
Wanita di hadapan mereka tak lagi sama, keceriaan yang dulu selalu ditampilkan wajahnya raib entah ke mana? Rayan tak tega melihat wajah lelah dari tantenya itu. Namun, apa yang harus dia lakukan? Nasihat Fatih, kakaknya saja tak digubris oleh Biya.
"Aunty ... jangan terlalu sibuk mengejar karier. Mulailah memikirkan diri sendiri. Karier bisa menyusul. Kesehatan Aunty jauh lebih berharga daripada karier itu sendiri. Aunty bahkan nggak pernah mikirin soal pasangan hidup," tutur Rayan memulai nasihatnya.
Biya tertunduk, telinganya awas mendengarkan nasihat seorang bocah ingusan di hadapan.
"Aku kayak kehilangan Aunty. Ke mana wajah yang dulu selalu tersenyum? Riang gembira, dan selalu menabur kebahagiaan pada hati semua orang. Aku kangen sama Aunty. Apa yang harus aku lakukan supaya Aunty kembali seperti dulu," ungkap pemuda itu dengan perasaan yang penuh.
Biya yang menunduk mengangkat pandangan, menatap manik Rayan yang memancarkan kesedihan. Sedih sebab kehangatan pelukan Biya, tak lagi ia rasakan. Gadis itu berpaling, menghela napas panjang. Ia sendiri tak tahu apa yang harus dilakukan.
"Aunty nggak tahu. Yang kamu bilang itu benar, Rayan. Aunty merasa kehilangan jati diri dan menjadi seseorang yang gila kerja. Aunty pikir dengan begitu, akan membuat Aunty bahagia juga orang yang Aunty sayang akan ikut merasa bahagia. Nyatanya, Aunty semakin jauh melangkah. Padahal satu-satunya yang membuat kita bahagia adalah berkumpul bersama keluarga."
Biya menghela napas, Rayan dan Rani mendengarkan dengan saksama. Mereka tidak menyela ataupun menanggapi, membiarkan gadis itu menumpahkan apa yang ada di dalam hatinya.
"Aunty juga bukannya nggak mikirin soal keluarga. Menikah? Siapa yang nggak mau menikah? Aunty juga ingin berumahtangga sama kayak yang lain. Punya suami baik, punya anak yang cantik, tapi Aunty terlalu takut. Aunty terlalu pengecut, berlari sebelum semuanya dimulai dan lebih memilih fokus meniti karier," ungkap Biya tak menutupi lagi keinginannya.
Rayan tersenyum, satu kesempatan untuknya mengenalkan Biya pada teman Alfin.
"Apa yang membuat Aunty takut?" tanya Rayan kemudian setelah beberapa saat Biya tercenung dalam diam.
Gadis itu menghela napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Entah apa yang menjadi momok menakutkan untuk Biya tentang menikah. Ia menggelengkan kepala tak tahu.
"Mau aku kenalin sama temannya ustadz Alfin? Insya Allah, dia laki-laki yang baik karena seorang yang baik sudah pasti akan berteman dengan yang baik pula," ucap Rayan mengutarakan maksud dan tujuannya.
Biya mengangkat wajah, memandang keponakannya itu. Dia sudah sering mendengar tentang pemuda yang bernama Alfin dan bergelar ustadz dari sang kakak. Terbersit rasa ingin tahu tentangnya, ingin mengenal siapa sosok pemuda itu.
"Gimana sama ustadz Alfin sendiri? Seperti apa orangnya?" tanya Biya mulai tertarik.
__ADS_1
Rayan menggelengkan kepala tak ingin ada kesalahpahaman apalagi hal tersebut bisa merusak kebahagiaan Naina dan menghancurkan hati Biya.
"Ustadz Alfin udah nikah, dia suami kak Naina. Beliau bilang punya teman yang sudah cukup usia untuk menikah, tapi nggak berani mendekati perempuan. Terlalu malu berada di dekat lawan jenis. Soal keadaan, insya Allah dia sudah mapan. Rumah dan fasilitas lainnya juga sudah punya. Cuma istri yang belum punya. Kalo Aunty bersedia, kenalan dulu sama beliau." Rayan tersenyum.
Sedikit rasa kecewa hadir di hati Biya, kecewa karena Alfin yang diam-diam ia kagumi telah menikah dan berkeluarga. Lalu, temannya? Seperti apa dia?
"Apa kamu pernah ketemu atau melihat temannya itu?" tanya Biya.
Rayan gelagapan karena ia hanya mendengar dari Alfin dan Adrian tidak melihat secara langsung laki-laki yang dimaksud. Pemuda Seira itu menggelengkan kepala, tersirat rasa sesal di hatinya karena tak dapat menjawab pertanyaan sang tante.
Biya tersenyum, ia pun tak ingin membuat keponakannya itu kecewa.
"Baiklah. Biarkan saja ini menjadi rahasia, Aunty setuju untuk berkenalan dengan pemuda itu. Akhir pekan ini resepsi pernikahan Naina, 'kan? Aunty ikut," putus Biya pada akhirnya.
Rayan tersenyum lebar, ia beranjak dari atas batu dan mendekati gadis itu. Memeluknya dengan erat, bahkan tak segan mencium pipinya.
"Begini lebih baik." Biya menepuk-nepuk punggung pemuda itu, matanya melirik pada Rani yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Tante harus makan, aku yakin beberapa hari terakhir ini makan Tante pasti nggak teratur. Aku tebak, hari ini pun Tante belum mengisi perut," ujar Rani membuat Rayan sontak melepas pelukan.
Dipandanginya wajah Biya, manik itu memancarkan kekhawatiran yang nyata.
"Apa yang dibilang Rani itu benar, Aunty? Aunty belum mengisi perut hari ini?" selidik pemuda itu membuat Biya menjadi gugup.
Lalu, ia terkekeh merasa takjub pada anak Jago itu.
"Dokter memang nggak bisa dibohongi," katanya pasrah. Percuma saja berkilah karena Rani seorang yang mengerti tentang dunia kesehatan.
__ADS_1
"Kalo gitu kita makan sekarang. Kamu juga ikut!" Rayan menarik tangan Biya mendekati mobilnya, membukakan pintu untuk gadis itu begitu pula untuk Rani. Ia melaju meninggalkan pantai menuju sebuah restoran terdekat.
Memesan banyak menu supaya Biya bisa makan dengan baik.
"Kenapa pesan sebanyak ini?" tanya Biya kebingungan memilih menu.
"Aunty harus makan banyak, aku nggak mau kalo sampai Aunty sakit. Kamu juga, Rani. Jangan sampai kesibukan membuat kamu lupa mengisi perut. Makan!" tegas Rayan pada kedua gadis itu.
Mereka saling menatap satu sama lain, kemudian terkekeh penuh keharuan. Begitulah cara Rayan menyayangi keluarganya. Yang dia perhatikan adalah kesehatan semua orang. Pemuda itu tersenyum melihat kedua gadis di depannya makan dengan lahap.
"Kamu juga makan. A!" Bersamaan keduanya mengangkat sendok berisi makanan ke depan mulut Rayan.
Tertawa pemuda itu dan melahap keduanya. Makan dengan penuh kebahagiaan, senyum dan canda tawa yang ia rindukan, telah kembali mengisi hati. Tak sabar rasanya menunggu akhir pekan, mempertemukan Biya dengan pemuda yang dimaksud Alfin.
****
Di tempat Naina.
Alfin mengajak sang istri melihat-lihat rumah mereka yang telah selesai dibangun. Rumah sederhana, tapi begitu nyaman untuk ditempati.
"Ruangan ini luas banget, buat apa?" tanya Naina ketika tiba di sebuah ruangan panjang yang tak bersekat.
"Ini buat main anak-anak. Kalo mereka mau kumpul atau mau nginep, berbaris aja di sini," ucap Alfin menjelaskan.
Di belakang rumah, bahkan ada kolam renang keluarga untuk mereka bermain. Semua itu sudah dipikirkan Alfin secara matang untuk memberikan rasa nyaman pada keluarganya.
"Setelah resepsi nanti, kita langsung pindah aja ke sini. Ustadz Hasan sudah mengundang para jamaah dalam pengajian untuk acara syukuran." Alfin merangkul bahu sang istri. Memandangi rumah yang akan mereka tempati.
__ADS_1
Naina mengangguk setuju, tinggal di rumah sendiri ketika sudah bersuami itu lebih baik rasanya. Mereka bisa lebih mandiri dan belajar arti tanggung jawab dalam mengurus rumah tangga.
Semuanya jauh dari keinginan sederhanaku. Alhamdulillah, ya Allah.