Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 110


__ADS_3

Suara yang didengar Habsoh semakin nyata di telinganya. Ia menuruni anak tangga untuk mengintip siapa yang sedang membuat suara-suara. Itu seperti suara pintu gerbang rumahnya yang dibuka seseorang.


Ia berdiri di jendela, membuka tirai dan mengintip seseorang yang tengah membuka gerbang dari luar. Lalu, menuntun sepeda motor memasuki halaman besar tersebut. Seperti maling, sosok yang tersembunyi di dalam kegelapan itu mengendap.


Mengernyit dahi Habsoh, tangannya merayap mencari apa saja untuk dijadikan senjata. Ia bersiap dengan sebuah tongkat kayu yang ditemukan. Habsoh mendekati pintu, menunggu sang penjahat.


Suara langkah terdengar menapak di atas teras, semakin erat pegangan Habsoh pada tongkat tersebut. Ia menunggu ... satu detik ... dua detik ... pintu tak kunjung terbuka. Kerutan di dahinya semakin dalam, menunggu tak sabar. Sampai ....


Tok-tok-tok!


"Assalamualaikum!"


Habsoh tertegun mendengar suara salam dari luar rumahnya.


"Alfin?" Ia bergumam mengenali suara sang menantu.


"Assalamualaikum!" Alfin kembali mengucapkan salam setelah mengetuk pintu rumah mertuanya.


Seorang pekerja berlari dari dapur hendak membukakan pintu, tapi urung ketika Habsoh meletakkan jari telunjuknya di bibir. Sebagai isyarat tak perlu membuat gaduh.


"Wa'alaikumussalaam!" sahutnya seraya membukakan pintu untuk Alfin.


"Alfin? Mamah kira siapa tadi?" sambut Habsoh membuka pintu rumah lebar-lebar membiarkan Alfin masuk. Ia menyimpan tongkat kayu ke salah jendela lagi.


"Maaf, Mah. Abis Alfin lihat lampunya udah mati, takutnya ngebangunin semua orang." Alfin menyalami wanita paruh baya itu, seraya masuk ke dalam rumah.


"Nggak nyasar?" tanya Habsoh sembari menutup pintu dan menguncinya.


"Nggak, Mah. Alhamdulillah, tadi sempat nanya-nanya di warung depan. Naina udah tidur, Mah? Alfin telpon nggak diangkat," Alfin celingukan mencari-cari istrinya.


"Baru aja masuk kamar, tadi nungguin kamu di sini. Kamarnya di lantai dua, di sebelah kiri," ucap Habsoh menunjukkan kamar Naina kepada menantunya.


"Makasih, Mah. Kalo gitu Alfin ke kamar Naina dulu," pamit Alfin diangguki Habsoh.


"Jangan lupa kunci pintunya. Naina nggak pernah mengunci pintu kamar," ingat Habsoh seraya duduk di ruang tengah kembali. Niat ingin ke kamar diurungkannya dan pergi ke ruang keluarga untuk menonton televisi.


Jantung Alfin berdebar, setiap detaknya semakin bertambah kencang seiring langkah mendekati kamar sang istri. Ia menapak di lantai dua, pergi ke bagian kiri sesuai yang diarahkan Habsoh. Seperti yang dikatakan wanita paruh itu, Naina tak pernah mengunci pintu.


Tangannya yang bergetar membuka pegangan pintu, melirik sesosok tubuh yang tidur memunggungi sambil memeluk bantal guling. Alfin masuk dan mengunci pintunya, berjalan pelan nyaris tanpa suara.


Ia berdiri di tepi ranjang, memandangi tubuh Naina yang terbalut piyama panjang. Rambutnya tergerai indah, hitam dan panjang. Ia tersenyum, berjalan ke dekat lemari menyimpan tas yang dibawanya.


Rasa panas karena berdesakan di masjid mengantarkannya ke dalam kamar mandi. Laki-laki itu tercengang, di dalam sana sudah ada perlengkapan mandi yang disiapkan Naina untuknya. Lagi-lagi Alfin terkekeh, Naina begitu berharap dia pulang.


Seperti kebanyakan laki-laki, Alfin keluar dengan hanya mengenakan sarung dan kaos oblong polos berwarna putih. Jantungnya kembali berdebar setiap kali menatap tubuh itu. Alfin meneguk ludah, merayap ke sisi Naina.


"Maafin aku, ya. Kamu harus nunggu aku pulang," lirih Alfin sambil mengusap wajah Naina.

__ADS_1


Ia mendekat, terlalu dekat sampai hembusan napas Naina yang lembut terasa di kulit wajahnya. Alfin mengecup singkat bibir itu, memandanginya kembali. Tangannya beralih meraba bagian lengan Naina, mendekapnya hangat.


Merasakan sebuah sentuhan, Naina mengernyit. Perlahan matanya terbuka, tubuh Naina terlonjak duduk.


"Siapa kamu!" Ia mengucek mata, menjernihkan pandangan.


Alfin tersenyum, tak beranjak sedikitpun. Naina turun dari ranjang, merasa sedang berhalusinasi.


"Hai, Humairah! Ini aku, sayang. Suami kamu," ucap Alfin sembari beranjak duduk.


Naina bergeming, rasa tak percaya kalo suaminya kini benar-benar ada di hadapan.


"Kamu beneran Alfin? Suamiku?" tanya Naina dengan tubuh menegang waspada.


Alfin menghela napas, menunduk sejenak. Tindakannya yang datang diam-diam membuat Naina ketakutan.


"Baiklah, kalo kamu nggak percaya aku akan keluar." Alfin beranjak turun dari ranjang.


Ia menatap sendu Naina yang masih bergeming di tempatnya. Rasa cemas mulai datang menghampiri hati Naina, antara percaya dan tidak, bingung apa yang harus dilakukan.


"Tunggu!"


Langkah Alfin terhenti di dekat pintu, ia berbalik dan menunggu di sana. Naina mendekat tanpa mengalihkan pandangan dari wajah itu. Wajah yang selalu terlihat damai dan menyejukkan.


Mereka berhadapan saling menatap satu sama lain. Naina tersenyum setelah memastikan penglihatannya. Ia berhambur memeluk Alfin, menelusupkan kepala di dada suaminya.


"Kamu pulang, aku kira nggak akan pulang lagi." Naina bergumam, suaranya redam di dada laki-laki itu.


"Aku kangen kamu, Mas," lirih Naina memejamkan mata merasakan hangat pelukan Alfin.


Laki-laki itu tertegun, telinga berdenging mendengar panggilan itu untuknya. Rasa hangat terus menjalar di seluruh pembuluh darah. Bergejolak di dalam hati, membuat rasa membuncah hingga ke puncaknya.


"Ulangi!" pinta Alfin mengeratkan dekapan.


Naina mengangkat wajah, menatap malu-malu suaminya.


"Apa?" tanyanya dengan manja.


"Ulangi kata-kata kamu yang tadi. Aku ingin mendengarnya," ulang Alfin sembari menarik kepala sang istri dan membenamkannya di dada.


Naina tersenyum malu, menelusup lebih dalam di sana.


"Aku kangen sama kamu," ulangnya dengan malu-malu.


"Bukan itu!" tolak Alfin membuat Naina bingung.


"Apa?"

__ADS_1


"Yang tadi."


"Mas?"


"Iya itu. Ulangi!"


"Mas, aku kangen sama kamu."


Tanpa berbasa-basi, Alfin membopong tubuh Naina dan membawanya ke ranjang. Memagut bibir ranum itu dengan mesra dan lembut menumpahkan kerinduan. Balas membalas, saling mencecap rasa, menenggelamkan diri dalam buai sang renjana yang memuncak.


Alfin melepas pagutan, daru napas mereka memburu. Sesuatu merangsek meminta dituntaskan.


"Naina ...." Alfin menjeda, menempelkan dahi mereka, mengecup singkat bibir Naina sebelum melanjutkan, "aku menginginkannya. Boleh ...." Ia menggantung kalimat, terlalu malu untuk melanjutkan.


Naina membuka mata, mengusap wajah Alfin yang sedikit menjauh. Tersenyum mesra, peluh yang membasahi wajahnya semakin membuat Alfin terbakar.


"Itu hak kamu, Mas, dan sudah kewajiban aku menunaikannya. Lakukan tugas kamu, dan ambil hak kamu, Mas. Aku ridho," sahut Naina dengan lembut.


Bibir keduanya tersenyum, tak akan Alfin menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melakukannya dengan penuh kehati-hatian. Semakin menggebu hatinya, tak sabar masuk ke dalam kenikmatan duniawi.


"Boleh aku melakukannya?" bisik Alfin seusai melepas pakaian Naina.


Wanita di bawahnya mengangguk tanpa membuka mata. Bersiap menahan nyeri yang dikatakan kebanyakan perempuan. Alfin mengecup ubun-ubun Naina, menelusuri setiap jengkal wajah sang istri.


Naina melenguh, merintih dan meringis tatkala Alfin melakukan penyatuan. Air matanya menetes karena laki-laki itu melakukannya sekaligus.


Alfin tertegun ketika sesuatu yang robek di bawah sana dirasakannya. Ia melepaskan diri, menyibak selimut yang menutupi tubuh polos mereka.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Alfin mengusap wajah gusar. Ada rasa syukur, lega, sekaligus sesal yang mendatangi hatinya melihat setetes cairan merah merembes di atas sprei dari milik sang istri.


"Naina!" lirihnya bergetar. Ia menatap penuh sesal wajah Naina, selama ini telah salah menduga. Ternyata Naina tidak pernah dilecehkan.


"Perih!" rintih Naina sembari menggigit bibirnya.


Alfin menjatuhkan air mata, tubuhnya luruh mendekap Naina. Mengecup kedua mata sang istri, membersihkan air yang merembes darinya.


"Maaf, maafkan aku, Naina. Aku kira kamu ...." Alfin tergugu tak dapat melanjutkan kata-kata.


Kedua tangan Naina melingkar di tubuhnya, ia tahu Alfin selama ini mengira bahwa dia telah kehilangan kehormatan meski tak pernah mempertanyakan. Naina tersenyum, berhasil mempertahankan kehormatannya sampai ia serahkan dengan rela pada dia yang berhak.


"Nggak apa-apa, Mas. Itu hak kamu," bisiknya menenangkan Alfin yang masih tersedu dalam pelukan.


"Kenapa kamu nggak bilang? Kalo aku tahu, aku pasti akan melakukannya dengan hati-hati. Maafkan aku, sayang. Maaf, Humairahku." Alfin melepas pelukan, mengusap pipi Naina dengan mesra.


"Aku pernah bilang kalo mereka nggak melakukan itu sama aku, tapi kamu nggak percaya. Sekarang, kamu percaya sama aku?" ujar Naina sambil menyematkan senyum termanis yang ia miliki.


Alfin menganggukkan kepala, rasa bersalah datang merundung hati. Diciuminya wajah Naina, semakin besar rasa cintanya terhadap wanita itu.

__ADS_1


"Aku cinta kamu, Humairah. Aku cinta kamu."


"Aku juga cinta kamu, Hubby."


__ADS_2