Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 128


__ADS_3

Mobil mereka tiba di depan sebuah toko matrial terkenal di Indonesia. Berlantai dua, bisa dibilang supermarketnya bahan bangunan dan perlengkapan rumah tangga. Naina tertegun, seingatnya pernah datang ke toko itu bersama Alfin.


"Mas, bukannya kita pernah ke sini malam itu, ya?" tanya Naina sembari mendekati Alfin dan menggandeng tangannya.


"Iya, sayang." Alfin tersenyum, tidak menanggapi lebih jauh.


"Kenapa nggak bilang kalo ini toko kamu? Misterius banget, sih?" Naina mencubit pinggang Alfin, terlonjak laki-laki itu.


"Aw! 'Kan, kamu nggak nanya, sayang. Lagian, aku juga jarang datang ke sini. Ya ... paling kalo lagi ada pertemuan kayak gini aja," jawab Alfin sejujurnya. Niatnya membangun toko itu hanya ingin membuka lapangan pekerjaan untuk orang-orang yang bekerja serabutan. Agar memiliki usaha tetap, dan kehidupan mereka terjamin.


"Mas juga nggak nyangka bakal segede ini, dan punya cabang di mana-mana. Padahal niat awalnya cuma pengen ngerangkul masyarakat di sini yang nggak punya pekerjaan tetap. Sekarang, malah ada rencana bangun cabang di luar pulau. Doain, ya," ungkap Alfin sembari melirik istrinya.


Entah harus berkata apa? Naina sendiri tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menimpali ucapan suaminya. Pantas dia memiliki banyak kartu ATM, pantas dia tidak menggunakan uang sumbangan untuk keperluan anak-anak. Sekarang, Naina telah menemukan jawabannya.

__ADS_1


Ah ... kira-kira berapa isi ATM-nya? Aku belum pernah pake.


Terpikirkan akan dua kartu yang diberikan Alfin padanya, menduga-duga, tapi tak terduga.


"Aamiin. Mudah-mudahan dipermudah Allah dan diberkahi," sahut Naina. Alfin mengajak Naina ke lantai dua, sementara Adrian dan Mansyur digiring Yusuf untuk melihat-lihat toko dan bahan bangunan.


Yang terkenal dari toko Alfin adalah, pelayanannya yang cepat dan tanggap tak pernah membuat kecewa para pelanggan.


"Kami menjualnya secara online juga, Pak. Menerima pesanan dan siap antar sesuai permintaan. Alhamdulillah, selama ini nggak pernah ada masalah. Baik dari segi pelayanan maupun dari bahan bangunan yang kami tawarkan. Pelanggan selalu merasa puas," ujar Yusuf menjelaskan keadaan toko menantu Adrian.


Kamu beruntung sekali, Nak, dinikahi Alfin. Selain mengerti ilmu agama, ternyata dia juga seorang pengusaha. Sukses di dunia, selamat di akhirat.


Adrian merasa lega, bersyukur dengan keadaan putrinya saat ini. Padahal, dia hanya meminta dicukupkan kebutuhan mereka, tapi Allah memberi lebih. Menerima Alfin sebagai menantu walaupun hanya seorang marbot masjid.

__ADS_1


Pada awalnya, Adrian hanya ingin Naina bahagia. Tak peduli apapun pekerjaan Alfin pada waktu itu karena Adrian sendiri mampu membantu memenuhi kebutuhan mereka. Nyatanya, Alfin seorang pemuda yang sukses, bahkan lebih sukses darinya. Hanya saja, dia bersembunyi dibalik kesederhanaan.


"Jadi, ini benar milik menantu saya?" Pertanyaan itu sedikit menggores perasaan Yusuf. Namun, sebisa mungkin dia menekan semuanya.


"Benar, Pak, bahkan beliau sudah membuka cabang di berbagai kota di Indonesia dan rencananya akan membuka cabang di luar pulau." Yusuf tersenyum mengingat bagaimana kehidupan Alfin dulu. Seorang pemuda yang suka berfoya-foya, berandal mereka menyebutnya. Menjadi sukses seperti sekarang dan tak satupun yang mengetahuinya, kecuali karyawan di toko tersebut.


"Maa syaa Allah! Maa syaa Allah! Saya kira dia cuma marbot masjid. Ternyata itu cuma kedok aja," ucap Adrian menggelengkan kepala takjub.


"Ya, itulah bos kami, Pak. Bahkan beliau menyerahkan pengelolaan toko ini sepenuhnya kepada kami. Masalah keuangan beliau nggak pernah ikut campur. Bapak tahu, kami dulu semua pengangguran, Pak. Kerja serabutan dengan penghasilan yang nggak seberapa. Lalu, bos datang dan menawarkan kami bekerja dengan satu syarat mutlak yang nggak bisa diremehkan, yaitu jujur. Kami nggak perlu bawa ijazah, nggak perlu punya pengalaman kerja. Yang penting mau kerja jujur dan Alhamdulillah, kami bisa mencukupi keluarga, Pak." Yusuf tersenyum membuka selebar-lebarnya siapa sosok pemuda bersahaja itu.


Adrian kehabisan kata-kata untuk memuji menantunya. Kata apalagi yang pantas disematkan kepada Alfin sebagai pujian? Luar biasa?


"Dan Bapak perlu tahu, masjid itu bos sendiri yang bangun. Bos yang merawat dan menjaganya, beliau juga yang meramaikannya." Yusuf melanjutkan semakin membuat Adrian tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


Subhaanallaah, walhamdulillaah, wallaaahu akbar!


Hatinya berseru takjub.


__ADS_2