
Hari berganti hari, Alfin disibukkan dengan persiapan pernikahan Yusuf dan Biya. Ia merasa bertanggungjawab atas kelancaran acara sahabatnya itu. Dibantu Ahmad, Aminah, juga kedua kakak Alfin yang begitu antusias menyambut hari bahagia seorang Yusuf.
"Mas, aku mau bantu, ya. Bosan duduk terus." Naina datang dengan bibir yang mengerucut maju. Alfin tidak membiarkannya melakukan pekerjaan apapun selain memperhatikan.
Semua persiapan itu dilakukan di rumah Ahmad. Yusuf sudah menjadi bagian dari keluarga terpandang itu.
"Udah, kamu duduk aja. Nggak usah capek-capek." Alfin menggiring istrinya untuk kembali duduk di kursi.
"Mas, bantuin Kakak bungkus parsel nggak capek, Mas. Itu bukan pekerjaan berat. Nggak apa-apa, ya?" rengek Naina dengan manja.
"Udah, Fin. Nggak apa-apa. Cuma bungkus-bungkus kayak gini aja, kok. Sini, sama Kakak. Suami kamu emang lebay." Khadijah melambaikan tangan memanggil Naina.
Wanita itu menampakkan deretan giginya mengejek Alfin. Ia mendesah saat Naina pergi menghampiri Khadijah. Duduk membantu sang kakak sambil bercengkerama dan bercerita. Biasa, wanita jika sudah berkumpul apa saja menjadi bahasan.
Alfin menggelengkan kepala, memang dasar istrinya itu tipe perempuan yang tidak bisa diam. Selalu banyak bergerak apapun dikerjakan. Ia keluar menemui Yusuf yang baru saja tiba.
"Gimana? Udah nyiapin mas kawin?" tanya Alfin begitu keduanya duduk di teras.
Yusuf menghela napas, mengeluarkan sebuah kotak berisi cincin emas yang akan dijadikannya sebagai mahar.
"Ini, kira-kira malu nggak, Bos?" tanyanya sedih.
Alfin menghela napas, tersenyum kemudian. Ia menepuk bahu Yusuf, tanpa berpamitan beranjak masuk ke dalam rumah.
"Humairah! Mas pergi keluar sebentar, ya. Baik-baik, jangan kerja berat-berat," pamit Alfin menghampiri mereka.
"Iya, Mas. Hati-hati." Naina menyalami Alfin tanpa beranjak. Sekilas dia melihat Yusuf di teras, pastilah urusan laki-laki.
"Yuk. Ikut!" ajak Alfin mengenakan jaketnya.
Eh?
Yusuf mendongak, dia tidak ada rencana pergi bersama laki-laki itu.
"Mau ke mana, Bos?" tanyanya bingung.
"Udah, ikut aja. Jangan bawel!" ucap Alfin yang kemudian menyalakan sepeda motor Yusuf.
__ADS_1
Pemuda itu menggaruk kepala dan duduk di jok belakang. Bingung dan tak tahu ke mana Alfin akan membawanya.
"Mau ke mana Alfin?" tanya Khadijah.
"Nggak tahu. Sama mas Yusuf tadi perginya. Mungkin ada perlu," jawab Naina sambil menghendikan bahu.
Khadijah manggut-manggut, melanjutkan membungkus keperluan untuk seserahan.
"Nai, kamu nggak ngerasa mual gitu? Biasanya, 'kan, kalo yang hamil muda itu mual-mual terus kalo nyium apa-apa suka bau, tapi kamu nggak. Kelihatannya biasa aja, ya," tanya Khadijah sedikit heran dengan Naina.
"Nggak tahu, Kak. Cuma pas bangun tidur aja kadang suka mual, terus muntah-muntah. Kalo Kakak gimana?" Naina penasaran.
"Kakak? Beuh. Bangun aja nggak bisa. Badan lemes, nyium apa aja baunya minta ampun. Sekarang aja nih nggak. Udah gede begini," jawab Khadijah antusias menceritakan kehamilannya.
Naina tersenyum, bersyukur dia tidak mengalami seperti Khadijah. Makan tetap enak, tak ada bau menyengat yang membuatnya mual. Semuanya normal-normal saja hanya sesekali terkadang lidah ingin memakan yang asam manis.
"Maa syaa Allah! Luar biasa. Kakak hebat banget. Apa yang dua kayak gitu juga, Kak?" Teringat pada kedua anak Khadijah.
"Sama aja, tapi yang lebih parah si Sulung. Pokoknya udah kayak lamak rombeng (lap jelek). Tiduran di mana pun, kalo siang panasnya luar biasa. Mandi berendam sampe dua jam baru puas. Beuh, pokoknya ... sedap!" Khadijah mencecap lidahnya sendiri, seolah-olah menikmati suatu makanan.
Naina terkekeh melihatnya, ia tak dapat membayangkan seandainya menjadi Khadijah. Tak bisa melakukan apapun, hanya berbaring di sepanjang waktu. Mungkin terbangun di waktu sholat saja.
Naina mengangkat wajah mendengar pertanyaan itu.
"Mmm ... dulu aku nggak terlalu suka makanan kayak gitu. Klo sekarang, nggak tahu kenapa suka tiba-tiba pengen aja," jawab Naina sambil menghendikan bahu.
"Nah itu bawaan orok."
Keduanya tertawa kemudian, terlihat akrab tak seperti saudara ipar kebanyakan.
****
Alfin membawa Yusuf ke sebuah toko perhiasan di mana pemuda itu membeli emas untuk mahar pernikahan.
"Bos, ngapain kita di sini?" tanya Yusuf semakin bingung.
"Udah diem aja. Jangan banyak omong!" sergah Alfin masuk mendekati etalase toko.
__ADS_1
"Cari apa, Pak?" tanya seorang pelayan berseragam khas toko tersebut.
"Mmm ... ada satu set perhiasan nggak, Mbak? Buat mas kawin," tanya Alfin tanpa berbasa-basi.
Membelalak kedua mata Yusuf. Dari mana akan membayar harga yang tak murah itu. Yusuf memburu napas, menormalkan tekanan darahnya yang tiba-tiba terlonjak tinggi.
Karyawan toko tersebut berbisik kepada rekannya. Lalu, kembali mendekati Alfin yang masih menunggu dengan sabar.
"Mari, Pak. Lewat sini, biar saya tunjukkan beberapa model andalan kami," ucapnya membukakan pintu untuk Alfin masuk.
Suami Naina itu menarik tangan Yusuf yang bergeming di tempatnya. Gelagapan pemuda itu terseok-seok mengikuti tarikan Alfin.
"Silahkan dilihat-lihat, Pak."
Alfin memeriksa deretan perhiasan tersebut. Satu set lengkap dengan model yang sama.
"Suf, sini! Nih, pilih. Kira-kira suka yang mana?" panggil Alfin pada pemuda itu.
Yusuf menghela napas, mendekat kemudian.
"Bos, takut uangnya nggak cukup." Yusuf berbisik lirih saat berada di dekat Alfin.
"Nggak usah mikirin soal harga. Anggap aja ini sumbangan atau apapun-lah terserah kamu aja. Pilih aja yang mana kira-kira yang bakal disukai calon istri kamu itu," ucap Alfin menepuk-nepuk bahu Yusuf memintanya untuk memilih.
Semuanya tampak cantik di mata Yusuf, ia tak dapat memilih salah satunya. Kesulitan untuk menentukan apa yang akan disukai Biya. Pilihannya jatuh pada perhiasan bermata putih bening.
"Ini. Bawa ini buat maharnya. Aku nggak mau saudaraku menjadi bahan ejekan orang-orang di Jakarta." Alfin menyerahkan kotak perhiasan yang dibelinya.
Yusuf tertegun, tak tahu lagi harus seperti apa berterimakasih kepada Alfin. Ia memeluk suami Naina tiba-tiba, melepaskan keharuan.
"Makasih, Bos. Aku nggak tahu gimana caranya berterimakasih sama Bos. Udah terlalu banyak kebaikan yang Bos kasih, tapi belum bisa aku balas. Makasih, Bos." Yusuf mengurai pelukan, mengusap kedua matanya yang berair.
Mereka meninggalkan toko dengan perasaan terpuaskan. Menaiki motor kembali ke rumah. Tak lupa Alfin mampir ke penjual rujak untuk membelikan Naina.
"Buat ibu bos ya, Bos." Yusuf bertanya sambil memperhatikan si penjual memotong buah-buahan.
"Iya. Pengennya ngerujak aja akhir-akhir ini. Maklumlah masih masa ngidam."
__ADS_1
Alfin menerima pesanan Naina, berbalik dan pergi setelah membayarnya. Yusuf tersenyum, membayangkan berada di posisi Alfin saat ini. Ia pun akan melakukan hal yang dilakukan Alfin. Membeli apa saja yang disukai istri, memberikannya dengan sepenuh hati sambil mengutarakan rasa yang terselubung dalam jiwa.