
"Pah, jam berapa pertemuannya?" tanya Naina ikut membereskan meja kerja Adrian dan merapikan dokumen di atasnya.
"Pas makan siang nanti. Kamu nggak apa-apa ikut? Sudah izin sama Alfin?" Adrian melirik dari kursinya.
Naina tercenung, Alfin sudah mengizinkannya keluar, tapi untuk berbelanja. Ia menggelengkan kepala menjawab pertanyaan papahnya. Adrian menghela napas, menegakkan tubuh menatap sang putri.
"Telpon, izin dulu sama suami kamu. Nggak baik seorang istri pergi-pergi keluar tanpa izin suami karena selangkah saja keluar rumah, langit bumi dan seluruh isinya akan melaknatnya sampai dia pulang kembali," ucap Adrian menasihati.
Naina meneguk ludah, lantas mengangguk dan menjauh dari meja Adrian kemudian duduk di sofa. Dikeluarkannya benda pipih dari tas, secepat kilat menghubungi ponsel Alfin.
Di toko, Alfin tengah sibuk membahas masalah proyek dengan sekretarisnya. Namun, ponsel yang berdering, panggilan dari sang istri membuatnya menjeda bahasan. Alfin berpamitan untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamualaikum, Humairah! Ada apa?" tanya Alfin segera begitu panggilan tersambung.
"Wa'alaikumussalaam. Maaf, Mas. Tadi aku mau belanja, tapi aku ikut Papah dulu ke kantor. Mungkin setelah urusan Papah selesai aku baru pergi belanja. Kamu jangan marah, ya." Suara Naina terdengar penuh sesal di telinga Alfin.
Laki-laki itu tersenyum, menyandarkan tubuh serta kepala di tiang jendela. Menatap lalu-lalang kendaraan di jalan yang tak pernah terlihat sepi.
"Nggak apa-apa, sayang. Yang penting nanti pulangnya sama Mas. Tunggu di masjid aja, ya," ucap Alfin penuh pengertian.
"Makasih, Mas. Hati-hati, jangan lupa makan siang. Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Iya, sayang. Wa'alaikumussalaam."
Alfin masih di sana, memandangi ponsel yang bergambar pernikahan mereka. Mendapat panggilan demi sebuah izin darinya, membuat hati Alfin berbunga-bunga. Ia mengigit bibir senang, perasaan terhadap Naina semakin subur setiap waktunya.
"Kenapa rasanya lain, ya? Kamu minta izin kayak gitu aja udah bikin hati aku nyut-nyutan, Nai. Rasanya pengen nyamperin kamu, pengen peluk cium kamu." Alfin bergumam sebelum memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
Ia kembali mendatangi tempat berdiskusi, membahas pertemuan nanti.
"Jam berapa pertemuannya?" tanya Alfin melirik jam di dinding sudah hampir menunjukkan waktu Dzuhur.
"Sekitar jam satu atau jam dua, Bos." Sang sekretaris memberitahu sesuai jadwal.
"Lebih baik datang lebih awal dari pada membuat mereka menunggu. Persiapkan semuanya, aku mau ke mushola." Alfin menepuk bahu laki-laki itu sembari beranjak dari kursi.
"Dzuhur! Break dan tutup toko, segera ke mushola!" titah Alfin saat melewati semua pekerja di lantai satu.
"Siap, Bos!" Serentak mereka menjawab. Di waktu-waktu sholat, toko akan tutup sampai semua karyawan menunaikan kewajiban mereka terhadap Tuhan mereka. Diimami Alfin sendiri, mereka menunaikan ibadah berjamaah. Melangitkan doa bersama, menggantung asa pada pemilik cahaya kehidupan.
****
"Kamu pergi sekarang!" ucap Alfin setelah menuntaskan ibadah sholat dzuhur. Ia berpaling pada semua karyawan dan berseru, "Yang lain makan siang dulu. Isi tenaga baru setelah itu kembali bekerja!"
__ADS_1
"Siap, Bos!"
Alfin tersenyum seraya menepuk bahu sang sekretaris untuk segera pergi.
"Kamu duluan, ya. Aku mau jemput anak-anak dulu, nanti nyusul," pamit Alfin seraya membawa mobilnya sendiri menjemput semua anak-anak.
Sekretaris Alfin pergi seorang diri, duduk di sebuah bangku yang telah mereka pesan sebelumnya. Menunggu kedatangan klien untuk membahas soal kerjasama.
Tiga orang datang mendekat, sigap ia berdiri. Tak mengapa Alfin belum tiba, dia bisa melakukannya sendiri.
"Pak Yusuf?" tanya laki-laki tersebut sembari mengulurkan tangan.
"Benar. Anda Pak Mansyur?" tanyanya balik.
"Iya, Pak."
"Silahkan! Sambil menunggu bos saya datang, kita bincang-bincang dulu. Gimana?" ajak Yusuf dengan santai.
"Ah, boleh-boleh." Keempatnya berbincang, saling memperkenalkan diri masing-masing. Membahas sedikitnya tentang kontrak kerjasama bersama toko matrial Alfin.
"Assalamualaikum. Maaf, saya terlambat!"
__ADS_1
"Nah itu, Bos saya."
Alfin tertegun, senyum di bibirnya surut seketika saja.