
Kedua wanita itu saling berpelukan, berbagi rasa rindu yang menggebu. Tiwi telah memutuskan untuk merubah penampilan mengikuti jejak Naina. Terinspirasi dari istri Alfin itu, ia merasa kehidupannya jauh lebih tenang. Terhindar dari godaan, juga hawa nafsu yang mengungkung jiwa.
"Kangen banget tahu." Tiwi berseru sambil memeluk Naina lagi. Shahabah hattal-jannah, teman sampai surga.
"Iya. Kamu cantik banget pake kerudung. Istiqamah, supaya kita bisa ketemu lagi di akhirat nanti." Naina menanggapi, seraya melepas pelukan. Keduanya kembali tertawa bahagia bukan main.
Alfin diam-diam tersenyum, bersembunyi di balik dinding menguping pembicaraan dua wanita yang memutuskan pergi ke halaman belakang.
"Aamiin." Tiwi menyambut, kemudian tertawa lagi.
"Wi, kamu nggak akan buka kerudung lagi, 'kan?" tanya Naina berharap sahabatnya itu akan istiqamah dan bersama-sama berjalan di atas jalan hidayah.
Tiwi menoleh padanya, tersenyum penuh makna pada wanita yang menginspirasi dirinya untuk mengenakan hijab.
"Insya Allah. Aku mau istiqamah kayak kamu. Doain aku supaya hati ini teguh, Nai. Kayak kamu, aku pengen kayak kamu." Tiwi melembutkan pandangan, menggenggam tangan Naina dengan hangat.
"Aamiin. Sama-sama kita meniti jalan hidayah. Saling menggenggam tangan, saling mengingatkan akan kebaikan. Aku senang karena kita akan tetap bersama-sama." Naina memeluk tubuh Tiwi, kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya.
Hati Alfin terasa damai, kedua wanita itu berhijrah bersama-sama. Semoga Allah meridhoi persahabatan kalian. Hati Alfin bergumam, melangitkan doa untuk keduanya.
Tiwi melepas pelukan, sedikit merajuk karena kabar pernikahan Naina yang tak memberitahu dirinya.
"Aku baru tahu kalo kamu udah nikah sama Alfin. Kenapa nggak kasih tahu, sih?" Tiwi memukul pelan paha Naina. Kesal, tapi turut bahagia akhirnya sahabat yang mendapatkan dua kali penolakan dari laki-laki itu telah menemukan tambatan hati. Seorang laki-laki beriman yang bisa menerima apa adanya.
"Yah, baru nikah aja, sih. Kata Papah nanti mau ada walimah supaya nggak jadi fitnah buat masyarakat." Naina lebih memilih menutupi semua kejadian karena hal tersebut merupakan aib keluarga.
Alfin terenyuh, kedua tangganya terlipat di perut ingin mendekap tubuh itu. Ia memejamkan mata, merasai hangatnya sentuhan sang istri.
"Bener. Sekarang ini masyarakat sangat mudah menilai tanpa tahu yang sebenarnya. Ada pasangan menikah langsung hamil, terus saja menjadi gosip. Ada pasangan yang nikah lama belum hamil, juga jadi gosip. Ada lagi yang pacar-pacaran jadi gosip juga." Tiwi menghela napas, memaparkan keadaan lingkungan sekitar tempat tinggalnya.
Naina terkekeh, merasa lucu dengan ekspresi wajah sahabatnya itu.
"Ya, kalo mau dengerin omongan orang, mah. Nggak akan pernah selesai hidup. Kita juga nggak akan pernah bahagia. Biarin aja ngalir, semua pasti berlalu dengan sendirinya," tutur Naina menyejukkan hati Alfin.
Laki-laki itu mengigit bibir tanpa membuka matanya. Asyik mendengarkan percakapan mereka, meski hanya satu yang mendominasi telinganya.
Bugh!
"Astaghfirullah!" Tubuh Alfin terlonjak ketika sebuah tepukan mendarat cukup kuat di bahunya.
Pekikan suaranya yang sedikit lantang, menghentikan obrolan kedua wanita itu.
__ADS_1
"Siapa?"
Suara tawa menggelegak dari seorang laki-laki yang memukul bahu Alfin.
"Mas Fahmi?" panggil Tiwi dengan dahi yang berkerut.
Fahmi muncul sambil menarik koko Alfin ke hadapan mereka.
"Mas?" Kali ini dahi Naina ikut mengernyit, terlebih saat melihat Alfin yang memerah malu karena ketahuan menguping oleh Fahmi.
"Suami kamu itu, Kak Nai. Dia nguping obrolan kalian," ucap Fahmi yang mendaratkan bokong di depan Naina.
Naina memicing membuat Alfin semakin salah tingkah.
"Bener, Mas?" tanya Naina menyelidik.
Alfin mengusap tengkuk, berputar-putar mencari alasan. Pandangannya jatuh pada sang istri ketika Naina memukul pelan pahanya.
"Ya. Aku sebenernya nyari kamu, Humairah, tapi malah nggak sengaja nguping kalian ngobrol," kilahnya tersenyum merayu Naina.
"Halah, alasan kamu! Bilang aja kepo sama obrolan perempuan," cibir Fahmi sembari menyulut sebatang rokok di tangannya.
"Udahlah, nggak apa-apa. Mungkin Alfin mau ikut ngobrol sama kita," sambar Tiwi menyudahi perselisihan suami istri yang akan terbawa sampai ke kamar.
Naina mendengus.
"Nah, bener itu!" Alfin berseru. "Geser, Yang! Aku mau duduk juga," pinta Alfin pada istrinya.
Bersemu pipi Naina, Alfin bahkan tak segan memanggilnya mesra di hadapan orang banyak. Ia bergeser ke sisi sebelah Tiwi, membiarkan Alfin duduk satu bangku dengannya.
Tiwi menatap iri pasangan baru di depannya, kemudian melirik Fahmi berharap laki-laki itu akan bersikap romantis seperti para suami ustadz di novel-novel.
"Mmm ... aku iri. Nanti suamiku kayak gitu nggak, ya?" gumam Tiwi sembari melirik Fahmi yang sedang menyesap rokoknya.
Uhuk-uhuk!
Tersedak asap rokok sendiri. Sadar bahwa dia yang dimaksud oleh Tiwi.
"Tuh, denger. Perempuan itu suka dimanja. Kamu jangan dingin-dingin sama istri. Kayak aku." Alfin merangkul bahu Naina dan mencium pipinya.
"Ish! Nggak tahu malu!" Naina menyenggol pinggang suaminya sambil tersipu.
__ADS_1
Tiwi berbinar, berharap ia akan mengalami hal yang dialami Naina sekarang. Diam-diam matanya melirik Fahmi, mendengus karena laki-laki itu justru terbengong.
"Mas Fahmi juga pasti romantis," celetuk Naina sembari tersenyum melirik Fahmi dan Tiwi dan bergantian.
"Siapa kamu yang bilang mas itu? Dia lebih muda dari aku, sayang. Nggak usah panggil dia mas," cetus Alfin mencibir Fahmi yang terus tertunduk.
Sepertinya dia butuh sedikit hiburan setelah setiap hari mengurusi ratusan santri di pesantren.
"Ya, nggak apa-apa, kali." Alfin mencium pipi Naina karena gemas.
"Nggak bisa, dong. Fahmi yang seharusnya panggil kamu Kakak. Bener nggak, Mi?" Alfin tidak terima.
Fahmi terkekeh, dia benar-benar butuh hiburan.
"Iya, Mas Alfin." Semua orang di sana terkekeh melihat wajah yang selalu tampak serius itu berubah jenaka.
"Emangnya Mas Fahmi sama Ustadz Alfin beda berapa tahun?" tanya Tiwi.
Kali ini Fahmi yang mendengus.
"Kenapa kamu panggil dia ustadz? Aku ustadznya di sini. Dia, mah, ustadz cilik karena ngajar anak-anak kecil." Fahmi menyesap rokoknya, melirik Alfin sambil mencibir.
Tiwi tercenung, kemudian tertawa merasa lucu dengan tingkah kedua pemuda yang sama-sama terkenal dingin dan tak acuh.
"Ternyata kalian punya selera humor juga, ya?" cetus Tiwi sambil menutupi mulutnya.
Alfin dan Fahmi sama-sama tertawa, mereka berdua memang butuh hiburan.
"Fahmi butuh hiburan, Nad. Pikirannya perlu di-refresh karena setiap hari mengurusi ratusan santri yang berbeda karakter. Kelak, kamu harus pandai menghibur Fahmi. Sejukkan pandangannya supaya cuma kamu yang tercantik di mata dia. Biasanya, ustadz itu banyak selirnya." Alfin tertawa setelah menyelesaikan kalimatnya.
Naina mendengus, mencubit pinggang suaminya dengan gemas. Dia sudah khusyuk mendengarkan nasihat Alfin untuk Tiwi dan menganggap itu berlaku juga untuknya. Namun, kalimat akhirnya, tak sedap di telinga.
Tiwi menatap tajam Fahmi, mengancam sebelum itu semua terjadi. Dan laki-laki itu, meneguk ludah gugup.
"Jangan dengerin Alfin, Nad. Percaya aja sama aku," tutur Fahmi membuat pipi Nadia merona.
"Cieee ... yuk, lah. Kita ke kamar, jangan ganggu mereka!" Alfin merangkul bahu Naina meninggalkan mereka berdua.
"Sini aja, Nai! Aku takut kalo cuma berdua sama Mas Fahmi. Takut ada setan!" Tiwi berbisik di akhir kalimat, mencekal tangan Naina mencegahnya untuk pergi.
Pada akhirnya Alfin mengalah, kembali duduk bersama mereka.
__ADS_1