Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 81


__ADS_3

"Jadi, polisi udah tahu? Kapan kedua penjahat ini mereka tangkap? Rasanya aku ingin mendatangi tempat itu dan mencabiknya habis-habisan." Kedua tangan Khadijah mengepal dengan kuat, juga rahangnya yang ikut mengeras. Dia geram, sekaligus marah.


"Udah, Kak. Polisi yang akan mengurus mereka berdua," jawab Naina sembari memperhatikan wajah Khadijah yang sedikit nampak pucat. Ada lingkaran hitam mengelilingi kantung mata, selayaknya orang yang kekurangan tidur.


"Kakak sepertinya kekurangan tidur, ya? Muka Kakak pucet," tanya Naina menyentuh pelan punggung tangan kakak Alfin yang ia simpan di atas paha.


Khadijah menghela napas, kemudian menatap Naina dan menepuk tangan gadis itu. Tersenyum yang menyiratkan kelelahan hatinya, tapi harus tetap tegar dan bertahan.


"Kamu benar, Kakak emang nggak bisa tidur semenjak umi masuk rumah sakit. Ya ... dari waktu Alfin dijemput polisi itu, sampai sekarang umi masih belum ada perubahan," ungkap Khadijah membuat Naina terhenyak dengan kabar tersebut.


Gadis itu mengedip-ngedipkan mata, napasnya tertahan beberapa saat lamanya hingga ia kehilangan pasokan udara. Sungguh hati pilu mendengar kabar tentang Aminah yang masuk rumah sakit karena syok.


"Jadi, umi ada di sini? Di rumah sakit ini?" Setengah hatinya ingin percaya, dan setengah lagi menolak. Akan tetapi, anggukan kepala Khadijah meyakinkan ucapannya.


Gadis itu menatap Adrian, tersirat permohonan di kedua manik matanya yang memancar.


"Papah, Nai pengen nengok umi di sini. Boleh, ya. Nai mau tahu keadaannya," pinta Naina tak mengalihkan tatapan dari manik hitam itu.


Adrian mengulas senyum, mengangguk pelan menjawab permintaan anaknya.


"Ya, sayang. Pergilah, Papah dan Mamah tunggu kamu di sini. Jangan lama-lama karena kami nggak akan ninggalin kamu," sahut Adrian seraya duduk di samping istrinya.


"Makasih, Pah." Ia beranjak dengan senang, bersama Khadijah pergi ke ruangan Aminah dirawat.


"Udah berapa hari, Kak ... Alfin di kantor polisi?" tanya Naina getir.


"Tiga hari tepatnya, tapi semoga dia segera bebas setelah polisi mendengar cerita kamu," sahut Khadijah diakhiri helaan napas yang berat.

__ADS_1


Naina menunduk, mungkin bersamaan dengan dia yang ikut pergi bersama Adrian. Ia melangkah dengan hati yang perih, semua itu terjadi karena dia. Seandainya Alfin tak datang untuk menyelamatkannya, pembunuhan itu tak akan terjadi dan Aminah tak akan ada di rumah sakit.


Mereka berhenti di depan sebuah pintu yang dari dalamnya tak terdengar suara apapun. Sepi dan sunyi. Mungkin tak ada siapapun di dalam sana kecuali Aminah sendiri.


"Umi di dalam. Ada Abi juga yang nungguin. Yuk, masuk. Nggak apa-apa," ajak Khadijah hendak membuka pintu ruangan.


"Tunggu, Kak!" Naina mencegah tangan Khadijah dengan cepat ketika wanita berhijab syar'i itu hendak membukanya.


Khadijah mengernyitkan dahi, menatap Naina dengan bingung.


"Ada apa?" tanyanya seraya menurunkan tangan dari tuas pintu ruangan.


Naina melepas cekalannya, menggigit bibir menahan ragu yang membuncah dalam hati. Tangannya saling meremas satu sama lain, terasa lembab berkeringat. Ia takut ketika masuk nanti, justru tidak akan diterima dengan baik.


"Mmm ... apa Umi sama Abi masih mau ketemu sama aku, Kak? Aku takut, mereka nggak mau lihat aku karena aku penyebab semua ini terjadi, Kak," ucap Naina bergetar dan lirih.


"Kita masuk aja dulu, nggak usah berpikir yang macam-macam dulu. Umi dan Abi sangat mengharapkan kehadiran kamu. Kamu satu-satunya harapan kami, Naina," tutur Khadijah mengalun lembut, terdengar syahdu dan merdu juga menenangkan untuk hati Naina.


Gadis itu menghela napas panjang, menunduk sejenak menepis rasa yang membuat langkahnya ragu. Beberapa saat menenangkan diri, pada akhirnya mengangguk dan ikut melangkah sambil menggandeng tangan Khadijah.


"Assalaamu'alaikum!" ucap Khadijah setelah membuka pintu ruangan dan masuk ke dalamnya sambil menarik tangan Naina.


Hati Naina bergetar melihat kondisi Aminah yang terbaring tak berdaya dengan selang terpasang di berbagai bagian tubuh.


"Ahh ... wa'alaikumussalaam!" sahut Ahmad seraya menutup kitab suci yang sebelumnya ia baca dengan pelan sehingga tak terdengar sampai keluar ruangan.


"Abi!" Khadijah menyalami Ahmad setelah laki-laki tua itu menyimpan kitab suci di atas nakas.

__ADS_1


Mata tua itu menatap tajam pada sosok gadis di belakang putri sulungnya. Tubuh Naina menegang, membeku di tempatnya berdiri. Seluruh tubuh kaku tak dapat digerakkan karena tatapan tajam ayah Alfin itu.


Ia menunduk, memutuskan pandangan karena tak sanggup lagi menerima kebencian. Ingin rasanya mundur dan meninggalkan ruangan itu, tapi genggaman tangan Khadijah menahannya untuk pergi.


"Dia ...?" Telunjuk Ahmad menuding Naina, tanpa dijelaskan pun ia tahu betapa hati laki-laki tua itu hancur dengan semua yang terjadi.


"Naina udah jelasin semuanya sama pihak polisi, Abi. Dia juga udah memberikan bukti siapa dalang dibalik kejadian malam itu. Naina udah membantu Alfin, Abi," ungkap Khadijah, tak ingin orang tuanya salah paham terhadap Naina ataupun menyalahkan gadis itu.


"Naina datang karena mau jenguk Umi, Abi." Khadijah menatap Ahmad sendu, memohon pada laki-laki tua itu agar tidak membuat masalah baru.


Ahmad menghela napas, sedikit lega mendengar Naina yang sudah mendatangi kantor polisi dan memberikan keterangan. Hatinya berharap Alfin bisa terbebas dan nama baiknya bisa kembali seperti semula.


"Yah, maafin Abi karena terbawa perasaan. Abi nggak tega melihat Umi yang masih kayak gini, juga Alfin yang kedinginan di penjara. Abi nggak bisa pergi ke sana karena permintaan Alfin sendiri," ungkap Ahmad diakhiri helaan napas panjang, bersama itu beban yang menggelayuti bahu akan jatuh berceceran.


Naina mendekat, kedua matanya memandang Ahmad muram. Rasa tidak tega harus menyaksikan kepedihan laki-laki tua itu.


"Nai minta maaf, Abi. Nai tahu semua ini terjadi karena Alfin menyelamatkan Naina malam itu, tapi Nai udah jelasin semuanya pada pihak kepolisian juga memberikan bukti dalang dari kejadian itu," ungkap Naina bersungguh-sungguh.


Ahmad menganggukkan kepalanya, mendesah berat dan pasrah. Ia mengerti semua yang terjadi bukanlah ingin Naina.


"Yah, nggak apa-apa. Mudah-mudahan semuanya dipermudah Allah. Abi mohon doanya untuk kesembuhan Umi, juga untuk Alfin. Kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita ini. Semua atas kehendak Allah, sebagai ujian keimanan." Ahmad tersenyum, tak lagi menyalang pada gadis itu.


Hati Naina sedikit merasa lega, terbebas dari segala keragu-raguan akan penerimaan Ahmad. Ia mendekati Aminah, memandang wanita yang tengah memejamkan mata tak berdaya. Sedikit rasa sesal hadir dalam relung hati, terus memohon ampunan atas semua yang terjadi.


"Maafin Nai, Umi. Nai doakan semoga Umi lekas sembuh. Doa Umi sangat kami harapkan untuk kemudahan urusan Alfin. Umi harus kuat, Umi harus berdiri tegak untuk menguatkan putra Umi di sana. Dia membutuhkan doa dari lisan wanita yang ucapannya dapat menembus sampai langit ke tujuh. Bangun, Umi, dan doakan Alfin," lirih Naina sembari menjatuhkan air matanya.


Khadijah dan Ahmad sama-sama menyusut kedua mata, terharu mendengar suara lirih Naina.

__ADS_1


__ADS_2