
"Dijah, apa kabar itu benar? Kalo Naina ...." Lisan Ahmad kelu, tak mampu melanjutkan kalimatnya. Ia memandang putri sulungnya yang baru saja tiba di rumah dari menjaga Naina di rumah sakit.
Khadijah menghela napas, itu adalah pertanyaan yang ... entah ke berapa pagi itu yang ditanyakan orang-orang rumah padanya. Khadijah sendiri belum pasti, dokter tidak memberinya kepastian dan ucapan Naina terdengar ambigu. Dia belum bisa memberi jawaban.
"Dijah juga belum pasti, Bi. Tanya Naina malah jawabannya bikin bingung." Khadijah menatap Ahmad, tak ada apapun yang ingin dia sembunyikan dari semua orang. Hanya saja, jawaban seperti apa yang mereka inginkan?
Ahmad duduk di sofa, diikuti semua orang yang ada. Berkumpul membahas kejadian naas yang menimpa pada calon menantu di rumah itu. Busyro dan istrinya bahkan masih di sana diundang Ahmad untuk memberikan keputusan terbaik. Hanya menunggu Alfin, pihak utama yang harus hadir.
"Gimana sama Alfin? Apa dia bisa menerima?" tanya Ahmad lagi setelah keadaan hening untuk beberapa saat.
Di seberangnya, Aminah menundukkan kepala. Sejak mendengar kabar buruk tentang Naina, hatinya merasa cemas. Ingin rasanya pergi melihat, tapi Ahmad selalu mengatakan nanti.
"Dijah nggak tahu, Abi bisa tanya sama dia. Soalnya dia sendiri yang lihat secara langsung kejadian itu," jawab Khadijah lagi-lagi membingungkan semua orang.
Ahmad menghela napas, khawatir anaknya itu kembali pada jalan yang salah setelah berada pada jalan yang seharusnya.
"Kita tunggu Alfin aja, Bi. Lagian Umi pengen lihat keadaan Naina, kapan kita ke sana, Bi?" ungkap Aminah. Sebagai seorang wanita yang telah tiga kali melahirkan, dia sudah menganggap Naina seperti anaknya sejak pertama kali bertemu.
Memastikan keadaan gadis itu, memberinya dukungan dan mungkin saja membantunya menghilangkan rasa trauma yang membekas.
"Tunggu dulu, Mi. Nanti kita ke sana sama-sama. Sekarang Abi pengen tahu jelasnya kayak gimana?" sahut Ahmad menolak keinginan Aminah.
__ADS_1
Aminah menunduk, kedua anaknya menoleh secara bersamaan. Merasa kasihan terhadap wanita tua itu yang mencemaskan keadaan Naina.
"Benarlah kata Imam Asy-Syafi'i rahimahullaah tentang zinah. Ketika beliau ditanya tentang hukum zinah. "Mengapa hukum bagi pezinah sedemikian beratnya?" Wajah beliau langsung memerah, pipinya merona delima. "Karena ...," jawabnya dengan mata menyala, "zinah adalah dosa yang bala’. Akibatnya mengenai semesta keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liangnya."" Ahmad memandangi wajah istri juga anak-anaknya.
Menerangkan tentang hukum zinah dan pelaku zinah. Mereka semua menundukkan kepala, tahu betul seperti apa ketentuan buruk yang diakibatkan dari dosa zinah.
Ahmad melanjutkan, "Dalam kitab Imanut-Taqwa Imam Syafi’i juga berkata, bahwa zinah adalah utang. Tidak akan terbayar oleh seorang pria yang berzinah bila istrinya, ibunya dan saudara perempuannya belum dizinahi lelaki lain walau dari lubang pintu (dalam rumahnya) sekali pun. Na'uudzu billaah min dzaalik!" Ahmad menggeleng-gelengkan kepala.
Sungguh besar dosa zinah yang harus ditanggung pelakunya. Ahmad mengelus dada, menenangkan keadaan jantungnya yang sudah tua. Aminah bergetar, di sampingnya Khadijah mengusap-usap punggung sang ibu.
"Karena perbuatan orang tuanya dulu, gadis itu harus menanggung beban yang berat. Padahal, dia nggak tahu apa-apa." Kalimat Busyro diakhiri dengan helaan napas panjang lagi berat.
Tak terlihat kejanggalan pada bagian bawah tubuh gadis itu, dia tampak normal tidak seperti kebanyakan orang yang setelah dirudapaksa oleh seseorang.
"Jadi, maksud Kakak Naina masih segel?" tanya Busyro sambil melirik kakaknya itu.
Khadijah terdiam, ragu sendiri dengan pernyataannya. Apa yang harus dia katakan supaya semua keluarganya menerima dengan lapang dada apa yang menimpa pada Naina. Mendukung Alfin untuk tidak meninggalkan gadis itu agar dia tidak mengalami trauma mendalam.
"Kakak sendiri ragu sama jawaban Kakak. Gimana sama kita?" ucap Busyro lagi semakin membuat Khadijah tersudut.
"Mas, maksud Kak Dijah itu beliau nggak mau kalo kita semua sampai mengabaikan Naina cuma karena kejadian itu. Karena kalo kita melakukannya itu akan semakin membuat Naina terpuruk. Tenggelam dalam trauma yang mendalam, dia di sini korban, bukan pelaku. Kita nggak bisa melimpahkan kesalahan atas apa yang terjadi, pada Naina. Kasihan gadis itu, Mas. Dia nggak punya orang tua, pada siapa akan bersandar?" jelas Amaliah, istri Busyro.
__ADS_1
Kedua laki-laki itu tercenung, mencerna ucapan Amaliah. Khadijah tersenyum, akhirnya ada juga yang mengerti dia.
"Seandainya, apa yang menimpa Naina terjadi pada salah satu keluarga kita? Lalu, apa yang kita lakukan ini menimpa pada diri kita sendiri, bagaimana perasaan kita? Bukan berarti saya membela Naina, ataupun mendukung perzinahan. Bukan! Tapi rasa kemanusiaan yang ada dalam diri kita, bangunkan. Tegakah kita meminta Alfin untuk memutuskan pernikahan hanya karena masalah ini?" Amaliah melanjutkan.
Sebagai sesama wanita, dia tahu seperti apa perasaan Naina saat ini. Sakit fisiknya, juga sakit batinnya jika sampai Alfin memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
"Lagian Kak Dijah tadi bilang, semua itu masih belum jelas. Apa yang dilihat oleh mata belum tentu itu yang terjadi." Amaliah mengakhiri ucapannya. Ia menatap Ahmad yang terdiam sambil memandangi Aminah.
Pun dengan Busyro, laki-laki itu juga diam mencerna ucapan istrinya. Khadijah mengelus tangan sang adik ipar, berterimakasih atas dukungan juga pengertiannya.
"Sebagai wanita, kami bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Naina. Dia butuh dukungan, kalo sampai Alfin meninggalkannya itu akan membuat Naina semakin terpuruk. Abi tahu apa yang dia bilang sebelum aku pulang? Dia menangis sambil bertanya, Alfin nggak akan ninggalin aku, 'kan, Kak?" Khadijah terisak, mengingat betapa perihnya hati Naina.
Aminah yang sejak tadi menahan tangis, tumpah jua air matanya. Ahmad menghela napas, menyingkirkan ego yang menguasai hatinya.
"Yah, kita tunggu aja keputusan Alfin. Dia yang akan menjalani, bukan kita. Lusa kita akan jenguk Naina," putus Ahmad membuat hati mereka sedikit lega.
Yang tidak mereka sadari adalah, Alfin ada di sana. Mendengarkan percakapan mereka dari balik pintu utama rumah. Ia yang berniat masuk ke dalam urung karena ingin mendengarkan perdebatan itu.
Pada akhirnya, Alfin memilih pergi dan kembali ke masjid. Merenungkan semua yang terjadi dan keputusan apa yang akan diambilnya. Sudah banyak ia jumpai korban-korban pelecehan yang pada akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa pada dirinya.
Apakah Naina sebodoh itu? Apakah Naina tidak memiliki iman di hatinya? Sederet pertanyaan timbul di hati Alfin, meragukan keimanan calon istrinya.
__ADS_1