
"Pesanan!"
Suara teriakan seorang laki-laki di sore hari, memberikan kebahagiaan pada seisi rumah besar itu. Naina dan Fathya bergegas mendatangi pintu utama dan menerima pesanan Habsoh yang dibawakan seorang kurir.
"Atas nama Nyonya Habsoh Aryani?" ujar kurir tersebut menyebutkan nama Habsoh sambil melihat secarik kertas.
"Ya, itu mamah saya," jawab Naina riang gembira.
"Silahkan diterima dan tanda tangan di sini." Kurir tersebut memberikan kertas di tangannya kepada Naina. Dibubuhkan tanda tangan di sana, kemudian membawa paket itu masuk ke dalam rumah.
"Wah! Sudah datang?" Habsoh dan Seira muncul dari dapur, ikut membantu Naina dan Fathya membawa barang tersebut ke ruang keluarga.
"Apa itu, Mah?" tanya Adrian yang muncul dari pintu utama. Ia sempat berpapasan dengan kurir yang mengantar paket tadi.
"Seragam batik, Pah. Ini pesan di teman Mamah, beruntung masih ada stok. Kalo nggak, ke mana mau nyari?" jawab Habsoh sembari membantu Naina membuka kotak tersebut.
Adrian tidak menanggapi, duduk dan ikut memperhatikan para wanita membongkar pesanan. Fatih dan Rayan berada di halaman membantu para WO merias sekitar rumah. Beruntung Habsoh dan Adrian memiliki banyak relasi sehingga mudah saja untuk mereka meminta bantuan meski mendadak.
"Gimana masalah cateringnya, Pah? Udah beres? Kemungkinan yang datang banyak," tanya Habsoh mengingat Adrian baru saja tiba dari restoran untuk memesan makanan.
"Anak-anak juga mau ikut ke sini, Pah," sahut Naina memberitahu laki-laki itu.
"Insya Allah. Kalian nggak udah khawatir, Papah udah minta sama pihak restoran untuk mengantarkan pesanan setelah Maghrib nanti," jawab Adrian yang kemudian berdiri dan menuju halaman membantu yang lain.
Para wanita tetap sibuk memilih dan memilah milik mereka sendiri. Memantaskannya di depan cermin, untuk kemudian mengemasnya dengan rapi.
"Anak-anak siapa yang Kakak maksud?" tanya Fathya usai merapikan baju miliknya.
"Anak-anak yang di masjid itu," jawab Naina melipat satu per satu pakaian yang berserak.
"Oh, anak-anak ustadz Alfin?"
Naina mengangguk sambil tersenyum. Entah mengapa hatinya sedikit tersentil mendengar mereka memanggil Alfin dengan sebutan ustadz.
__ADS_1
****
Di rumah Alfin, Khadijah dan Amaliah sibuk memeriksa barang-barang seserahan yang akan mereka bawa. Mencatat apa saja yang perlu dan menambahkannya ke dalam list.
Khadijah menelpon adiknya, menanyakan sesuatu yang penting untuk acara nanti malam.
"Assalamualaikum, Dek. Kamu udah beli cincin? Soalnya Kakak lupa membelinya," tanya Khadijah begitu Alfin mengangkat telpon.
"Wa'alaikumussalaam. Udah, Kak. Alfin udah ada cincin. Kakak tenang aja," jawab Alfin disambut helaan napas lega oleh Khadijah.
Ia menutup sambungan telepon, tersenyum penuh syukur. Lalu, melanjutkan kembali menyusun barang-barang yang akan dibawa ke rumah Adrian malam nanti.
"Dijah!" panggil Aminah yang berjalan perlahan mendekati kedua wanita itu.
"Iya, Umi." Khadijah mendongak menatap ibunya yang masih tampak pucat.
Aminah duduk di sofa, di tangannya membawa sebuah koyak kayu dengan ukiran bunga yang cantik. Ia tersenyum, mengusap kotak tersebut sebelum menyerahkannya kepada si Sulung.
Bila mengingat kisah kemarin, kisah dari mulut-mulut anaknya tentang pengorbanan Naina. Hati Aminah selalu diliputi rasa bersalah dan penyesalan. Rasanya, meski ia memberikan seluruh harta pada Naina, itu semua tak akan bisa menebus apa yang sudah dilakukan gadis itu untuk anaknya.
Khadijah menerima dengan hati-hati, menelisik ukiran bunga mawar yang tampak cantik di permukaannya sebelum membuka kotak tersebut. Satu set perhiasan lengkap terdapat di dalamnya.
Kalung berbandulkan permata, sepasang anting, sebuah cincin, dan juga gelang dengan model yang sama. Dipesan khusus oleh Aminah untuk Naina setelah rencana pernikahan itu.
Khadijah tersenyum, menutup kotak itu kembali seraya memandang Aminah.
"Naina emang pantas mendapatkannya, Umi. Dia wanita yang luar biasa, Alfin sangat beruntung mendapatkan istri sehebat Naina. Sampai sekarang pun Naina nggak pernah tahu kalo Alfin itu sebenarnya seorang pengusaha sukses bukan cuma marbot masjid," ungkap Khadijah dengan perasan haru yang menyelimuti hatinya.
Aminah mengangguk, menyusut air yang tiba-tiba menggenang di sudut mata. Khadijah memberikan kotak tersebut kepada Amaliah untuk dibungkus dijadikan sebuah parsel. Sekarang, lengkap sudah apa yang akan mereka bawa ke rumah Adrian.
"Amaliah, kamu tahu mas kawin yang diberikan Alfin untuk Naina apa waktu menikah?" Aminah mengalihkan pandangan kepada menantunya yang tengah membungkus kotak tersebut.
Amaliah tercenung, mengingat-ingat kembali cerita suaminya tentang pernikahan dadakan Alfin dan Naina.
__ADS_1
"Kata abinya anak-anak, sih, uang lima puluh ribu karena waktu itu di kantong Alfin cuma ada uang segitu." Amaliah menatap Aminah, terhenyak wajah pucat itu mendengarnya.
"Lalu, Naina menerima?" tanyanya dengan nada tak percaya.
Amaliah mengangguk, melanjutkan kembali pekerjaannya. Aminah mengurut dada, beristigfar di dalam hati. Gadis sekarang, tak akan mungkin mau dipinang dengan selembar uang berwarna biru itu, tapi Naina sangat berbeda. Dia menerimanya dengan ikhlas.
"Ya Allah!" lirih Aminah sedih. Semua itu karena keegoisannya, rencana yang sudah disusun dengan matang harus berantakan dan berganti kekacauan.
Mas kawin yang telah siapkan itu, tidak terpakai pada acara sakral mereka. Aminah benar-benar menyesal. Ikhlas memang tidak diundang, tak selalu harus terucap lewat kata. Sikap dan perbuatanlah yang menunjukkan keikhlasan hati seseorang. Ikhlas itu dimiliki gadis sederhana yang baru mengenal Tuhannya.
"Nggak apa-apa, Umi. Yang penting setelah ini, kita semua menyayangi Naina. Memperhatikan kebutuhannya meski Alfin sendiri mampu mencukupi. Dia nggak boleh bersedih, apalagi kekurangan," tutur Khadijah disetujui Aminah dan Amaliah.
Wanita itu mungkin menganggap dirinya tak berarti, tak berguna, tapi di mata orang yang menyadari sikap ikhlasnya, Naina amat berharga. Seribu banding satu, dan sulit untuk ditemukan. Bagai mencari sebuah jarum di dalam tumpukan jerami.
"Oya, apa calon istri Fahmi mau ikut juga? Dia teman Naina, 'kan?" tanya Aminah teringat pada Tiwi atau Nadia.
"Kayaknya, sih, iya. Cuma nggak tahu juga. Coba kita lihat nanti," jawab Khadijah sembari menghendikan bahu tak tahu.
Fahmi tak pernah membahas soal wanita itu, bagaimana kelanjutan perjodohan mereka, apa rencana ke depan yang telah mereka susun.
"Dengar-dengar, mereka juga nggak lama lagi akan menikah, Umi. Fahmi sudah menentukan pilihannya pada Nadia. Ya, mudah-mudahan aja berjalan lancar. Nggak ada hambatan apapun," ucap Amaliah.
Aminah mengaminkan doa sang menantu, berharap kebahagiaan untuk mereka berdua.
****
"Nadia? Kamu mau ke mana?" tanya sang mamah saat melihat Nadia berdandan dengan pakaian bagus di depan cermin.
"Aku mau ikut Mas Fahmi, Mah. Lamaran ke rumah Naina," jawab Tiwi sambil memoles lipstik di bibirnya.
"Oh, Alhamdulillah. Ya sudah, salam untuk mereka, ya. Mamah sama Papah nggak bisa ikut, cuma bisa mendoakan aja dari jauh." Ia mengusap pundak anaknya, meremasnya lembut, sambil menatap pantulan wajah nan cantik di cermin itu.
"Iya, Mah."
__ADS_1