Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 171


__ADS_3

"Bos yakin mau antar pesanan ini? Biar kami saja, Bos," tanya salah satu karyawan disaat Alfin memutuskan untuk mengantar barang pesanan Khadijah sendiri ke rumahnya.


"Iya. Udah kalian tenang aja. Pesanan ini punya kakakku sendiri, biar aku yang antar." Alfin tersenyum penuh arti.


Mereka melongok mendengar itu, pantas saja keduanya tadi terlihat begitu akrab. Mereka sempat berpikir yang macam-macam, untuk itu mencegah Alfin mengantar barang itu sendiri.


"Oh, jadi yang tadi itu kakaknya si Bos. Kami kira tadi ...." Kalimat mereka terjeda, malu sendiri untuk melanjutkannya.


"Apa? Kalian pikir apa? Aku selingkuh?" sarkas Alfin menohok jantung mereka.


Senyum malu dan tak enak terbit di bibir karyawan Alfin itu. Ia menggelengkan kepala sambil berdecak.


"Aku udah punya istri sempurna, nggak mungkin bisa berpaling apalagi selingkuh. Makanya laki-laki itu harus menundukkan pandangan agar yang ada di matanya itu cuma istri." Alfin meninggalkan mereka dan masuk ke dalam mobil.


Keduanya menggaruk kepala salah tingkah, malu sendiri dengan pemikiran di otak mereka.


"Kita udah salah, ternyata perempuan tadi kakaknya si Bos," celetuk salah satu dari mereka.

__ADS_1


"Makanya jangan su'udzon. Yang tadi itu kak Dijah, sama suaminya. Masa mau selingkuh bawa-bawa suami. Yang bener aja punya prasangka. Yang logis gitu!" sambar Yusuf saat melintas di dekat mereka dan tak sengaja mendengar perbincangan.


Keduanya menunjukkan deretan gigi mereka yang menguning. Yusuf mendengus, melengos pergi kembali ke mejanya.


"Lanjut kerja! Ngapain bengong? Banyak pesanan tuh," tegur Hamka menyentak mereka berdua.


Alfin tengah fokus mengemudi mobil pickup menuju rumah sang kakak. Dilihat dari bahan-bahan yang dibeli, sepertinya mereka akan membangun kandang lagi. Semakin maju peternakan mereka.


Alfin berhenti di lampu merah tepat ketika ponselnya mengeluarkan notifikasi pesan masuk. Ia tersenyum saat melihat siapa si pengirim pesan tersebut.


Mas, jangan lupa rujaknya. Nanti siang pulang, ya. Udah ngiler nih.


Alfin menghubungi Naina dan dengan segera diangkatnya telepon tersebut.


"Mau berapa porsi?" tanya Alfin setelah panggilan tersambung. Ia mendengarkan Naina bertanya entah pada siapa. Seingatnya, pagi itu Ahmad dan Aminah tengah melakukan pengajian rutin setiap bulannya.


"Mas, karena Bibi dan yang lainnya mau. Mas beli aja yang agak banyakan, ya. Biar kebagian semuanya."

__ADS_1


Alfin tersenyum mengiyakan permintaan sang istri kemudian kembali melanjutkan perjalanan setelah lampu berganti warna hijau. Alfin disambut Khadijah bersama suaminya begitu tiba di rumah wanita itu.


"Assalamualaikum, Kak!"


"Wa'alaikumussalaam!"


Alfin menyalami mereka berdua, antusias menurunkan barang-barang sesuai dengan arahan dari suami Khadijah. Dibantu dua orang karyawan yang ikut mengantar bersama Alfin.


"Wah, langsung bosnya sendiri ini yang antar." Suami Khadijah menggoda, ikut membantu Alfin merapikan barang-barang di halaman rumahnya.


"Mau bikin kandang baru lagi, Kak?" tanya Alfin duduk di bangku bersama kakak iparnya.


"Iya, buat anak-anak ayam. Alhamdulillah, lumayan, Fin." Sang kakak ipar melirik ke arahnya.


Beberapa saat duduk berbincang sambil menikmati camilan yang dibuat Khadijah. Suara gaduh terdengar begitu nyaring dari salah satu rumah yang ada di sana.


"Apa itu, Kak?" tanya Alfin terkejut.

__ADS_1


"Itu, tetangga baru pindah. Sejak tinggal di sana, mereka nggak pernah absen cekcok. Ada aja yang diributin," jawab sang kakak ipar sambil menggelengkan kepala.


Alfin menoleh dan seketika membelalak melihat dua orang yang sedang terpicu amarahnya.


__ADS_2