Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 122


__ADS_3

"Ekehm!" Suara deheman seorang laki-laki mengalihkan perhatian orang-orang yang berada di meja makan.


Tak ada hal apapun yang mencurigakan, mereka kembali larut menikmati sarapan bersama anak-anak yang lahap dengan makanan mereka.


"Mah! Rasanya semalam Papah denger suara aneh di belakang, tapi nggak tahu apa? Kira-kira Mamah tahu nggak?" tanya Adrian sembari membalik piring dan menyerahkannya kepada Habsoh.


Naina berhenti mengunyah makanannya, melirik kepada Alfin yang juga membelalak mendengar pertanyaan Adrian. Laki-laki itu menelan sekaligus makanan di mulut hingga membuatnya tersedak.


Uhuk-uhuk!


Semua mata tertuju padanya. Buru-buru Naina berdiri memberikan segelas air pada suaminya.


"Minum, Mas!"


"Pelan-pelan aja, Fin, makannya. Sampe keselek kayak gitu," ucap Adrian mengingatkan.


Alfin menenggak air yang diberikan Naina, terbatuk dan rasa perih langsung menyentuh tenggorokan.


"Iya, Nak. Hati-hati," timpal Habsoh sembari memberikan piring milik Adrian yang sudah terisi makanan.

__ADS_1


Alfin tersenyum malu, pipinya yang memerah bukanlah berasal dari rasa perih akibat tersedak, tapi karena rasa malu sebab tertangkap basah asyik masyuk di halaman belakang rumah.


"Emangnya suara apa, sih, Pah? Mungkin anak-anak yang kebangun terus mau minum. Papah lihat nggak?" Habsoh melanjutkan membuat wajah sepasang suami istri baru itu semakin memerah.


"Nggak tahu juga, Mah. Papah cuma denger aja, males liat soalnya. Terus TV semalam juga tiba-tiba nyala. Apa mungkin anak-anak lupa matikan?" ujar Adrian membuat Naina salah tingkah. Ia melirik anak-anak berusia besar seolah-olah bertanya pada mereka.


"Dimatikan, Kek." Salah satu anak menyambar cepat.


"Kenapa bisa hidup lagi, ya?" Adrian bergumam berpikir keras penyebabnya.


"Udahlah, Pah. Mungkin timer-nya hidup. Bisa aja, 'kan?" sela Habsoh mengakhiri keanehan yang mulai merambah.


"Iya juga, ya."


Untung semalam lampunya mati. Jadi, nggak kelihatan dari dalam.


Batinnya bergumam lega. Mengingat semalam mereka melakukannya tanpa penerangan kecuali lampu taman di pinggir kolam. Diam-diam melirik Naina yang terus menunduk tak berani mengangkat wajah.


Nggak lagi-lagi, deh. Ini masih untung Papah nggak lihat, besok-besok pasti disamperin sama Papah.

__ADS_1


Alfin bergidik membayangkan hal tersebut terjadi. Timbul harapan dalam hati, sebuah keinginan. Berharap semoga rumah mereka secepatnya selesai dan bisa ditempati. Ia menghela napas, melanjutkan makannya meski tak lagi berselera.


****


"Doain, ya. Hari ini aku ada pertemuan dengan klien besar. Mudah-mudahan jadi, katanya buat proyek besar," ucap Alfin kepada Naina.


Ia akan pergi ke toko setelah mengantar anak-anak ke sekolah.


"Iya, Mas. Mudah-mudahan deal." Naina tersenyum berharap apa-apa yang dilakukan Alfin mendapat ridho Allah serta berkah dari-NYA.


"Aamiin. Oya, ini ... udah waktunya belanja keperluan anak-anak. Semua kebutuhan mereka udah aku catat di kertas ini. Pakai uang yang kemarin aja. Sekalian beli keperluan kamu. Aku pasti sedih kalo kamu nggak pake uang dariku." Alfin memberikan secarik kertas kepada Naina, mengusap kepala sang istri dengan lembut.


Naina menganggukkan kepala, entah apa yang harus dibeli? Semua kebutuhannya sudah tersedia dari seserahan kemarin. Tak ada lagi yang dia butuhkan, mungkin nanti.


"Maaf. Mungkin aku nggak bisa antar, kamu bisa minta antar mang Asep aja, ya. Tunggu di masjid, nanti aku jemput klo udah selesai pertemuan," ucap Alfin penuh sesal.


"Iya, nggak apa-apa. Mungkin nanti sama Papah aja," sahut Naina mengingat Adrian yang akan pergi ke tokonya.


Alfin mengangguk, mengecup dahi sang istri setelah punggung tangannya mendapat kecupan.

__ADS_1


"Jangan dipikirin soal yang tadi. Kayaknya Papah emang nggak tahu." Alfin berbisik sebelum berlari ke mobil dan pergi membawa anak-anak.


Naina bersemu, menggigit bibirnya malu.


__ADS_2