Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)

Ajarkan Aku Ikhlas (Naina)
Bab 40


__ADS_3

Merah, hijau, biru, jingga, dan ungu, menyebar di langit menciptakan pemandangan indah untuk dinikmati. Mengajak semua makhluk untuk bangkit kembali, meninggalkan alam mimpi, dan menyambut datangnya pagi. Cahaya mentari pagi, memberi harapan pada setiap hati.


Gadis dengan balutan piyama panjang barulah terbangun dari tidurnya. Semalam dia tidak dapat memejamkan mata hingga larut karena terbayang kehangatan keluarga calon suami.


Naina duduk di ranjang dengan malas, menggaruk kepala yang tak gatal dan hampir terbaring kembali. Jika saja teriakan Bibi tak langsung terdengar.


"Nai! Ada Nak Alfin jemput kamu."


Naina terlonjak, kedua matanya terus melebar bersama dengan kedua bibir yang terbuka.


"A-alfin?" gumamnya panik.


Ia membenarkan rambutnya yang berantakan, menggulungnya ke atas kemudian diikat dengan karet. Terburu-buru keluar sampai kerudung yang menyampir di kursi depan meja rias ia lupakan.


"Astaghfirullah al-'adhiim!" Naina yang hampir menggapai pintu, memutar tubuh karena teringat kain penutup kepalanya yang tertinggal.


Kembali mendekati meja rias, menyambar benda tersebut dan mengenakannya dengan cepat. Dengan langkah lebar, Naina membuka pintu dan keluar.


Jantungnya sudah tidak normal sekarang, ketika ia berbalik, langsung disambut oleh senyum laki-laki itu. Napas Naina memburu berat, sesak. Ia tidak membalas senyum sang calon suami, melainkan kembali berlari ke belakang.


"Bibi, kenapa nggak bangunin Nai?" gerutunya sambil menutup pintu kamar mandi dan melakukan ritual paginya.


"Bibi udah bangunin, tapi kamu-nya nggak mau bangun. Kayak semalam nggak tidur aja," sahut Bibi sambil mengangkat gorengan dari wajan.


Naina mengeluarkan kepala sedikit, mencari-cari sosok sang bibi.


"Bibi!" panggilnya seperti bisikan.


Wanita itu menoleh, bertanya lewat sorot mata.


"Pinta Alfin buat keluar dulu sebentar. Nai lupa bawa baju ganti," katanya memelas.


Sumiyati menggeleng-gelengkan kepala, mengecilkan api kompor sebelum menemui Alfin yang duduk anteng di ruang tamu.

__ADS_1


"Nak Alfin, maaf. Kata Nai, bisa tunggu di luar dulu? Anak itu lupa bawa baju ganti," beritahu Bibi yang dimaklumi pemuda itu.


Ia beranjak tanpa bertanya, duduk di teras membelakangi rumah. Bibi menghela napas, kembali memberitahu Naina.


Dengan langkah cepat, gadis itu menerobos ruang tamu dan masuk ke dalam kamar. Mendapat jatah cuti bulanan (haid), membuatnya bermalas-malasan. Secepat kilat, secepat yang dia bisa, Naina mendadani dirinya sendiri. Tak ingin laki-laki itu menunggu terlalu lama.


"Sarapan dulu, Nai. Ini bareng Nak Alfin. Udah Bibi siapin," ucap Bibi saat melihat Naina keluar kamar.


Gadis itu meringis, melihat makanan terhampar di meja ruang tamu. Ia meletakkan tas di kursi, menghampiri Alfin mengajaknya untuk sarapan bersama.


"Bibi udah siapin sarapan. Makan dulu, yuk!"


Alfin tidak menolak, beranjak dari kursi dan masuk ke dalam mengekor Naina. Mereka duduk berseberangan, tanpa menunggu dan bertanya-tanya keduanya menyantap sarapan.


****


"Nai, kamu berhenti aja kerja dari sana. Aku nggak nyaman sama atasan kamu itu. Kelihatannya dia kurang baik," pinta Alfin saat keduanya berada di atas motor hendak pergi bekerja.


Naina tercenung, berpikir siapa yang akan membantu memenuhi kebutuhan rumah jika ia berhenti. Tak akan Naina tega membiarkan sang paman bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhannya juga rumah tangganya.


Alfin berpikir keras, mencari cara supaya Naina berhenti kerja di toko tersebut. Saat ini memang sulit baginya karena belum berstatus istri.


"Kalo kita udah nikah, mungkin aku nggak akan kerja lagi. Di rumah aja nungguin kamu pulang sambil bantu-bantu bibi jualan seblak," ujar Naina sesuai dengan isi pikiran Alfin.


Pemuda itu bersemu, hatinya menghangat mendengar Naina berkata demikian. Jika mencari pekerjaan itu mudah untuk lulusan Sekolah Menengah Atas saja, mungkin lebih baik mencari pekerjaan lain.


Namun, sama halnya di Jakarta, mencari pekerjaan itu sulit jika hanya berbekal ijazah SMA saja. Kecuali memiliki seorang kenalan di tempat bekerja tersebut.


"Cuma sebulan lagi kita nikah, Nai. Bulan besok biar aku yang bayar gaji kamu. Aku nggak mau kalo sampai kamu kenapa-napa nantinya. Bisa, ya, kamu ajuin pengunduran diri?" ucap Alfin.


Sayangnya, Naina bukanlah gadis yang suka menadahkan tangan menerima uang tanpa bekerja lebih dulu. Ia tersenyum, menggelengkan kepala pelan.


"Itu namanya makan gaji buta. Aku digaji, tapi nggak kerja," cetus Naina sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


Alfin menghela napas, dia tipe gadis yang berbeda dengan gadis lainnya. Di saat orang lain hanya tahu menadah pada orang tua, atau pada kekasih mereka, tapi Naina lebih memilih bekerja keras untuk dapat memenuhi kebutuhannya.


"Siapa bilang? Kamu bisa bantu-bantu aku di masjid. Ngajarin anak-anak ngaji, ngurusin asrama. Kita nggak berdua aja, kok. Ada ustadz Hasan yang sehari-hari berdiam di masjid. kecuali malam, dia akan pulang ke rumah. Gimana?" cetus Alfin tidak kehabisan akal.


Naina kembali tercenung, ia tahu Alfin sedang berusaha menjauhkannya dari sang manager. Akhir-akhir ini laki-laki itu bahkan lebih agresif dan sering menatapnya liar. Mungkin apa yang ditawarkan Alfin lebih baik daripada harus bertahan dengan perasaan takut yang selalu menghantui.


"Gimana, Nai? Mau, ya, kamu resign dari toko itu?" pinta Alfin lagi memastikan.


"Emang siapa yang gaji di masjid? Aku nggak mau terima kalo itu uang anak-anak karena sama aja aku makan hak anak yatim," cetus Naina memastikan keuangan yang dijanjikan Alfin.


Pemuda itu tersenyum, naina akhirnya dapat mengerti apa yang dia inginkan.


"Kamu nggak usah khawatir, kita punya bos Yang Maha Kaya. DIA yang akan gaji kita selama bekerja di rumah-NYA dengan hati yang tulus. Mengurus anak-anak titipan-NYA, memastikan perut mereka terjaga, juga pendidikan mereka. Gimana? Apa kamu nggak tertarik?" ujar Alfin bersungguh-sungguh.


Yang Maha Kaya?


"Siapa bos Yang Maha Kaya itu, Alfin? Kalo Maha Kaya itu artinya kekayaan-NYA lebih banyak daripada raja-raja yang paling kaya di dunia ini?" cetus Naina sambil mengerutkan keningnya.


Alfin terkekeh mendengar itu. Ia memberitahu Naina siapa yang dia maksud.


"Itu udah pasti. kekaayaan-NYA itu nggak akan habis sampai kiamat, bahkan setiap hari dibagikan-NYA pada seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini. Manusia, binatang, tumbuhan, bahkan makhluk gaib bernama jin pun DIA bagi, tapi kekaayaan-NYA tetap nggak akan pernah habis. Kamu ngerti?" tutur Alfin dengan yakin dan pasti.


Naina tercenung, ini bukan lagi masalah duniawi. Lebih kepada tauhid, keyakinan terhadap Tuhan. Bisakah Naina menjalaninya? Sedangkan ia hanya manusia bodoh yang masih meniti jalan kebenaran. Mencari pegangan hidup untuk bertahan di dunia fana ini.


"Aku coba," putus Naina pada akhirnya.


Yah, dia harus mencobanya.


"Maksud aku, Nai. Kamu nggak usah khawatir soal rezeki. Kalo tempat kerja kamu itu cuma mendatangkan mudharat buat kamu, mending keluar. Nggak usah takut nantinya nggak akan dapat kerjaan. Allah nggak akan ngebiarin hamba-NYA terlunta tanpa rezeki. Yakinlah, rezeki *min haitsu laa yahtasib itu nyata. Datangnya nggak disangka-sangka, bahkan janji Allah, binatang melatapun sudah memiliki takaran rezekinya. Kamu ngerti, 'kan, sekarang?" jelas Alfin mengubah isi pemikiran Naina.


Gadis itu tersenyum, mengangguk mengerti. Dia hanya tidak perlu takut kehilangan harapan hidup. Seyogyanya, manusia itu perlu memiliki keyakinan terhadap Tuhannya. Allah ada di dalam prasangka hamba-NYA.


****

__ADS_1


*Min haitsu laa yahtasib: dari jalan yang tak disangka-sangka.


__ADS_2