Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 177


__ADS_3

"Kamu di sini aja nggak usah ikut pulang lagi. Pindah aja ke cabang yang di sini. Kalo kamu kerja di sana, kasihan jauh bolak-baliknya. Terus kalo istri kamu ikut ke sana, anakku sama siapa di sini. Salma mau ngejar cita-citanya sama istri kamu. Jadi, aku titip di sini aja." Alfin menepuk bahu Yusuf memutuskan untuk memindahkan laki-laki itu ke cabang Jakarta.


"Tapi, Bos. Aku mau sama Bos aja di sana. Aku nggak mau kerja di toko cabang," tolak Yusuf dengan wajah memelas kepada Alfin.


"Denger, Suf. Kepala di kantor cabang itu sakit dan dia cuti udah lama. Kamu di sana atau di sini itu sama aja. Udah diem di sini aja. Bentar lagi semesteran, Salma mau pindah ke sini. Bantu anakku buat ngejar cita-citanya." Alfin bersikeras dengan keputusannya.


"Ayah, Salma mau pindah tempat tinggal?" Tiba-tiba suara Wildan bertanya, tak sengaja mendengar percakapan dua laki-laki itu di ruang tamu rumah.


"Wildan? Mau ke mana?" Alfin menoleh, mendekat dan merangkul bahu anaknya. Ia mengajak remaja itu untuk duduk di sofa bersama Yusuf.

__ADS_1


Pesta berakhir sebelum Maghrib, dan semua keluarga sedang beristirahat di tempat yang disediakan Fatih.


"Wildan haus nggak sengaja denger obrolan Ayah di sini. Apa bener Salma mau pindah, Ya?" Wildan mengulangi pertanyaannya. Tersirat kesedihan di wajah tampan itu, mungkin itu karena mereka tidak pernah berpisah sejak dipertemukan.


Alfin menghela napas, menepuk-nepuk bahu putranya sembari melipat bibir. Ia menunduk merasakan kesedihan yang sama seperti anak itu. Lalu, kembali mendongak menatap Wildan sambil tersenyum.


"Kalo mau egois, Ayah juga nggak mau Salma sampai pindah dan tinggal jauh sama Ayah, tapi anak-anak Ayah semuanya punya cita-cita dan kalian harus mengejar cita-cita kalian. Salma ingin menjadi seorang designer, dan Tante Biya sangat cocok menjadi pembimbingnya. Di sini, dia bisa mengejar cita-cita karena ada sekolah khusus juga berkat bantuan Tante Biya." Alfin tersenyum tak lepas maniknya dari wajah remaja itu.


Sang remaja menganggukkan kepala, dia pun memiliki cita-cita meski hanya sederhana saja. Ingin meramaikan masjid dan menjaga ketentramannya.

__ADS_1


"Yah, apapun cita-cita Wildan, itu semua harus dikejar dengan keyakinan. Nggak ada yang sia-sia selama itu memberikan manfaat untuk orang lain. Ingat, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya. Wildan faham?" Alfin sedikit menekan pundak Wildan, memberinya keyakinan.


Remaja itu menganggukkan kepala sedikit hatinya merasa lega setelah mendengar penjelasan sang ayah. Dia, Salma, dan yang lainnya memiliki impian masing-masing. Untuk itulah Alfin menyekolahkan mereka, agar mereka memiliki bekal ilmu pengetahuan di saat harus terjun langsung ke lapangan.


Alfin memeluk putranya, mencium kepala anak itu penuh cinta. Wildan tak menampik, dia menyukai pelukan itu. Pelukan penuh kasih dan sayang yang selalu menghantarkan rasa hangat ke dalam jiwanya.


"Ya udah. Kalo mau minum, minum dulu. Abis itu tidur lagi, nanti abis sholat subuh kita pulang." Alfin melepas pelukan dan meminta Wildan kembali ke tempat tidur bersama saudaranya yang lain.


"Eh, Bos! Mau ke mana?" Yusuf panik karena Alfin hendak meninggalkannya sendirian.

__ADS_1


"Lho. Mau tidur. Kamu nggak tidur? Sana, kasihan istri kamu nungguin. Jangan bikin perempuan nunggu lama-lama, nanti nyesel, lho." Alfin mengejek, padahal dia tahu Yusuf saat ini sedang tidak karuan.


Yusuf gelisah, apakah dia harus pergi ke kamar Biya? Ah, dia menggelengkan kepala. Lalu, merebahkan diri di atas sofa.


__ADS_2