Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 136


__ADS_3

Resepsi besar-besaran digelar Adrian di kediamannya. Tak tanggung-tanggung, seluruh halaman rumahnya tak luput dari riasan dekorasi. Bunga-bunga bertaburan, harum semerbak bermekaran.


Lilin terpasang, menjadi dekorasi yang romantis, bahkan kolam renang tak tertinggal. Taburan kelopak bunga mawar juga lilin-lilin yang mengapung menambah meriah pesta tersebut.


Naina begitu takjub, tak disangkanya akan menggelar pesta begitu meriah. Padahal, dulu ia hanya ingin sederhana saja. Menikah meski tak ada resepsi.


Ibu ... apa ibu lihat ini? Ini pesta pernikahan anakmu, Bu. Seandainya ibu masih ada di sini, aku pasti akan bertambah bahagia. Sayang, ibu malah pergi meninggalkanku sendirian.


Naina mengusap sudut matanya, mengingat Lita yang telah berada di dalam kubur. Pandanganya tertuju pada pelaminan, bak singgasana raja dan ratu. Sebuah kursi dengan bentuk kelopak bunga yang besar, membuatnya terkagum-kagum.


Dalam bayangan Naina, Lita duduk di sana bersanding dengannya. Tersenyum bahagia, menepis segala derita. Tak ada lagi duka lara, tak ada lagi luka.


"Ibu, kenapa di sini?" tegur Salma datang bersama Halwa.


Naina gugup, segera menghapus air di pipi sebelum memalingkan wajah pada mereka.


"Ibu cuma lihat-lihat pelaminan di sana. Cantik sekali. Apa itu memang milik WO atau pesanan pribadi," ucap Naina menunjuk pelaminan yang tampak megah. Untuk seumur hidup dia belum pernah melihat pelaminan seperti miliknya.


"Salma yang buat dan kakek yang memesan. Salma juga nggak nyangka bisa selesai secepat ini. Kakek emang hebat, punya kenalan canggih bisa ngerjain itu dalam waktu singkat." Salma menyerahkan buku di tangannya kepada Naina.

__ADS_1


Buku berisi gambar-gambar hasil rancangannya. Tak hanya pakaian, ada juga dekorasi pelaminan termasuk yang terpasang di sana. Naina begitu takjub, Salma masih sangat belia, tapi memiliki bakat yang luar biasa.


"Maa syaa Allah! Kamu memang luar biasa. Kelak, kamu pasti akan menjadi orang hebat dan membanggakan. Jangan pedulikan apa kata orang karena yang terpenting adalah terus membenahi diri menjadi lebih baik untuk membungkam mulut mereka yang merendahkan kita," tutur Naina mengusap pipi gadis remaja itu.


"Iya, Ibu. Makasih," balas Salma seraya memeluk Naina. Pertemuan mereka masih terbilang sangat singkat, tapi begitu mengesankan dengan sikap Naina yang penyayang.


****


Di Jakarta.


"Kak Rayan!"


Pemuda yang tengah duduk di atas sebuah batu, menoleh ketika sebuah panggilan mengusik telinga. Ia tersenyum menyambut kedatangan seorang gadis berjas putih. Angin pantai yang bertiup kencang menerbangkan rambut sang pemuda juga jas yang dikenakan Rani.


"Kenapa, Kak? Dengar-dengar kemarin Kakak ketemu kak Naina? Gimana kabarnya?" tanya Rani sembari menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang menjuntai hampir menyentuh pasir.


Rayan tersenyum, membayangkan kehidupan Naina yang sekarang, membuatnya ikut merasa bahagia.


"Yah. Kakak udah bahagia sekarang. Punya orang tua, dan juga suami-"

__ADS_1


"Suami? Kak Naina udah nikah? Kok, aku nggak diundang?" sambar Rani sedikit sedih.


Rayan berpaling, gemas melihat ekspresi wajahnya yang cemberut. Dia mencubit pipi Rani meninggalkan jejak merah di sana.


"Argh! Sakit, Kak. Kok, dicubit?" Ia mengusap-usap pipinya, terkekeh Rayan karenanya.


"Kakak emang udah nikah, tapi resepsinya belum. Aku harap jadwal kamu kosong Minggu ini, kita pergi ke acara resepsi kakak." Rayan memelas karena menuju kelulusan, jadwal Rani begitu padat.


"Insya Allah. Nanti aku atur supaya bisa ikut ke sana," sahut Rani pasti.


"Makasih, ya." Rayan tersenyum, bahagia hatinya.


"Terus kapan kalian akan menyusul?"


Suara tanya seseorang yang datang dari arah belakang, menghentak tubuh keduanya. Mereka segera berpaling dan mendapati Biya yang terlihat pucat.


"Aunty? Kayaknya Aunty lagi nggak sehat, apa kecapekan?" tanya Rayan cemas.


Biya duduk di depan mereka, menghela napas lelah.

__ADS_1


"Yah. Mungkin cuma kecapekan aja," ucap Biya bernada sedih.


Rayan menelisik wajah itu, wajah yang tak lagi cerah seperti dulu. Keceriaan menghilang begitu saja sejak ia menjelma menjadi seorang perancang yang gila kerja. Ia berpikir mungkin sudah saatnya berbicara dengan Biya perihal seorang laki-laki.


__ADS_2