
"Assalamu'alaikum!" sapa Naina di pintu masjid. Ia datang bersama tiga anak Alfin yang bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Wa'alaikumussalaam!" sambut tiga orang di sana dan beberapa rekan Alfin.
"Sini, sayang!" panggil Alfin tanpa segan.
Membelalak mata mereka, Naina menyalami suaminya dengan takzim, dan menangkupkan tangan pada ustadz Hasan juga Bas. Ia duduk di samping Alfin, sementara tiga anak mereka memilih tempat di belakang.
Alfin meraih tangan Naina, tersenyum kala wanita itu menoleh. Ia bahkan mencium punggung tangan wanita itu menunjukkan cintanya yang besar di hadapan semua orang.
"Aku sudah menikah, dan ini istriku. Ini anak-anak kami, dan masih ada tujuh lagi yang masih sekolah. Dari dulu aku bilang kalo aku nggak bisa nerima perasaannya karena aku emang nggak punya rasa sama dia, tapi dia maksa aku sampai membuat kesalahpahaman. Apa yang dia bilang sama kamu sampai-sampai kamu terus ngejar-ngejar aku?" Alfin menatap laki-laki yang meminta pertanggungjawaban darinya.
Dia melirik sang adik yang kemudian menundukkan kepala, seperti ada sebuah rahasia yang dia sembunyikan.
"Kamu bilang Alfin berjanji akan menikahi kamu. Kamu juga bilang Alfin cinta sama kamu, lebih-lebih kamu bilang kalo Alfin yang ngejar-ngejar kamu. Sekarang, coba kamu ulangi lagi apa yang kamu bilang dulu!" geram sang kakak pada wanita itu.
Ia memejamkan mata, rasa malu terus saja hadir menyelubungi hatinya. Tak ada sahutan, wanita itu hanya diam membungkam mulutnya rapat-rapat.
"Dia bilang, kamu menghamili dia sehingga terpaksa harus menggugurkan kandungannya. Apa itu benar?" Kedua tangannya mengepal erat, menahan geram di dalam jiwa.
"Astaghfirullah al-'adhiim!" Alfin mengeratkan genggaman tangannya pada Naina. Meyakinkan ia bahwa semua itu tidaklah benar.
"Coba kamu tanya sekali lagi sama adik kamu itu. Tanya dari hati kamu sebagai kakaknya. Siapa yang sudah menghamili dia dan nggak mau tanggung jawab?" Sikap tenang Alfin memang patut diacungi jempol.
Naina melirik suaminya, menelisik kejujuran dari raut wajah tampan itu. Kisah masa lalu yang kelam, tak menutup kemungkinan pergaulan menjerumuskan.
Laki-laki itu menoleh pada adiknya.
__ADS_1
"Kamu bilang, siapa yang udah bikin kamu hamil? Bilang sama Kakak!" bentak laki-laki itu tak sabar.
"Sabar! Tenang! Coba ngomong dari hati supaya sampai ke hatinya. Kamu sebagai kakak jadi pengganti orang tua. Bijak, Nak. Tenang!" sela ustadz Hasan menasihatinya.
Ia menghela napas, mengusap wajah tak enak. Mencoba menenangkan diri agar tidak terbawa emosi.
"Bilang, apa Alfin yang udah bikin kamu hamil? Atau Alfin kamu jadikan kambing hitam?"
Ia menggelengkan kepala, menangis kemudian.
"Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, aku nggak pernah menyentuh wanita itu. Jangankan itu, ngobrol juga nggak pernah. Aku nggak pernah suka sama perempuan manapun sebelum ketemu istri aku." Alfin bersumpah dengan kesungguhan hatinya.
Tangis wanita itu semakin menjadi, tergugu kemudian berlari meninggalkan masjid. Disusul perempuan lainnya yang berjumlah dua orang. Sang Kakak terlihat gusar, tak enak karena selama ini dia sudah termakan omongan adiknya sendiri.
"Dulu aku juga pernah bilang sama kamu kalo adik kamu itu punya masalah, tapi kamu nggak percaya sama kamu. Akhirnya aku lebih memilih pergi daripada terus menerus diadu domba. Sekarang terserah kamu, aku juga nggak bisa maksa kamu buat percaya sama aku." Alfin menegaskan, mengingatkannya pada awal-awal kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.
"Alhamdulillah! Dari dulu Alfin emang nggak salah," seru mereka hampir serentak.
Naina tersenyum, hampir saja salah faham karena hal tersebut. Namun, dengan menyaksikannya sendiri, dia menjadi tahu akar masalahnya. Itu sebabnya Alfin memilih menghindar saat di jalan. Karena ada Naina bersamanya.
"Nggak apa-apa. Kesalahpahaman memang akan selalu terjadi karena itu juga merupakan salah satu keindahan yang ada di dunia ini. Hikmahnya bisa menambah erat tali silaturahmi antara kita. Bener nggak, Ustadz?" tutur Alfin diangguki ustadz Hasan.
"Yah, itu juga merupakan rahmat dari Allah yang harus kita syukuri, tapi berlama-lama ada dalam kesalahpahaman juga nggak bagus. Malah timbulnya dendam. Sekarang, alhamdulilah semuanya udah kelar dan jelas." Ustadz Hasan menatap laki-laki itu.
"Nanti ngomong baik-baik sama adik kamu. Jangan dimarahi, dia butuh sandaran yang bisa dipercaya." Ia tersenyum disaat wajah itu mendongak ke arahnya.
Beribu penyesalan menghujam jiwanya, terlebih sikap orang-orang itu yang begitu ramah dan tenang. Diam-diam mengagumi sosok Alfin yang begitu tenang menghadapi tuduhan.
__ADS_1
"Makasih, Ustadz. Saya nggak akan pernah lupa akan hal ini." Ia berpaling kepada Alfin, menatap sahabat lamanya itu.
"Fin, aku akan senang banget kalo kamu bisa balik lagi ke kelompok kita. Semenjak kamu nggak ada, nggak ada yang ngehargain kami. Mau ibadah saja susah, kami dilarang masuk masjid manapun. Beda banget waktu kamu masih ada sama kami," ungkapnya memelas kepada Alfin.
Laki-laki itu tersenyum, setelah lima tahun berlalu Alfin hampir melupakan semua itu. Kehadiran anak-anak yang diurusnya, perlahan melupakan Alfin pada pergaulan di masa lalu.
"Justru sebaliknya. Dari dulu aku bilang, kalo mau ibadah, kalo mau sholat, kalo mau ikut pengajian, baiknya dirubah dulu penampilan karena nggak semua tempat bisa nerima kita. Nggak semua tempat mengakui keberadaan kita, kecuali di hadapan Allah, kita semua sama." Alfin kembali mengingatkan mereka pada apa yang dia ucapkan dulu.
Mereka tertunduk, menyesal karena tak mengikuti nasihat Alfin.
"Kalo kami mau belajar agama, apa masih ada kesempatan? Apa nggak terlambat?" tanya salah seorang rekan Alfin sambil menatap padanya.
"Nggak ada kata terlambat untuk belajar agama atau apapun itu. Selama ada kemauan di hati, maka belajarlah pada ahlinya. Agar kita nggak salah faham, nggak keliru dalam menjalankan aturan agama. Sebenarnya mau pake baju apapun, mau gimana juga kita, itu nggak ada masalah, tapi balik lagi ... apa yang dibilang Alfin tadi. Nggak semua tempat bisa nerima kita apa adanya." Ustadz Hasan menimpali dengan penuh syukur.
Sejak ia duduk bersama mereka di masjid itu, hatinya tak henti memohon kepada Allah untuk membukakan pintu hidayah bagi mereka. Agar bisa bersama-sama menimba ilmu agama, juga meniti langkah bersama di jalan-Nya yang lurus.
Alhamdulillah, ya Allah.
"Kami mau, Ustadz. Kami mau belajar agama, dulu Alfin selalu mengajari kami banyak hal. Sholat, mengaji, sedekah, dan apapun itu, tapi kami cuma manfaatin dia aja, Ustadz. Kami cuma mau diterima di masyarakat dan diakui nggak benar-benar mau belajar agama. Sekarang, kami mau belajar agama, Ustadz. Tolong bimbing kami," pinta mereka bersungguh-sungguh.
Alfin mengusap wajah penuh syukur, perjuangannya mengajak mereka mendekati Allah ternyata tidak sia-sia. Hanya waktunya saja belum tiba.
"Oh, maa syaa Allah! Silahkan, kita belajar sama-sama. Di sini juga ada kamar-kamar yang bisa kalian tempati. Mungkin kalo yang perempuan, bisa di asrama anak-anak, Fin?" Ustadz Hasan melirik Alfin meminta persetujuan darinya.
"Yah, bisa. Nanti biar anak-anak tinggal di rumah umi saja sama istri kalo mereka mau menetap di sini. Kebetulan sebentar lagi ramadhan, kita sama-sama bertaqarrub kepada Allah," ujar Alfin tak ingin Naina tinggal di rumah dengan dikelilingi banyak laki-laki.
"Makasih."
__ADS_1
"Sama-sama."