
"Jadi, kalian mau pulang malam ini juga? Nggak nunggu besok aja?" tanya Adrian memastikan rencana Seira dan keluarganya untuk pulang ke Jakarta.
"Yah, Fathya terlalu lama meninggalkan sekolah. Jadi, kami harus segera kembali. Lain waktu, datanglah ke Jakarta mampir di tempat kami," jawab Fatih mengundang mereka semua.
"Berarti Ibu sama Bapak nggak hadir di acara resepsi nanti?" Nada pertanyaan itu terdengar kecewa. Naina ingin mereka menyaksikan resepsi pernikahannya.
Seira tersenyum, meraih tangan wanita itu yang duduk di sampingnya.
"Insya Allah ... nanti kami ke sini lagi, tapi mungkin nggak nginep kayak sekarang," sahut Seira mengusap lembut punggung tangannya.
Naina tersenyum, mengangguk lega. Matanya melirik pada Rayan yang nyaris tak berkedip menatapnya. Lalu, pada Fathya, gadis remaja yang selalu terlihat ceria.
"Kalian juga harus ikut, sekalian ajak tante Biya juga." Naina tersenyum tak ingin dicurigai.
Rayan mengernyit, Naina tak sedekat itu dengan Biya. Apalagi sejak tante mereka memulai bisnisnya di dunia fashion, sangat jarang sekali datang ke rumah.
"Kayaknya ada sesuatu yang Kakak sembunyikan. Kenapa harus ajak aunty?" selidik Rayan mengutarakan kecurigaannya.
Naina terkekeh, pemuda itu memang tidak bisa dibohongi. Hal tersebut membuat bingung semua orang, terutama Fatih selaku wali dari Biya.
"Ada apa, Nai?" Fatih bertanya penasaran.
"Mmm ... begini, Pak. Saya punya teman, insya Allah dia pemuda yang sholeh, pekerja keras, dan bertanggungjawab. Usianya sudah matang dan sudah waktunya menikah. Dia lagi cari istri, cuma dia nggak berani deketin perempuan." Alfin menjelaskan rencananya.
Mendengar itu, Adrian mengangguk setuju. Setelah melihat bagaimana cara Yusuf menatap Naina, ada kekhawatiran timbul di hatinya. Tidak menutup kemungkinan mereka akan bertemu lagi di mana pun tempatnya.
Fatih menghela napas, membayangkan sang adik yang menjadi gila kerja akhir-akhir ini hingga tak sempat memiliki waktu untuk memikirkan pernikahan, bahkan dirinya sendiri. Ibu sudah terlalu tua, beruntung ada bi Sari yang merawatnya.
"Bagus juga itu, Pah. Biya, 'kan, selalu sibuk kerja akhir-akhir ini sampe nggak mikirin soal nikah. Ya, mudah-mudahan setelah menikah dia bisa mikirin diri sendiri. Aku nggak tega kadang, dia sampai nggak sempet makan," timpal Seira begitu prihatin dengan keadaan adik iparnya.
Fatih lagi-lagi menghela napas, Biya memang sulit untuk dinasihati. Keras kepala dan semaunya sendiri meski tidak pernah menolak nasihat yang mereka berikan.
"Yah, sebenarnya saya juga ingin menikahkan dia, tapi sampai saat ini saya belum mendapat pandangan laki-laki mana yang baik untuk menjadi suami adik saya yang keras kepala itu. Kalo seandainya Yusuf bisa menerima, maka silahkan ... saya nggak akan melarang perjodohan mereka, tapi alangkah lebih baiknya untuk mereka saling mengenal dulu satu sama lain," ujar Fatih dengan sikap yang bijak.
__ADS_1
Tak akan ia memaksa Biya untuk menikah, padahal hatinya menolak. Yang dia inginkan, buat sebuah skenario pertemuan antara keduanya.
"Yah, bener. Nggak mungkin mereka nikah gitu aja. Pertemukan aja waktu resepsi kita nanti, biarkan mereka saling kenal." Naina menanggapi.
"Begitu memang lebih baik. Nanti saya bicarakan dulu dengan Yusuf, mudah-mudahan dia bisa menerima," tandas Alfin disetujui semua orang.
Malam itu, Seira kembali ke Jakarta bersama keluarganya. Meninggalkan Naina di bawah tanggung jawab Alfin, suaminya.
"Jangan lupa berkunjung ke Jakarta. Ibu selalu menunggu kamu pulang. Kamu juga anak Ibu." Seira memeluk Naina, mengusap punggung gadis kecil tangguh yang kini telah dewasa itu.
"Iya, Ibu. Nai juga mau ke makam ibu sama Papah dan yang lainnya." Naina membalas pelukan Seira, ibu kedua setelah Lita.
"Kakak, aku masih kangen sama Kakak." Giliran Fathya yang merengek pada Naina.
"Nanti Fathya bisa sering-sering main ke sini. 'Kan, udah tahu. Sama Kakak juga," sahut Naina memberikan pelukan hangat untuk sang adik kecil.
"Kalo punya anak yang cantik, ya, yang ganteng juga. Kayak papahnya itu," celoteh Fathya mengundang gelak tawa dari semuanya.
"Jaga ibu, bapak, sama Fathya, ya. Kamu udah dewasa. Jangan lupa salam buat nona dokter. Dia manis sekali," ucap Naina menggenggam lembut tangan Rayan.
Sepasang mata menjegil, tak senang mereka bersentuhan.
"Iya, Kak. Doanya saja, mudah-mudahan dia lulus dengan predikat terbaik."
Naina menggelengkan kepala, kemudian berujar, "Mudah-mudahan segera menyusul ke pelaminan. Ajak nanti pas resepsi Kakak, ya."
Rayan mengangguk, kemudian beralih pada Alfin. Pelukan spontan yang dilakukan Rayan, membuat suami Naina itu terkejut.
"Tolong jaga Kakak, jangan buat dia nangis lagi. Kakak udah terlalu banyak bersedih," pintanya kemudian melepas pelukan dan menyalami yang lain.
Alfin tercenung mendengar permintaan pemuda itu. Terdengar manis dan tulus, kasih sayang mereka benar-benar murni sebagai keluarga. Ia melirik Naina yang tersenyum, tapi terlihat sedih.
Wanita itu menoleh, mengernyit ketika tatapan Alfin tak berpaling darinya.
__ADS_1
"Kenapa?" Naina bertanya bingung.
Tak ada sahutan, Alfin justru menarik tubuh sang istri ke dalam pelukan. Mendekapnya erat dan hangat. Hal tersebut membuat Naina terkejut, semua keluarga Seira melihat apa yang dilakukan laki-laki itu. Mereka tersenyum bahagia, Naina berada di tangan laki-laki yang tepat.
Kecupan Alfin di ubun-ubun wanita itu membuktikan ketulusan hatinya dalam mencintai Naina. Mereka melambaikan tangan melepas kepergian keluarga baik hati tersebut.
"Kenapa, sih, Mas?" Naina kembali bertanya masih berada dalam dekapan Alfin.
Ia menggelengkan kepala, tak tahu harus menjawab apa.
"Jadi nginep di hotel?" tanya Naina kemudian, menyadarkan Alfin tujuan berlabuh untuk malam ini.
"Nggak, deh. Di rumah aja. Nggak akan ada yang ganggu juga, 'kan?" ucap Alfin pada akhirnya.
Naina mengangguk, bersama-sama masuk ke dalam rumah terus berlanjut menapaki anak tangga menuju kamarnya. Sementara keluarga yang lain, masih berkumpul di ruang keluarga membahas masalah resepsi.
"Argh!"
Naina memekik ketika Alfin mengangkat tubuhnya setelah mengunci pintu. Memagut mesra bibirnya, seraya menurunkan tubuh itu dengan hati-hati di atas ranjang. Lalu, mengurungnya.
"Ngagetin, ih!" seru Naina sembari memukul dada suaminya.
Deru napas laki-laki itu tak lagi sama, terkesan terburu-buru. Keinginan sudah mencapai puncak, suara Naina sudah seperti rayuan mematikan.
"Abis gemes sama kamu." Alfin tersenyum dibalas kecupan oleh Naina di bibir.
"Naina ...." Alfin mengusap kepala sang istri.
"Mmm?" Naina terpejam merasakan lembutnya sentuhan itu.
"Mas mencintai kamu. Sangat, sangat, mencintai kamu. Mas nggak akan buat kamu menangis. Kalo nanti ada sandungan, jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah karena di dalam amarah ada peran setan ikut bertindak. Ya, sayang?" Alfin menyatukan dahi mereka. Mengecup setiap inci wajah sang istri.
"Aku juga cinta sama kamu, Mas. Kita lewati setiap masalah bersama-sama. Dalam kehidupan rumah tangga pasti ada aja batu sandungan. Tinggal kitanya aja, gimana menyikapi masalah yang datang." Naina menyahut membuat Alfin merengkuh tubuhnya.
__ADS_1