Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 112


__ADS_3

Di dalam mobil, suara-suara tawa masih terdengar. Gemas sendiri dengan kejadian yang baru saja terjadi. Fatih mengusap sudut mata, benar-benar tak menduga rekan bisnisnya selama ini merupakan ayah dari Naina.


"Papah bener-bener nggak nyangka kalo Naina itu anaknya pak Adrian. Luar biasa," ujarnya setelah menertawakan diri sendiri.


"Emang pak Adrian itu siapa? Perasaan dia belum pernah datang ke restoran," tanya Seira karena setiap kolega Fatih dia pernah menjumpainya meski sekali.


Fatih menghela napas, menatap belakang mobil Adrian yang menuntun jalannya.


"Cuma beberapa kali aja ketemu sama beliau. Dulu kami punya bisnis bersama sebelum ada restoran, tapi bisnis itu bangkrut karena permasalahan yang menimpa padanya. Jadi, kami memilih jalan masing-masing," jawab Fatih terkenang dulu saat baru merintis usaha restoran yang dijalaninya sampai sekarang.


Seira manggut-manggut. Mobil mereka berbelok masuk ke pintu gerbang sebuah perumahan elit. Tidak ada rumah sederhana yang berdiri di sana, dan rumah Adrian yang paling mencolok dengan pagar gerbang yang tinggi nan kokoh dan warna putih bersih yang mendominasi.


Ia menekan klakson, seorang penjaga gerbang yang tertidur segera terbangun dan membukakan gerbang yang sengaja belum dikuncinya.


"Wah, kak Naina tinggal di rumah besar ini? Pasti kamarnya besar. Aku mau tidur di kamar kakak," celetuk Fathya mengagumi bangunan megah di depan matanya.


Mobil Adrian menepi diikuti mobil Fatih. Mereka keluar secara bersamaan, melangkah menapaki teras rumah. Suara deru mobil di halaman, membangunkan Habsoh yang tengah terlelap di ruang keluarga.


Ia beranjak duduk, mengusap wajah sebelum mendatangi pintu rumah untuk membukanya.


"Assalamualaikum!"


"Ya, Pah. Wa'alaikumussalaam!" Habsoh membuka pintu, terbelalak ketika melihat banyak orang yang ikut.


"Mah!" tegur Adrian menyadarkan Habsoh dari lamunan. Wanita itu menyalami suaminya, Asep, serta tamu yang datang bersama mereka.


"Siapa mereka, Pah?" tanyanya tersenyum pada semua orang.


"Dia Fatih, teman Papah dan ini keluarganya. Mereka dari Jakarta ikut pengajian di sini," jawab Adrian disambut anggukkan kepala Habsoh.


"Mari, silahkan!" Habsoh mempersilahkan mereka masuk.


"Siapin kamar tamu, mereka akan menginap," bisik Adrian.

__ADS_1


Habsoh pergi ke belakang meminta seorang pekerja perempuan untuk menyiapkan tiga kamar tamu. Ia juga meminta yang lain untuk membuatkan minuman. Setelahnya, wanita paruh baya itu kembali ke ruang tamu bergabung bersama mereka.


"Om, kamar kak Nai di mana? Apa kakak udah tidur?" tanya Fathya membuat Habsoh berkerut dahi.


Adrian berpaling kepada istrinya, "Naina udah tidur, Mah? Mereka ini keluarga angkat Naina di Jakarta." Adrian menjelaskan pada Habsoh yang nampak kebingungan.


"Oh, mungkin udah tidur, tapi dia sama suaminya di kamar."


"Suaminya?" Serentak keempat orang itu berseru. Seperti paduan suara yang sudah sangat terlatih.


"Ah, iya. Maaf, Naina udah nikah tiga hari yang lalu, tapi karena satu hal kami belum menggelar resepsi." Adrian menjelaskan.


Seira dan Fatih menghela napas, saling menatap satu sama lain. Sedikit merasa kecewa karena tak dapat menghadiri pernikahan gadis itu.


"Jadi, laki-laki itu pulang pada akhirnya? Rupanya dia kepikiran Naina juga. Papah bilang sama dia kalo Naina tiap malam nunggu dia pulang," ucap Adrian sambil tersenyum pada Habsoh.


Namun, tidak dengan Rayan. Sedikit salah faham mendengar ucapan papah Adrian itu.


"Apa Kakak nikah secara paksa? Kenapa suaminya nggak pernah pulang?" ketus Rayan dengan hati tak rela mendengar sang kakak disia-siakan.


"Bukan begitu. Justru kisah cinta mereka itu sangat luar biasa. Suaminya sedang membangun rumah, dia juga harus mengurus anak-anak yatim juga ibunya yang sedang di rumah sakit kemarin. Jadi, belum sempat pulang ke rumah. Itu aja."


Rayan mengendurkan urat-urat wajahnya, perlahan alasan Adrian dapat diterima meski belum puas sebelum melihat seperti apa suami Naina yang sebenarnya.


"Silahkan!" Habsoh menyuguhkan minuman juga kudapan kepada mereka yang diantar pekerja di rumahnya.


Fathya kecewa, niat hati ingin tidur bersama Naina harus pupus karena telah ada orang ketiga di antara mereka.


"Naina pasti seneng banget kalian ada di sini. Dia sering cerita tentang keluarga kalian. Saya sebagai pamannya mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena sudah membantu Naina selama ini," ungkap Asep dengan segenap ketulusan hatinya.


Fatih dan Seira tersenyum menatap Asep penuh haru.


"Naina anak yang baik. Kami menyayanginya seperti anak sendiri. Dia dekat dengan Fathya, makanya Fathya antusias saat mengenali Bapak sebagai paman Naina," sahut Seira.

__ADS_1


Adrian menatap keluarga Fatih, sebuah keluar yang harmonis meski hanya sekilas saja melihat. Saling menyayangi, saling melindungi, saling melengkapi satu sama lain.


"Kamar sudah kami siapkan. Jika kalian ingin beristirahat, Bibi akan mengantar kalian ke kamar." Adrian memberitahu kepada mereka setelah pekerja yang tertua di rumah itu datang.


"Terima kasih, Pak. Kebetulan saya lelah dan ngantuk juga." Fatih merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.


Dengan diantar bibi, mereka beristirahat di kamar yang telah disediakan. Fathya membanting tubuhnya di atas ranjang, mengawang ke langit-langit kamar. Membayangkan pertemuannya dengan Naina.


Namun, semua itu pupus, sirna karena kakaknya kini telah menikah dan tentunya tidur bersama sang suami. Fathya berguling, memeluk bantal. Rasa lelah akibat perjalanan, juga kantuk yang berat membuat matanya dengan cepat terpejam. Hanyut terbawa alam mimpi.


****


"Ugh!"


Naina melenguh sembari mengapit kedua kakinya. Rasa perih menyerang bagian tubuh bawah Naina ketika sedikit saja ia bergerak.


"Perih begini, ya Allah," lirihnya bergetar.


Ia melirik Alfin yang terlelap, wajah mereka berhadapan sangat dekat. Naina tersenyum, kejadian semalam kembali membayang dalam pikiran. Seketika pipinya merona, kini dia telah menjadi milik Alfin seutuhnya.


Naina membuka selimut, melihat keadaannya yang tak tertutupi sehelai benangpun. Pipinya semakin merona. Ia mengecup singkat bibir Alfin sebelum beranjak duduk sambil menahan perih.


Tidur laki-laki itu terusik, meraba bagian samping tubuhnya. Sigap Alfin membuka mata, khawatir kejadian semalam hanyalah mimpi. Naina terkekeh, tangannya mengunci selimut yang di dada agar tidak jatuh.


Alfin menarik tangan Naina, membiarkannya jatuh menindih tubuh. Ia memeluk Naina seperti bantal guling, mengajak istrinya kembali terlelap.


"Belum subuh, sayang. Tidur lagi." Naina menurut, niat hati ingin berendam urung karena tangan Alfin mengunci tubuhnya.


"Aku mau mandi, Mas. Lengket semua badan aku, nggak betah," bisik Naina sembari meletakkan tangannya di pipi Alfin.


Laki-laki itu justru mengeratkan dekapan, membuka mata menatap Naina penuh cinta.


"I love you!" bisik Alfin tiba-tiba, menyambar lembut bibir Naina dan mendekapnya kuat-kuat.

__ADS_1


"Aku juga cinta kamu, Mas." Naina membalas sembari mengendus kulit Alfin yang tak tertutup.


__ADS_2