
Di ruang tengah rumah, mereka masih berkumpul. Kecuali Naina dan Alfin yang memutuskan untuk beristirahat lebih dulu di kamar mereka setelah menyambut kedatangan Ahmad dan keluarganya. Wanita itu menghela napas, termenung menatap jendela di kamarnya. Kepala ia sandarkan pada tiang, memeluk dirinya sendiri.
Angin malam sesekali akan menerbangkan tirai menembus jendela yang sengaja dibuka. Ada satu hal yang mengganggu pikirannya sejak sore tadi.
"Sayang. Ada apa? Kenapa ngelamun di sini?" Alfin memeluknya dari belakang, mencium pipinya seraya menjatuhkan kepala di bahu Naina.
"Mas, Tiwi ke mana, ya? Kok, dia nggak datang, sih?" tanya Naina meletakkan tangan di atas tangan Alfin yang melingkari pinggangnya.
"Nadia?" tegas Alfin, Naina mengangguk. "Hhmm ... nggak tahu Mas juga. Fahmi juga nggak ada, dia nggak kasih kabar," sahut Alfin menelusupkan bibir di ceruk leher Naina.
"Kira-kira kenapa, ya? Apa ada halangan?" Naina masih bertanya-tanya. Menerka-nerka halangan apa yang membuat mereka sampai tidak hadir di acara resepsi pernikahannya.
"Jangan su'udzon. Mungkin mereka memang ada halangan, kita nggak tahu." Alfin mengeratkan dekapan, menumpahkan rasa di dalam hatinya.
Tak ada lagi pembicaraan, keduanya hanyut dalam sebuah rasa yang menghangatkan jiwa. Sampai sebuah mobil memasuki halaman rumah, mengernyit dahi Naina.
"Mas, itu mobil mas Fahmi bukan, sih?" tanya Naina saat mengenali mobil yang baru saja berhenti di halaman.
Alfin membuka mata, mendekat pada jendela. Ia tersenyum membenarkan tebakan Naina.
"Ayo, Mas!" Naina membuka lingkaran tangan Alfin, dan menariknya untuk segera keluar menyambut kedatangan Tiwi.
"Assalamu'alaikum!" sapa Tiwi dan Fahmi secara bersamaan.
"Wa'alaikumussalaam! Maa syaa Allah! Ini calon manten baru dateng," sambut Ahmad disenyumi Fahmi dan Tiwi.
Ahmad dan keluarganya baru saja bergabung di ruang tengah. Mereka tidak mengikuti acara perjodohan Yusuf dan Biya karena satu hal.
Fahmi dan Tiwi menyalami mereka dengan sopan. Seira memekik melihat perubahan pada sahabat Naina itu.
"Kamu bukannya Tiwi? Sahabat Naina? Bener, 'kan?" pekiknya sembari memegangi kedua bahu gadis itu.
Tiwi tersenyum mengangguk membenarkan.
"Maa syaa Allah! Kalian benar-benar membuatku takjub. Persahabatan kalian benar-benar kuat." Ia memeluk tubuh Tiwi, tak percaya gadis yang dulu selalu berpakaian seksi kini menjadi tertutup.
"Makasih, Bu. Ini semua karena aku melihat Naina. Jadi, nggak tahu kenapa aku pengen mengikuti jalannya," ujar Tiwi sembari melepaskan pelukan Seira.
__ADS_1
Ia tersenyum manis, terlihat lebih lembut dan dewasa.
"Mudah-mudahan persahabatan kalian sampai ke akhirat nanti. Sampai ke surga-Nya Allah. Aamiin," ucap Seira mendoakan.
"Aamiin." Tak hanya Tiwi, semua yang ada ikut mengaminkan doa Seira.
Suara langkah yang begitu cepat menuruni anak tangga, menyentak mereka semua.
"Hati-hati, Humairah!" ingat Alfin yang tak diindahkan Naina.
"Tiwi!"
"Hati-hati, Naina!" pekik mereka melihat Naina yang terus berlari menuruni anak tangga.
Brugh!
Ia langsung memeluk Tiwi, merasa lega karena pada akhirnya bisa melihat sosok sahabat yang ditunggu.
"Ngeri banget, sih, lihat kamu lari-lari begitu. Nggak takut jatuh apa." Tiwi memberengut memukul pelan bahu istri Alfin itu.
Naina tertawa, dia senang bukan main karena melihat Tiwi. Kembali memeluk sahabatnya itu dengan lebih erat.
Ia menarik sahabatnya ke teras, duduk berbincang berdua saja.
"Aku habis ngurus-ngurus paspor, Nai. Lusa aku mau berangkat ke Mesir," jawab Tiwi dengan lirih.
Naina menahan napas, mereka akan berpisah lagi dalam waktu yang lama.
"Kamu beneran jadi ke Mesir, Wi? Nanti aku sendirian di sini. Jangan lama-lama, Wi," rengek Naina sambil memegangi tangan gadis itu.
"Iya, Nai. Alhamdulillah, Papah aku sekarang udah berubah. Dia udah bisa nerima semua takdir yang digariskan Allah. Aku nggak mau mereka kecewa lagi, Nai. Mungkin ini permintaan terakhir mereka dari anak satu-satunya," ungkap Tiwi penuh syukur.
Naina terenyuh, seandainya Lita masih ada bersamanya, mungkin dia akan terus melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana.
"Kamu sendiri gimana, Nai? Nggak lanjutin kuliah kamu? Sayang, lho," tanya Tiwi sangat menyayangkan keputusan Naina untuk tidak melanjutkan pendidikan.
"Aku nggak tahu, Wi. Untuk sekarang, sih, aku belum kepikiran. Nggak tahu kalo nanti," jawab Naina bimbang.
__ADS_1
Dia sudah memiliki tanggung jawab sekarang, sebagai seorang wanita yang sudah menikah. Menjaga kehormatan suami adalah yang utama.
"Coba bilang aja sama Alfin. Aku yakin, sih, dia setuju." Tiwi mengusulkan, tapi Naina masih belum tahu.
Ia menghela napas, tak pernah terpikirkan untuk melanjutkan sekolah apalagi setelah menikah dan belajar arti tanggung jawab seorang istri.
Alfin menguping, niat ingin menghampiri mereka ia urungkan dan kembali bergabung bersama yang lain. Perlukah Naina melanjutkan pendidikan?
****
Di tempat lain, Biya dan Yusuf baru menyelesaikan obrolan mereka dan berniat kembali pada perkumpulan.
"Besok antar aku ngambil mobil, ya, Mas. Sekalian aku mau tahu tempat kerja kamu. Nggak apa-apa, 'kan?" pinta Biya hanya sekedar ingin melihat toko matrial tempat Yusuf bekerja.
"Mmm ... boleh. Nanti aku antar, tapi izin dulu sama kakak kamu," ingat Yusuf diangguki Biya.
Keduanya memasuki rumah beriringan, bahkan tak terlihat canggung lagi. Duduk bersama semua orang, ikut masuk ke dalam obrolan.
"Lho, ini siapa?" tanya Ahmad yang tak tahu tentang Biya.
"Dia adik saya, Pak Ustadz. Biya namanya," sahut Fatih memperkenalkan.
"Dek, ini Ustadz Ahmad, bapaknya Alfin. Itu ibunya, itu kakak-kakaknya." Satu per satu Fatih memperkenalkan mereka kepada Biya. Dengan sopan Biya tersenyum dan mengangguk sambil menangkupkan tangan di dada.
"Oh, calon istri Yusuf?" sambar Fahmi dengan cepat.
Merona kedua pipi pemuda itu. Tersipu malu. Disambut gelak tawa oleh semua orang. Kebahagiaan tengah menyelimuti keluarga di rumah besar Adrian. Asep dan Sumiyati tersenyum haru sekaligus lega karena Naina dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.
"Seneng rasanya, Pak. Akhirnya keponakan kita mendapatkan kebahagiaan. Lita di sana juga pasti bahagia, mudah-mudahan Husnul khatimah diterima segala amal dan diampuni segala dosa. Aamiin." Sumiyati berbisik di dekat telinga suaminya.
Tangannya menyusut cairan yang menggenang di kedua sudut mata, tak membiarkannya untuk jatuh di hari bahagia itu.
"Yah, Bu. Bapak juga senang lihat Naina yang sekarang terus tersenyum. Apalagi semenjak menikah sama Alfin, dia kelihatan bahagia terus. Yah, mudah-mudahan sepanjangnya mereka akan bahagia. Kalaupun ada masalah, itu nggak membuat hubungan mereka retak."
Kedua paruh baya itu berbincang sendiri, mata mereka menatap sosok Alfin yang terus memperhatikan pintu masuk di mana Naina berada di teras. Berselang, kedua wanita itu masuk, disambut senyuman Alfin.
"Lihat, Pah. Baru lihat aja Alfin udah senyum-senyum kayak gitu. Kayaknya nggak bisa jauh dari Naina." Kali ini Habsoh yang berbisik kepada suaminya.
__ADS_1
"Mamah benar, setelah melewati ujian yang panjang akhirnya Naina bisa tersenyum juga," sambut Adrian berbisik pula.