
"Mas, beneran hari ini kita pulang? Kenapa dadakan kayak gini, sih?" keluh Naina tak rela waktu seminggunya untuk berbulan madu dipangkas Alfin dua hari.
"Nggak apa-apa, sayang. Yusuf telpon ada yang perlu Mas tandatangani besok siang. Jadi, kita harus pulang. Nggak apa-apa, ya? Nanti lain waktu Mas ajak kamu ke tempat lain." Alfin mengusap pipi Naina dengan lembut.
"Mas juga sebenarnya masih pengen di sini. Enak bisa mesra-mesraan nggak ada yang ganggu, tapi kita juga nggak boleh melupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua. Yah, pokoknya nanti Mas ajak kamu bulan madu lagi," ujar Alfin seraya mengecup bibir Naina dan menggigitnya pelan.
Alfin mengangkat tubuh sang istri mengabaikan koper-koper yang berserakan. Tak peduli, dia menggiring tubuh Naina ke atas ranjang. Merebahkannya, menyentuh setiap sisi tubuh sang istri.
"Perasaan Mas, sejak kita nikah kamu belum pernah haid. Apa selama ini haid kamu emang nggak lancar?" tanya Alfin mengingat selama ini mereka tak pernah absen melakukan hubungan.
Naina sedikit tertegun, tak sadar jika seharusnya dia mendapatkan jatah libur di setiap bulannya.
"Eh, iya. Aku juga lupa, Mas. Terakhir haid itu dua hari sebelum kita menikah, abis itu aku nggak inget." Naina berkerut dahi tak abis pikir kenapa bisa lupa pada periodenya.
"Mungkin nggak kamu hamil?" Alfin menduga-duga.
Naina membelalak, mulutnya yang terbuka disambar Alfin dengan cepat. Dalam sepersekian detik, kain yang melapisi tubuhnya terlepas begitu saja. Pergulatan pun terjadi, panas dan berkeringat. Hawa sejuk dari AC tak dapat mendinginkan suhu tubuh mereka.
Lenguhan panjang dan pendek saling bersahutan, suara mendesah silih berganti menggema di ruangan. Peluh mereka menyatu, bersamaan dengan kulit yang saling melekat. Malam panjang itu milik mereka.
****
Di sisi lain, seorang pemuda tengah termenung di lantai dua toko. Memandangi rembulan yang hilang timbul, merenungi kehidupannya yang jauh dari kata beruntung. Bayangan saat dulu melintas dalam benak, mengingatkan Yusuf siapa sebenarnya ia.
Oh, dia mendesah berat. Rasanya tak ingin semua itu kembali. Lamunan Yusuf buyar tatkala pesan dari Biya masuk ke ponselnya.
Lagi apa, Mas?
Tak romantis memang, tapi cukup membuat jantung Yusuf bertalu-talu karenanya.
Lagi mikirin kamu. Mudah-mudahan kamu bisa sabar nunggu aku.
Yusuf membalas, tersenyum bibirnya memandangi gambar Biya di profil.
Insya Allah, Mas. Aku sabar, kok.
Senyum Yusuf kembali terbit, tapi rasa cemas terus menggantikannya saat teringat pada kebiasaan Biya yang selalu gila kerja.
Jangan terlalu banyak kerja. Coba mulai pikirin diri sendiri, istirahat yang cukup, makan yang teratur. Insya Allah awal bulan depan, Mas akan kesitu buat ngelamar kamu.
__ADS_1
Pesan balasan dari Yusuf menaburkan bunga di hati Biya. Ia berguling-guling di kasur kian kemari, tertawa gemas sambil mendekap ponsel di dada.
"Ibu! Anakmu jatuh cinta! Rasanya pengen cepet-cepet bulan depan, ya Allah." Ia memejamkan mata merasai perhatian Yusuf.
"Pikirin diri kamu sendiri, Biya. Sebentar lagi kamu akan punya suami," katanya menasihati diri sendiri.
Ting!
Sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya, buru-buru Biya membaca, dan memberengut layu.
Udah malam, tidur, ya. Kalo keseringan bergadang nanti jadi mata panda, lho. Selamat malam, calon istriku!
"ARGH!"
"Biya! Ada apa?" Ketukan di pintu bersamaan dengan suara Fatih yang berteriak memanggilnya dengan cemas. Dia lupa bahwa sedang menginap di rumah sang kakak.
"Ups! Aku lupa." Biya menggaruk kepalanya yang tak gatal, terlalu senang sampai-sampai jeritan yang harusnya hanya di dalam hati, terlontar melalui lisan.
"Nggak ada apa-apa, Kak. Cuma kaget aja tadi," sahut Biya tanpa membuka pintu.
"Beneran kamu nggak apa-apa?" tanya Fatih sekali lagi.
Iya, Mas. Selamat malam juga, calon imanku!
Ia menggerak-gerakkan kedua kakinya dengan girang. Persis seperti seorang bayi yang sedang bersenda gurau.
"Bos! Aku mau kawin!" teriak Yusuf begitu kencang.
Disambut suara sorakan dari teman-temannya di lantai satu. Kehebohan terjadi di toko Alfin, mereka semua seperti sanak saudara. Saling menyayangi, saling menghargai dan menghormati kebiasaan masing-masing.
****
Sambil menyeret koper, Alfin mendatangi meja resepsionis. Pagi itu mereka harus kembali secepat mungkin.
Keduanya keluar bergandengan tangan, menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil. Tanpa mereka sadari sepasang mata memperhatikan dengan sedih.
"Selamat tinggal, Naina. Semoga hidup kamu bahagia." Selama beberapa hari, laki-laki itu terus mengawasi Naina di kejauhan. Ingin mendekat, tapi tidak memiliki keberanian setelah ucapan Alfin kemarin.
Ia berbalik menghadap pantai tatkala mobil Alfin melintas di hadapannya. Tak ingin mereka tahu jika ia terus mengawasi. Terbayang wajah kecewa Naina, tatapan penuh derita dan kebencian di matanya, ia sadar betul wanita itu tak ingin melihatnya.
__ADS_1
Berkali-kali mendatangi rumah kontrakan Naina, tapi tak jua menemukan mereka. Sekali melihat, jangankan memberinya maaf melihat saja enggan. Ia mengusap air mata sedih, terasa sakit. Apalagi jika berada di posisi Naina, pastilah lebih sakit lagi.
Di dalam mobil, senyum Naina terus terkembang sempurna. Kebahagiaan menyelimuti kehidupannya kini. Tak akan dia memikirkan masa lalu kelam yang membuatnya sakit.
"Kita mampir makan siang dulu, ya. Biar sampe rumah kamu bisa langsung istirahat," ucap Alfin seraya mengecup punggung tangan Naina.
Ia mengangguk setuju, perjalanan yang tidak sebentar membuatnya tak ingin melakukan apapun saat pulang. Mobil menepi di sebuah masjid saat adzan dzuhur berkumandang.
Ikut berjamaah dengan masyarakat sekalian beristirahat sejenak melepas penat.
"Mas, kita ini masih jauh. Nanti kamu telat gimana?" tanya Naina saat duduk di teras masjid usai menunaikan sholat berjamaah.
Alfin menghela napas, menatap langit biru yang cerah dengan awan putihnya yang berarakan.
"Nggak apa-apa, orangnya nggak minta ketemu sama Mas, kok. Beda waktu sama papah." Alfin menoleh, teringat pada pertemuan pertama mereka dengan Alfin sebagai pemilik toko bukan sebagai marbot.
"Kalo papah pengen ketemu langsung sama Mas waktu itu. Jadi, Mas harus ikut pertemuan. Sekarang, sih, cukup sama Yusuf juga Hamka aja di toko. Tinggal tanda tangan kalo mereka setuju," ujar Alfin sambil tersenyum aneh.
Naina berjengit, meraba kedua pipinya merasa diperhatikan Alfin.
"Kenapa, sih, Mas? Kok, lihatinnya kayak gitu?" tanya Naina mengusap wajah Alfin yang tak berkedip menatapnya.
"Nggak apa-apa, pengen aja. Cantik banget, sih. Kamu bikin hati Mas meleleh," gombal Alfin membuat pipi istrinya bersemu.
"Ih, gombal!" Naina berpaling malu karena tatapan laki-laki itu begitu intens.
"Serius. Rasanya tiap hari Mas jatuh cinta sama kamu. Apalagi kalo abis pergi-pergi gitu ... beh, rindu berat, yang." Alfin menepuk dadanya, ada sesak yang kadang merebak disebabkan rindu yang berkarat.
"Udah, ah. Ngerayu mulu, ayo!" Naina malu-malu berdiri dan berjalan mendekati mobil.
"Eh, yang! Tunggu! Kok, ditinggalin, sih." Alfin beranjak menyusul, dan menyambar tangan Naina. Menggenggamnya dengan erat, membukakan pintu mobil untuknya. Melaju menuju sebuah restoran.
"Sini aja nggak apa-apa, ya?" tanya Alfin saat mobil menepi di parkiran sebuah restoran.
"Nggak apa-apa, Mas. Yuk, ah, turun." Naina membuka pintu keluar disusul Alfin yang mengekor di belakang.
"Alfin? Itu Alfin! Dia Alfin!"
****
__ADS_1
Subhaanallaah walhamdulillaah wa laa ilaaha illallaah wallaahu Akbar! Segala puji dan syukur kepada Allah SWT kita masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan. Kepada para pembaca muslim, saya ucapkan, taqabbalallaahu minnaa wa minkum. Shiyaamanaa wa shiyaamakum. Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf lahir dan batin.