Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 63


__ADS_3

Sore hari menjelang senja, Alfin duduk termenung di gazebo masjid, memandangi anak-anaknya yang bermain di halaman asrama. Canda tawa mereka tak menghadirkan kebahagiaan dalam hatinya. Senyum-senyum dari bibir mungil itu tak lagi membuatnya tenang. Ada hal yang mengusik ketenangan jiwanya, ada yang hilang dari hatinya.


Sebuah rasa yang ia pupuk hingga tumbuh dengan subur dan yakin akan berbunga lebat. Pun dengan buahnya kelak. Akan tetapi, masihkah pohon itu sesubur dulu? Ataukah layu perlahan dimakan waktu? Entahlah.


Alfin menghela napas untuk ke sekian kalinya. Menghitung jemari berulang kali, entah apa yang dilakukannya? Riuh rendah suara celoteh anak-anak tak juga mengisi kekosongan hati Alfin. Ia merindukan seseorang. Dia yang ia tinggalkan begitu saja dalam keadaan sakit.


Alfin mengangkat wajah, mematri pandangan pada satu sosok kecil yang duduk termenung di bawah pohon jambu. Wajah mungilnya tampak sendu dan muram, seolah-olah ada beban pikiran yang sangat mengganggu.


"Halwa!" panggil Alfin dari tempatnya duduk.


Gadis kecil itu berpaling muka darinya, Alfin mendesah. Ia tahu kenapa Halwa bersikap demikian. Sudah sejak kemarin dia meminta bertemu dengan Naina, tapi Alfin belum mampu mempertemukan mereka.


Ia bangkit dan melangkah pelan mendekatinya, duduk di samping gadis kecil itu sambil menghela napas. Halwa yang memalingkan wajah, kini justru memunggungi Alfin.


"Kamu kangen sama Ibu?" tanya Alfin membuka bahasan.


Satu detik, dua detik, tiga detik, tak ada jawaban. Lagi-lagi Alfin menghembuskan napas, berat dan sesak. Mungkinkah yang dirasakan Naina sekarang seperti yang ia rasakan saat ini?


"Nanti kita jenguk Ibu. Dia sakit dan sekarang ada di rumah sakit," ucapnya melanjutkan, berharap gadis itu akan mengacuhkannya.


Perlahan Halwa mengangkat wajah, dan memutar tubuh menghadap ayah asuhnya. Mata kecilnya yang dipenuhi kerinduan, menatap Alfin penuh tanya.


"Kenapa Ayah nggak bilang kalo ibu sakit? Ayo kita jengukin ibu, Yah," rengek Halwa sembari menggoyang-goyangkan tangan Alfin.


Alfin tersenyum, mengusap rambut lembab si Kecil dengan penuh cinta. Ia menganggukkan kepala menuruti ajakan gadis kecil itu.


"Iya, tapi nggak sekarang. Soalnya udah mau maghrib, insya Allah besok kalo nggak ada halangan kita pergi jengukin ibu," janji Alfin disambut senyum bahagia dari bibir Halwa.


Ia beranjak menghampiri semua kakaknya untuk membersihkan diri. Sesaat lagi adzan Maghrib akan dikumandangkan, Alfin mendesah. Benarkah dia akan pergi ke rumah sakit esok? Bagaimana jika hatinya tidak siap? Sudah pasti Halwa akan kecewa padanya.


"Ya Allah!"

__ADS_1


"Allahu Akbar ... Allahu Akbar!"


"Alhamdulillah!"


Alfin beranjak ketika seseorang mengumandangkan adzan di masjidnya. Mengambil air wudhu, membasahi setiap anggota wudhu untuk membersihkannya dari hadas.


Rasa sejuk air yang menyentuh kulit kepala, sedikit memberikan ketenangan pada hatinya yang masih gulana. Ia berdiri di barisan belakang, menghindari perintah Ustadz Hasan yang seringkali memintanya untuk menggantikan ia menjadi imam ataupun sekedar iqamah.


Usai sholat, Alfin mengikuti kajian rutin yang diadakan di masjid. Diisi oleh Ustadz Hasan sebagai sepuh dan dituakan di masjid itu. Dengan khusyuk Alfin mendengarkan, sambil tangannya sibuk memutar bulir tasbih.


Bagaimana keadaan Naina sekarang, ya? Apa dia baik-baik saja? Aku malu mau tanya sama kakak. Juga malu mau datang ke rumah sakit. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?


Hati Alfin bergumam sedih, ada rindu yang menyeruak meminta diobati. Ada rasa yang perlu dituntaskan. Waktu terus berlalu, rencana pernikahan hanya tinggal menghitung hari.


Alfin diam-diam beranjak meninggalkan masjid, tak tenang hatinya terus menerus memikirkan keadaan Naina. Ia pergi ke kamar tempat biasanya beristirahat, berbaring sambil memandangi layar ponsel di mana gambar Naina tersenyum.


"Aku kangen sama kamu, Nai, tapi aku malu mau ketemu sama kamu. Maafin aku karena belum jengukin kamu lagi. Aku harap kamu nggak akan pernah benci aku, Nai. Aku harap kamu nggak menjauh dari aku."


****


Di ruangannya, Naina duduk termenung menghadap pintu. Berharap seseorang yang ia rindukan akan muncul dan memberinya sedikit senyuman. Dua hari sudah Alfin tak datang menjenguk. Jangankan itu, memberi kabar lewat telepon saja tak ada. Pun dengan Khadijah, sejak kepergiannya hari itu, ia belum datang lagi.


"Apa aku sudah dilupakan?" gumamnya perih.


Ditekuknya kedua kaki dan dipeluknya erat-erat. Ia jatuhkan kepala di atasnya, tak lepas kedua mata dari pintu kayu tersebut. Naina merebahkan diri, meringkuk memeluk tubuhnya sendiri. Air mata jatuh setetes demi setetes membasahi seprei di bawahnya.


Teringat ketika masih tinggal di Jakarta, dua kali gagal menikah hanya karena asal usul yang tak jelas. Kini, saat ada yang bisa menerima, harus pupus karena sebuah insiden yang tak mengenakan.


"Kenapa kalian nggak denger penjelasan aku dulu. Kenapa kalian nggak percaya sama aku? Aku sama sekali nggak diperk*s*, mereka nggak sempet ngelakuin itu sama aku!" rintih Naina semakin terisak pilu.


Bayangan wajah Alfin yang berjanji malam itu, hadir melintasi ruangan pikiran. Betapa dia terlihat yakin, tapi sebenarnya tidak. Meragukan Naina meski tak ingin. Siapa yang ingin menjadi korban pelecehan?

__ADS_1


Trauma karena hinaan saja masih membekas dalam ingatan, ditambah hampir menjadi korban kebejatan makhluk berjenis laki-laki. Hal itu semakin membuat Naina terpuruk, terkurung dalam kesedihan yang mendalam.


"Aku harus apa, ibu? Semua orang nggak bisa nerima aku sekarang. Aku mau ikut ibu. Aku nggak mau di sini lagi, ibu. Ajak aku pergi sama ibu," rintih Naina tersedu semakin pilu.


Ia beranjak dari ranjang, berjalan perlahan keluar. Terus menyusuri lorong rumah sakit sendirian. Ada banyak lalu-lalang manusia, tapi tak satupun yang memperhatikannya. Sibuk dengan urusan masing-masing, tak acuh pada sekitar.


Naina menapaki anak tangga, terus berjalan naik menuju lantai tertinggi. Seolah kakinya tidak merasa lelah, terus bergerak maju ke depan. Sampai tiba di atas atap gedung, angin berhembus dengan kencangnya. Menerbangkan pakaian pasien yang dikenakan Naina, juga rambutnya yang tak ditutupi kerudung.


Langkah Naina tak berhenti sampai di sana, terus berlanjut hingga ke tepi atap gedung. Air mata yang jatuh berceceran tertiup angin, sebagian terbang, sebagian lagi jatuh menimpa atap gedung.


Naina berdiri di sana, menatap langit cerah hari itu, tapi hatinya tak secerah hamparan biru di atas. Pandangannya diturunkan, menatap barisan kendaraan yang terjebak macet. Juga hilir-mudik manusia di halaman gedung rumah sakit. Suara jeritan, teriakan histeris, menggema hingga ke atap, tapi tak diindahkan Naina.


Ia terus tersedu, meratapi kemalangan yang datang bertubi.


"Hai, turun! Jangan berdiri di sana!"


"Ayo, turun!"


Alfin yang secara kebetulan datang hendak menjenguknya, tersita perhatian oleh kerumunan manusia di halaman. Ia ikut menengadah, menatap atap gedung rumah sakit.


Napasnya berhenti seketika dengan kedua mata membelalak lebar.


"Naina!" Bergumam lirih.


"NAINA! JANGAN LAKUKAN, SAYANG!"


"TURUN, NAINA!"


Alfin menjerit sambil berlari ke tengah kerumunan. Namun, kehadirannya tak membuat Naina mengurungkan niat. Ia melepaskan diri, melayang bebas dari atap gedung tanpa penyesalan.


"NAINA! TIDAAAAAK!" Alfin berlari dengan kedua tangan terjulur hendak menangkap tubuh gadis itu.

__ADS_1


"NAINA!"


__ADS_2