Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 72


__ADS_3

"Gimana, Pah? Ketemu yang janggalnya?" tanya istri Adrian yang menemani di ruang kerja suaminya.


"Papah cuma lagi cari tahu apa penyebab Naina keluar dari toko? Papah udah tanya teman-temannya, mereka semua menjawab nggak tahu. Papah tanya manager di sini ... gelagat dia bikin Papah curiga," jawab Adrian sembari memeriksa dokumen yang ada di atas meja.


"Papah udah coba tanya Naina?" tanya sang istri seraya duduk di hadapan suaminya.


Adrian menghela napas, ia kira akan percuma jika bertanya pada gadis itu. Sudah pasti tak akan memberitahu yang sebenarnya dan lebih menutupi masalah.


"Papah kira dia juga nggak akan kasih tahu masalah yang sebenarnya. Mamah tahu sendiri, kami baru ketemu nggak mungkin rasanya dia percaya seratus persen sama Papah." Adrian memandang wajah istrinya.


Serbah salah, itulah yang terlihat di wajah laki-laki itu. Di saat dia sudah menyayangi Naina sepenuh hatinya, tapi gadis itu belum bisa mempercayainya bahkan masih saja terlihat canggung.


Suara ketukan pada pintu menghentikan obrolan mereka, wanita itu beranjak dan berpindah tempat duduk. Menunggu sambil membaca-baca majalah yang tersedia dalam toko.


"Masuk!" Suara Adrian memerintah, berselang pintu ruangan terbuka dan salah satu karyawan masuk dengan segan.


Adrian tersenyum menyambutnya, dia teman Naina yang sering memberi tahu Naina perihal Alfin dan anak-anaknya.


"Bapak manggil saya?" tanyanya dengan gugup. Segan lantaran yang di hadapannya saat itu adalah pemilik dari tempat ia bekerja.


"Iya, saya mau tanya sesuatu sama kamu. Silahkan duduk!" sahut Adrian sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Ta-tanya apa, Pak?" Jemari pemuda itu saling meremas satu sama lain, seperti sedang interview pekerjaan.


"Apa manager di sini sering keluar di jam kerja seperti ini?" tanya Adrian mulai mengulik kinerja Anton, pasalnya ia sering mendapati laki-laki itu tak berada di ruangannya. Jika bertanya pada semua karyawan selalu mendapatkan jawaban yang sama. Keluar.


Teman Naina semakin gugup, ia menundukkan kepala, semakin alot jemarinya dimainkan. Mencari-cari jawaban dan menimbangnya agar tidak salah berucap.


"Nggak usah takut, saya juga nggak akan bilang soal kamu. Cukup beritahu saya bagaimana kinerja manager di sini?" ucap Adrian mengerti kegelisahan pemuda di hadapannya.


"A-anu, Pak. Pak Anton emang sering keluar, tapi nggak pernah kasih alasan. Jadi, kamu bingung harus jawab apa saat Bapak tanya soal beliau," ucap laki-laki pekerja itu sejujur-jujurnya. Ia menatap wajah Adrian yang sekilas mirip dengan Naina.


Adrian menghela nafas, mengerti kebimbangan pekerja tersebut. Tak akan ia memaksanya.

__ADS_1


"Ya, saya mengerti. Satu lagi, apa kamu tahu kenapa Naina keluar dari pekerjaan? Di sini nggak ada laporannya," tanya Adrian lagi.


Secara refleks membuat jantung si Pekerja berdegup-degup tak normal. Tubuhnya menegang, terlihat sangat jelas di wajahnya yang langsung dibasahi keringat.


"Sa-saya ... sa-saya ...." Bimbang, apakah dia harus menjawab dengan jujur ataukah hanya berbohong. CCTV? Rasanya tak mungkin masih ada. Sudah pasti dihapusnya untuk menghilangkan bukti.


"Nggak apa-apa, tenang aja. Melihat sikap kamu yang kayak orang ketakutan, saya tahu ada yang salah di sini. Tolong beritahu saya apa saja yang kamu tahu. Perlu kamu tahu, Naina itu anak saya. Jika orang lain mungkin saya nggak akan mencari tahu semua ini," ungkap Adrian membeberkan semuanya.


Pekerja laki-laki itu membelalak, menatap Adrian dengan kedua bola mata yang dibesarkan. Sungguh tak menduga, tapi wajah mereka memang begitu mirip jika ditelisik dengan teliti.


"Ja-jadi, Naina itu anak Bapak?" pekiknya.


Adrian tersenyum, mengangguk-anggukkan kepalanya menjawab.


"Maaf, Pak. saya nggak tahu kalo Naina itu anak Bapak. Maafkan juga semua teman-teman saya, Pak," ucap pemuda itu merasa bersalah terhadap Adrian.


"Yah, nggak apa-apa. Nggak usah minta maaf berlebihan kayak gitu," sahut Adrian, mengerti sikap mereka karena ia sendiri pun terkadang tak percaya jika gadis itu adalah anaknya.


"Mmm ... anu, Pak. Mohon maaf sebelumnya, mungkin Bapak nggak akan senang mendengar apa yang mau saya bilang ini," jawab pekerja laki-laki itu takut-takut. Dia takut Adrian marah dan justru memecatnya dari pekerjaan.


"Yah, nggak apa-apa. Saya akan dengarkan dengan baik," sahut Adrian meyakinkan.


Pekerja laki-laki itupun menceritakan semua yang dia tahu perihal Naina saat bekerja di toko tersebut. Tak satu pun yang terlewati, sampai pada ujung perkara yang fatal penyebab Naina keluar dari pekerjaan.


Tanpa sadar Adrian merekam ucapannya, sebagai bukti untuk menjerat Anton. Masih banyak lagi yang ia dapatkan dari hasil penyelidikannya. Adrian merasa puas setelah mendengar cerita sang pekerja.


"Gitu, Pak. Maaf, bukannya saya mau fitnah atau menjelekkan orang. Saya cuma menjawab karena saya ditanya," ucap laki-laki itu sambil menundukkan kepala.


"Yah, saya mengerti. Sebenarnya sudah lama saya curiga karena saya menemukan foto Naina di ruangannya. Ternyata ... makasih atas kerjasamanya. Silahkan kembali bekerja," ucap Adrian sembari menjulurkan tangan mempersilahkan ia pergi.


Ia menatap sang istri yang sejak dari diam memperhatikan. Mendengarkan dengan saksama cerita dari pekerja suaminya itu.


"Apa yang mau Papah lakukan terhadap manager itu?" tanya wanita tersebut tanpa beranjak dari kursinya.

__ADS_1


Adrian menghela napas, dia masih ingin mencari bukti lain perihal Anton yang sering keluar tanpa alasan.


"Papah masih mau cari bukti lainnya, Mah. Papah mau tahu kenapa dia sering meninggalkan toko dan untuk apa? Mungkin setelah itu Papah akan mengambil keputusan," ucap Adrian.


Wanita itu menganggukkan kepala, berpamitan pada suaminya untuk menemani Naina.


"Mamah keluar dulu, nemenin Naina."


Adrian menganggukkan kepala. Masih banyak yang harus dia lakukan di dalam sana.


****


"Ibu!" lirih Halwa ketika melihat Naina keluar dari toko di seberang jalan.


"Itu bukan Ibu. Kamu nggak liat, dia sama laki-laki tadi. Ibu kita nggak pernah naik mobil, Halwa," sergah sang kakak sembari memegangi tubuh gadis kecil itu.


Namun, ia sendiri meragukan pernyataannya, karena gadis berhijab di sana memang benar mirip dengan Naina.


"Itu Ibu, Kak. Itu Ibu! Aku nggak mungkin salah ngenalin Ibu!" ucap Halwa bergetar dan hendak menangis.


Semua anak-anak di sana terdiam, memperhatikan seorang gadis yang sedang berbicara dengan seseorang.


Naina baru saja keluar diikuti istri Adrian, ia berpamitan hendak menyeberang, menemui anak-anaknya.


"Mah, aku ke masjid sana dulu, ya. Mau nengokin anak-anak, kangen sama mereka." Naina tersenyum, kedua matanya bersinar dipenuhi harapan.


"Iya, Mamah tunggu di dalam mobil," sahut wanita itu seraya masuk ke dalam mobil.


"Ibu!"


Mendengar teriakan Halwa, Naina tersentak. Segera menoleh, dan seketika matanya membesar melihat gadis kecil itu berlari hendak menyeberang. Ia terlepas dari cekalan sang kakak, dan langsung berlari menuju Naina.


"HALWA! BERHENTI DI SANA!"

__ADS_1


__ADS_2