
"Lho, Nak? Mau ke mana? Udah rapi aja," tegur Aminah, ibunda Alfin.
Dahinya mengernyit melihat sang anak yang sudah mengenakan jaket kembali.
"Alfin mau pulang ke masjid, Mi. Kasihan anak-anak nanti nggak ada yang jagain," jawab Alfin sembari melangkah menuruni anak tangga, baru saja ia menyambangi kamarnya mengambil sesuatu yang telah lama ia simpan.
"Kenapa nggak nginep di sini aja? Umi masih kangen sama kamu," rayu sang ibunda sambil mengusap kedua bahu Alfin.
Pemuda itu menggenggam tangan tua sang ibu, menciumnya penuh takzim. Tangan yang lain mengusap pipi wanita yang telah melahirkannya itu dengan penuh kelembutan.
"Alfin juga masih kangen sama Umi. Insya Allah, nanti Alfin sering-sering pulang ke rumah. Sekarang, Alfin harus kembali ke masjid untuk menjaga anak-anak Alfin. Lain waktu, kunjungilah mereka. Umi pasti senang," ungkap pemuda itu sembari menatap hangat kedua manik tuanya.
"Udah, atuh, Mi. Nggak apa-apa, anak kita itu punya tanggung jawab sekarang. Jangan memberatkan langkahnya untuk melaksanakan tugas mulia itu. Kita doakan saja semoga apa yang Alfin lakukan mendapatkan ridho Allah SWT," sambar Ahmad, ayahanda Alfin.
Aminah mengecup tangan sang putra, membelai wajahnya penuh kerinduan. Kemudian memeluknya untuk melepas rindu. Bertahun-tahun berpisah karena diusir, saat kembali ia memilih tinggal berjauhan.
Aminah melepas pelukan, sekali lagi menangkup wajah putra bungsu yang amat ia cintai.
"Rumah ini jadi sepi, semenjak anak-anak Umi meninggalkannya. Khadijah ikut dengan suaminya, mengurus peternakan. Busyro pergi dan menetap di pesantren peninggalan mertuanya. Lalu, sekarang Bungsu Umi ini juga punya rumah sendiri yang berisi anak-anak titipan Allah. Bukan Umi nggak bersyukur, tapi Umi kesepian. Kalo Kakak kamu mau menitipkan anaknya di rumah ini, Umi pasti senang," ungkap Aminah penuh kesedihan.
Alfin terenyuh. Benar, dulu saat mereka masih bersama rumah ini selalu ramai. Setiap hari diisi dengan canda tawa, cerita dan celoteh Alfin yang selalu ingin tahu hal-hal baru yang dijumpainya. Setelah mereka menikah, dan pergi ke tempat masing-masing, menyisakan Alfin seorang.
Jiwa serba ingin tahunya mencuat ke permukaan, mulai menjelajah dunia yang membuat silau kedua matanya. Pulang larut, gamis dan kokok yang selalu melekat hilang entah ke mana. Penampilan amburadul ala anak-anak punk di jalanan. Bedanya, Alfin tidak memasang tatto juga tidak pernah menyentuh khamar.
Ia tersenyum, menurunkan pandangan pada wajah sang ibunda, menyesali semua yang telah terlewati.
"Kami nggak mau ngerepotin Umi sama Abi. Umi udah cukup merawat kami dari kecil, sekarang waktunya menikmati masa tua tanpa melakukan apapun. Perbanyak ibadah saja kepada Allah, urusan dunia dan segala isinya, biar kami yang kerjakan. Cukup duduk di rumah dan tunggu kedatangan anak serta cuci Umi dan Abi. Ya?" pinta Alfin tulus dari relung hatinya yang terdalam.
Aminah tersenyum haru, mengangguk menyetujui permintaan si Bungsu. Anaknya kini sudah dewasa, waktu yang telah mendewasakannya.
"Alfin pamit, ya, Mi. Assalamu'alaikum!" pamit Alfin sembari mengecup punggung tangan sang ibunda.
__ADS_1
Ia mendatangi laki-laki tua yang duduk di kursi, sejak tadi memperhatikan percakapan mereka.
"Sahhalallaahu umuurok!" (Semoga Allah memudahkan segala urusanmu).
"Aamiin! Assalamu'alaikum, Bi!"
"Wa'alaikumussalaam wa rahmatullaah!" Ahmad beranjak dan berdiri di sisi sang istri.
Alfin menatap keduanya untuk beberapa saat, tersenyum samar dan berbalik keluar untuk kembali pada dunianya.
"Dia emang selalu punya dunia sendiri, tapi dunianya yang kali ini patut kita dukung. Alfin benar, semakin kita tua sebaiknya semakin memperbanyak ibadah. Mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita juga anak-anak mereka," ujar Ahmad sambil merangkul bahu Aminah.
Keduanya masih berdiri di sana, menatap pintu yang terbuka lebar setelah kepergian Alfin. Hari telah berganti, keinginan kecil di dalam hati Aminah adalah supaya anak bungsunya itu menginap. Sayang, dia sangat memikirkan anak-anak asuhnya di masjid.
Aminah menghela napas, menunduk mengusap matanya yang tiba-tiba terasa panas dan basah. Bukan ia tidak mendukung, dia hanyalah seorang ibu yang merindukan bayi kecilnya di pangkuan.
"Biarin aja, Ni. Saya rasa akan ada yang datang lagi ke rumah ini," sergah Ahmad ketika asisten di rumahnya hendak menutup pintu.
"Emangnya siapa lagi yang akan datang, Bi?" tanya Aminah sambil memperhatikan suaminya yang khusyuk membaca kitab.
"Nggak tahu Abi juga, tapi perasaan Abi bilang bentar lagi akan ada yang datang ke rumah. Entah itu Khadijah, atau Busyro. Nggak tahu," jawab Ahmad tanpa mengalihkan pandangan dari kitab yang dibacanya.
Aminah manggut-manggut senang, jika memang itu mereka dia tidak akan merasa kesepian. Setidaknya untuk tiga malam ke depan karena baik Khadijah ataupun Busyro, mereka akan menginap sedikitnya tiga hari di rumah itu.
Tak sabar hatinya menunggu, berkali-kali melirik pintu yang terbuka. Berharap mereka akan muncul dengan segera. Ia menghela napas, kembali beralih pada layar kaca persegi di depannya.
"Assalamu'alaikum!"
"Assalamu'alaikum!"
"Nenek! Kakek!"
__ADS_1
Seruan bernada riang gembira membuat hati Aminah merekah. Ia bangkit dengan segera memapak anak juga cucunya.
"Yasir! Nisa!" sambutnya seraya memeluk kedua anak kecil yang datang bersama dua orang dewasa lainnya.
Ahmad pula beranjak setelah meletakkan kitabnya di atas meja. Datang menyambut si buah hati bersama kedua anak kecil mereka.
"Umi! Abi! Apa kabar?" sapa si Sulung sembari memeluk kedua orang tuanya.
"Alhamdulillah, Umi sama Abi sehat. Kamu sendiri gimana?" Aminah balik bertanya sambil menatap wajah si Sulung.
"Alhamdulillah, Dijah lagi hamil lagi, Umi. Anak ketiga, insya Allah baru menginjak bulan ketiga," jawab Khadijah kakak pertama Alfin.
"Alhamdulillah, ya Allah. Umi seneng dengernya." Aminah menatap Ahmad penuh haru.
"Ayo, Nak. Masuk!" ajak Ahmad yang diapit kedua cucunya pada anak juga sang menantu.
"Umi sama Abi udah ketemu Alfin?" tanya Khadijah sembari duduk di kursi.
"Udah, baru aja di pulang dari sini." Aminah menyesal tidak mencegah Alfin lebih lama.
"Oya? Terus dia cerita nggak soal usahanya?" Khadijah nampak antusias menceritakan perihal adik bungsunya.
"Iya, toko matrial katanya," sahut Ahmad yang sibuk meladeni kedua cucunya.
"Iya, tapi bukan toko matrial biasa. Umi tahu ruko baru yang di kota itu? Itu punya Alfin, Bi. Pelanggannya bukan orang-orang biasa. Dijah juga nggak nyangka, adik nakal Dijah bisa jadi sesukses itu," puji sang kakak kepada Alfin.
Melongo kedua sepuh itu, saling pandang satu sama lain. Mengingat ucapan Alfin yang mengatakan hanyalah usaha kecil-kecilan.
"Dan Abi tahu? Masjid yang dia tempati itu dana dan bahan bangunan semuanya dari dia, Abi, tapi dia nggak pernah bilang sama siapapun. Dijah tahu itu dari pekerjanya di toko. Mereka bilang, Alfin menyembunyikan identitasnya sebagai donatur utama pembangunan masjid itu. Lalu, menawarkan diri sebagai marbot dan mengasuh anak-anak yatim. Maa syaa Allah!" Khadijah memuji sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Menetes air mata Aminah, pun dengan Ahmad. Anak yang dianggapnya berandal, ternyata menyimpan rahasia besar yang mereka saja sebagai keluarga, tidak mengetahuinya.
__ADS_1
Rahasia besar alfin.