuatan.

__ADS_1


Dia pernah ada di posisi Naina, mengandung buah pernikahan meskipun tak kesampaian. Ia akan menjaga Naina agar apa yang dialaminya tak terulang dirasakan.


"Selamat, ya, Nak. Ibu seneng dengernya. Mudah-mudahan bayi kamu sehat-sehat terus," ucap Seira penuh perhatian.


"Aamiin. Makasih, Bu. Jujur aja Nai deg-degan." Naina mengusap-usap dadanya merasakan jantung yang berdebaran.


"Nggak apa-apa. Rileks aja, yang penting jangan banyak pikiran." Habsoh menepuk-nepuk tangan mereka yang bertautan.


Ada bi Sari di sana dengan segala rasa yang berkecamuk penuh penyesalan. Dia pernah mengusir gadis kecil itu tanpa belas kasihan. Pernah membentaknya, melimpahkan padanya semua kesalahan. Padahal, dia tidak mengerti apapun permasalahan. Gadis yang tak berdosa harus memikul beratnya beban.


Kini, senyum di wajahnya dipenuhi kebahagiaan. Tak ada lagi tangis kesedihan, di sisinya ada seorang suami yang siaga dalam penjagaan. Juga seorang ibu yang memberikan perhatian.


Kamu pasti bahagia, Lita. Punya anak luar biasa kayak Naina. Dia istimewa. Maaf, karena dulu aku pernah membentaknya.


Batin tua bi Sari bergumam penuh kegetiran. Membayangkan dirinya di posisi Naina kala itu, sungguh amat menyakitkan. Kaki ringkihnya rela menerjang hujan, tapi bukan kata maaf yang ia dapatkan. Melainkan sebuah penolakan.


Bi Sari mengusap air mata yang secara tiba-tiba berjatuhan. Bulir-bulir yang menandakan penyesalan. Ingin ia bersujud dan meminta ampunan, atas semua kesalahan yang telah dilakukan.


"Bu, di mana Fathya? Aku nggak lihat anak itu ada di sini," tanya Naina mengedarkan pandangan. Memeriksa setiap kepala mencari-cari sosok yang selalu ingin dimanjakan.


"Tadi, sih, pamit. Bantu-bantu anak Alfin beres-beres katanya," jawab Fatih sekilas ia melihat Fathya bersama Salma membersihkan lingkungan.


"Oh ...." Bibir Naina membentuk bulatan, tertawa kegelian.


Mudah-mudahan sukses perkenalannya.


Teringat pada Wildan, bocah ingusan yang mendapat perhatian. Mungkinkah Fathya sedang melakukan pendekatan? Dasar bocah, dia lebih dulu mengambil tindakan.


"Eh, Pah. Coba lihat!" Seira menarik pakaian Fatih agar menoleh ke depan.


Di sana, Fathya tengah berbincang dengan seseorang. Seorang remaja yang memiliki wajah manis dan menyejukkan.


"Bukannya itu anak Alfin?" Fatih bergumam.

__ADS_1


"Namanya Wildan. Mungkin umur mereka sama, atau bisa juga lebih tua karena anak itu sangat pendiam. Sekolahnya terlambat sebab takut pada lingkungan." Alfin memberitahu mereka.


"Dia kalem, anaknya irit bicara. Kalo ngomong pasti tepat, nggak ada basa-basi, tapi sangat perhatian sama semua saudaranya." Naina ikut menimpali.


__ADS_2