
Hah~
Helaan napas panjang berkali-kali dihembuskan laki-laki yang berbaring di tepi ranjang itu. Ia memunggungi kedua wanita yang tertidur di sampingnya. Dengkuran halus mereka terdengar menyebalkan. Asik tertidur sementara dia mati-matian harus menahan keinginan yang sudah berada di puncak.
Alfin mendengus, beranjak duduk dan melirik Naina yang berpelukan bersama Halwa. Keduanya telah terlelap, tak akan mungkin ia bangunkan. Alfin menengadah menatap jam berwarna merah muda di dinding.
"Jam dua belas malam." Ia menghela napas, memilih pergi meninggalkan kamar karena sama sekali tak dapat memejamkan mata.
Alfin pergi ke dapur menenggak segelas air dingin, kemudian pergi ke belakang rumah untuk mencari udara segar. Memainkan ponsel untuk mengundang rasa kantuk agar dapat tertidur.
Ia menengadah, menatap langit malam yang kelam. Bermenung apa yang akan dia lakukan bersama Naina.
"Kenapa ada aja gangguan, ya? Apa aku harus cari tempat buat bulan madu? Rasanya aku pengen berduaan aja sama Naina. Nggak ada yang ganggu." Alfin kembali menghela napas. Berpikir tempat apa yang akan dia datangi untuk menghabiskan waktu berdua saja bersama Naina.
Ia bermenung tak mempedulikan ponselnya yang terus berjalan memperlihatkan sebuah tontonan yang tadi menemani kesepiannya. Alfin mengusap dagu, berdecak kesal sendiri karena tak menemukan jawaban.
Berkali-kali menarik napas guna menyingkirkan rasa sepi yang mendera hati dan jiwanya. Keinginan yang sempat memuncak perlahan menguap meski belum sempurna.
Di dalam kamar, Naina mengernyit. Kelopak matanya perlahan terbuka tak sadar terlelap padahal niat hanya ingin menidurkan Halwa. Hal pertama yang dia lihat adalah tempat suaminya berbaring.
Alisnya saling bertaut satu sama lain, bertanya-tanya dalam hati ke mana suaminya pergi? Naina mengangkat perlahan tangan Halwa yang melingkar di perutnya, beranjak turun dan menggantikannya dengan bantal guling. Bergegas ia menyambar kerudung keluar dan menutup pintu pelan mencari Alfin.
"Di mana, ya? Apa mungkin di dapur?" Ia bergumam sambil menuruni anak tangga dan berbelok ke dapur. Dinyalakannya lampu, tak seorang pun ada di sana. Ingin memanggil, tapi takut membangunkan yang lain.
Bahu wanita itu melorot, kecewa karena tak mendapati suaminya. Ia berjalan keluar dapur dan duduk di ruang keluarga. Mencoba mengirimi pesan singkat kepada suaminya.
Mas, di mana? Kok, nggak ada di kamar.
Naina menghela napas, menyalakan televisi menunggu jawaban. Sementara di belakang rumah, Alfin mengernyit ketika ponselnya berbunyi.
Naina? Hatinya bergumam girang, wajah seketika berseri mendapat pesan teks dari sang istri. Gegas dibukanya pesan tersebut dan membacanya. Alfin tersenyum, terburu-buru membalas pesan Naina.
Di belakang, sayang. Kamu di mana?
__ADS_1
Alfin menunggu dengan gugup, memandangi ponsel di tangan tak sabar ingin menemui sang istri. Beberapa saat menunggu tak ada pesan jawaban masuk. Alfin menghela napas, menatap kolam renang yang memantulkan cahaya lampu.
"Mas!" Kedua tangan Naina melingkar di lehernya.
Alfin senang bukan kepalang, ia menarik tangan Naina dan membawa tubuh itu ke depan. Memangkunya, memeluknya mesra.
"Halwa nggak bangun kamu tinggal?" tanya Alfin, kepalanya menelusup ke dada Naina mencari kehangatan.
"Nggak. Aku kira kamu ke mana, Mas. Aku cariin tadi. Ngapain di sini?" Naina menjauhkan kepala Alfin dan menengadahkannya. Saling bertatapan memancarkan kerinduan.
"Mas nggak bisa tidur, sayang. Mas juga nggak tahu mau ngapain. Jadi, ke sini aja ngadem," jawab Alfin sejujurnya.
Tatapan matanya semakin dalam, menyiratkan keinginan yang memuncak. Alfin meneguk ludah, tak mampu lagi menahan.
"Mas mau, sayang. Boleh, ya?" Suara Alfin berubah parau, tertekan sebuah rasa yang menggebu.
"Di kamar? Nanti Halwa bangun," jawab Naina teringat gadis kecil itu yang mudah sekali bangun.
Alfin menggelengkan kepala, mengangkat tubuh Naina dan merebahkannya di kursi malas yang terdapat di pinggir kolam tersebut.
"Di sini? Gimana kalo ada yang lihat?" Mata Naina menjegil lebar.
"Nggak ada, sayang. Di sini aja, ya?" Alfin memelas.
"Bibi?"
"Kamar mereka bukan di sini."
Naina pasrah, hanyut dalam sentuhan sang suami. Menikmati Alfin yang menjelajah setiap inci dari bagian tubuhnya. Pertempuran tak terduga itu terjadi tanpa tahu tempat. Tak masalah bagi Alfin, bila itu dapat menuntaskan keinginannya.
Laki-laki itu memungut kerudung Naina dan mengenakannya. Membangunkan wanita itu seraya mendekapnya. Mengecup dahi dan mengucap terima kasih. Alfin menggenggam tangan sang istri, mengecupnya dengan mesra.
"Maaf, ya. Kita jadi main di sini karena ada Halwa," bisik Alfin sembari melingkarkan tangan di pinggang Naina yang merebahkan kepala di bahunya.
__ADS_1
"Justru aku yang nggak enak. Kamar tamu keisi semua sama anak-anak. Kalo ada yang masih kosong nggak mungkin di sini," balas Naina dengan lirih.
"Masih sakit?" Alfin mengecup ubun-ubun sang istri. Cinta mereka semakin hari semakin besar dan terus tumbuh dengan subur.
"Nggak, Mas. Kenapa kemarin itu perih, ya? Sekarang udah nggak, aku kira bakalan perih lagi kayak kemarin," sahut Naina, ikut melingkarkan tangan di pinggang Alfin. Ia mendongak, menatap manja suaminya.
Gemas. Alfin menggigit bibir itu, mengeratkan dekapan.
"Udah nggak akan sakit lagi, sayang. Yang ada malah keenakan. Sakitnya cuma sehari aja," beritahu Alfin.
Naina mendadak menjauhkan tubuh, teringat pada bercak darah di malam pertama mereka.
"Awas, Mas!" Ia meminta Alfin untuk berdiri, kebingungan jelas tersirat di wajah laki-laki itu.
"Cari apa?" tanya Alfin sambil bertolak pinggang.
"Takut ada darahnya lagi. 'Kan, repot nantinya," sahut Naina mencari-cari bercak di atas kursi.
Alfin mengernyit, tapi yakin tak akan lagi ada darah meski jalannya masih terasa sempit dan menggigit.
"Udah nggak ada, sayang. Masuk, yuk. Di sini udah mulai dingin," ajaknya sambil menunggu Naina menyelesaikan pencarian.
Wanita itu menghela napas saat tak ditemukan bekas apapun. Lalu, beranjak menggandeng tangan suaminya memasuki rumah.
"Yang, kita bulan madu, yuk. Mas pengen berduaan sama kamu. Ya ... tiga hari atau satu Minggu gitu. Kamu yang pikirin tempatnya, ya," ucap Alfin di perjalanan menuju kamar.
Naina tercenung, sebuah permintaan yang harus dipertimbangkan secara matang. Mengingat anak-anak, terutama Halwa yang masih harus diurus.
"Anak-anak nggak usah dipikirin dulu. Ada orang yang biasa merawat mereka kalo aku pergi-pergi. Jadi, kita pergi, ya. Ke mana aja, deh, yang kamu mau." Alfin membaca cepat riak di wajah Naina.
Gadis itu menoleh, tersenyum dan mengangguk.
"Nanti aku pikirin tempat mana yang mau aku datangi." Naina menjawab disambut kegembiraan hati Alfin.
__ADS_1
Keduanya kembali ke kamar, merebah saling bersisian. Alfin memeluk Naina dari belakang, perasannya terus membuncah setiap kali mereka bersentuhan.
Naina terus berpikir tempat seperti apa yang ingin dia kunjungi. Ada banyak tempat dalam pikirannya, tapi belum menemukan yang pas. Tidur terlalap di dalam hangatnya pelukan sang suami.