Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 172


__ADS_3

Prang!


Brugh!


Brak!


Segala macam bunyi-bunyian memicu perhatian semua masyarakat yang berada di lingkungan itu termasuk Alfin sendiri.


"Sebenarnya apa, sih, yang mereka ributin, Kak? Kok, kayaknya heboh banget," tanya Alfin penasaran.


"Biasalah, namanya pasangan muda. Sama-sama nggak bisa ngendaliin emosi dan terlalu mengedepankan ego," jawab Khadijah sembari memperhatikan rumah tertutup di seberang jalan rumahnya.


Alfin manggut-manggut mengerti, ia berbalik dan ikut memperhatikan rumah tersebut.


"Anak siapa yang kamu kandung?" Pertanyaan bernada tinggi itu menggelegar mengalahkan petir di langit.


Alis Alfin saling beradu mendengar pertanyaan si Laki-laki di rumah tersebut. Tak ada sahutan, hanya terdengar isak tangis si Wanita dan suara laki-laki yang sendirian.


"Kita baru menikah satu bulan, tapi kenapa hamil kamu udah tiga bulan? Kenapa?" Teriakan itu mengundang semakin banyak warga untuk berkerumun di sana.


Sedikitnya Alfin mengenali pemilik suara itu. Berharap mereka akan keluar agar bisa memastikan tebakannya. Lagi-lagi tak ada sahutan, tangis si Wanita semakin histeris terdengar.


"Pergi kamu dari sini! Aku nggak sudi punya istri kayak kamu!" Laki-laki itu berdiri di ambang pintu setelah mendorong tubuh istrinya keluar.


Terbelalak kedua mata Alfin melihat mereka, ia mengangguk-anggukkan kepala puas karena tuduhan yang dia layangkan pada Naina berbalik pada dirinya sendiri.


"Maafin aku, Mas. Maafin aku. Aku nggak mau pergi dari sini, aku mau sama kamu, Mas," rengek wanita itu sambil memegangi kaki si Laki-laki.


"Lepas! Aku nggak sudi punya istri yang hamil anak orang lain. Sekarang kamu pergi, aku ceraikan kamu sekarang juga!" bentak laki-laki itu tanpa bekas kasihan.


"Nggak! Nggak, Mas. Aku nggak mau cerai sama kamu. Aku nggak mau, Mas!" tolak wanita itu kembali beringsut memegangi suaminya.


Laki-laki tersebut melilau ke segala arah, dan tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan manik Alfin. Senyum suami Naina itu menyambut, bahkan melambaikan tangan seolah-olah mengejek. Ia melengos, berpaling dengan perasaan yang diliputi rasa malu.


Melihat situasi yang sudah tidak lagi kondusif, Khadijah dan suaminya berniat melerai mereka. Namun, langkah keduanya surut ketika pak RT dan beberapa warga datang menghampiri mereka.

__ADS_1


"Assalamualaikum! Maa syaa Allah, ada apa ini, Pak, Bu? Kenapa bikin keributan? Semuanya bisa diomongin baik-baik, nggak usah kayak gini," ucap pak RT sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ia membantu si Wanita untuk beranjak dan menyerahkan kepada warga perempuan.


"Aku nggak bisa, Pak RT. Dia mengandung anak orang lain dan aku yang harus tanggung jawab. Aku nggak sudi!" tolak laki-laki itu menuding istrinya dengan kejam.


"Sebaiknya kita berbicara di dalam. Ayo, Pak, Bu. Ini tugas kita sebagai tetangga mendamaikan dua orang berselisih," ucap pak RT seraya mendorong laki-laki itu untuk masuk ke dalam diikuti para warga dan istrinya.


"Ucapan itu berbalik pada sendirinya sendiri," gumam Alfin yang masih dapat didengar Khadijah dan suaminya.


"Maksud kamu apa, Fin? Kamu kenal sama mereka?" tanya Khadijah yang baru saja duduk di kursinya, sedangkan sang suami ikut masuk ke dalam rumah tersebut membantu ketua RT.


Alfin menghela napas, memalingkan wajah dari rumah yang seketika ramai didatangi warga.


"Kenal, sih, nggak. Cuma kemarin kebetulan aja ketemu di rumah sakit pas mau cek kandungan Naina. Ya, mungkin itu salah satu laki-laki yang dulu mau melamar Naina, dari omongannya yang nggak ngenakin itu. Dia bilang Naina hamil anak yang nggak jelas. Yang nggak tahu siapa bapaknya." Alfin menghendikan bahu, membayangkan jadi Naina seperti apa perihnya difitnah.


"Astaghfirullah al-'adhiim! Keterlaluan. Sekarang malah dia yang bernasib kayak gitu. Itu dari kemarin, Fin, mereka ribut. Terus gimana sama Naina?" tanya Khadijah cemas.


Alfin tersenyum menunjukkan pesan dari sang istri yang baru saja masuk.


Khadijah terkekeh ikut berdiri. Ia bersyukur istri Alfin tidak mengalami trauma. Semoga saja wanita itu selalu kuat dan menginspirasi banyak kaum hawa yang hidupnya terbilang keras.


"Aku pamit, Kak. Ibu negara udah ngiler katanya." Alfin menyalami Khadijah kemudian bergegas masuk ke dalam bersama dua pekerja lainnya.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalaam! Hati-hati, salam sama Naina!" ucap Khadijah melepas kepergian adik bungsunya. Ia kembali duduk di kursi tadi, menunggu suaminya kembali dari mendamaikan suami istri itu.


Alfin mengantar dua pekerjanya ke toko, sedangkan ia pergi membeli rujak sebelum pulang ke rumah.


Kok, kayaknya keliatan enak, ya.


Ia menambah porsinya, secara tiba-tiba air liur berkumpul di bawah lidah ingin ikut memakan rujak jambu tersebut. Alfin menerima dan membayar, mencicipi sedikit, meringis-ringis sedap.


"Enak juga. Kalo dari dulu tahu enak, aku udah sering beli kali," gumam Alfin seraya menghidupkan mesin mobil dan pergi pulang ke rumah.

__ADS_1


Ia tersenyum melihat Naina berdiri di teras rumah menunggu kedatangannya. Tersenyum sumringah, berlari menyambut sang suami.


"Eh, jangan lari-lari! Nggak sabar banget," sergah Alfin yang mendekap pinggang Naina begitu tiba di sisinya.


"Nggak sabar, Mas. Lama banget, sih." Naina tersenyum, pipinya yang merona membuat Alfin ingin menciumnya dengan gemas.


"Yuk, Mas. Kita makan sama-sama." Naina menarik tangan Alfin untuk segera memasuki rumah. Ia memanggil semua orang yang ada di sana, meminta mereka berkumpul untuk menikmati rujak bersama-sama.


"Lho, ustadz bukannya nggak suka rujak, ya? Sekarang lahap banget kayaknya," celetuk Bibi yang sudah mengenal betul bagaimana Alfin.


"Bawaan anak mungkin, Bi. Abis enak rasanya, nggak bisa ditolak," jawab Alfin sambil terkekeh.


Mereka menyantap bersama-sama, terasa lebih nikmat daripada memakannya sendirian.


"Mas, besok kita makan di tempatnya, ya." Naina merajuk manja setelah menghabiskan rujak tersebut.


"Ya. Apapun demi istri aku." Alfin mendekap tubuh Naina, teringat pada laki-laki tadi yang terlihat malu dan menyesal.


Ia tersenyum, mengecup ubun-ubun sang istri. Semakin jatuh cinta rasanya pada wanita itu.


Jangan sedih-sedih lagi, tetap tersenyum dan bahagia. Bersamaku.


Alfin bergumam dalam hati, mendekap sedikit erat seolah-olah takut kehilangannya. Naina sedikit merasa aneh, ia mendongak menatap wajah Alfin dengan kerutan di dahi.


"Mas, kenapa? Kok, kenceng banget meluknya?" tanya Naina sedikit terdengar manja di telinga Alfin.


Ia menunduk, mengecup singkat bibir manis itu.


"Nggak apa-apa. Sayang banget sama istri Mas ini. Jangan nangis lagi, ya. Mas pengen kamu terus tersenyum dan bahagia," ungkap Alfin mendekap kembali tubuh sang istri.


Naina terenyuh, rasa haru membuat matanya memanas.


"Aku pengen nangis, Mas." Dia merengek manja.


"Bahagia, 'kan?" tanya Alfin.

__ADS_1


Naina mengangguk, kemudian menggesekkan wajahnya di dada sang suami. "Nggak apa-apa kalo bahagia."


__ADS_2