
"Alfin!"
"Alfin!"
Suara-suara yang memanggil namanya terdengar seperti halusinasi di telinga Alfin. Pemuda itu masih terduduk di atas lantai dengan tubuh membeku tak dapat digerakkan. Sekuat apapun mengguncangnya, ia tetap bergeming.
"Alfin!" Bentakan Ahmad tidak juga menyadarkan Alfin dari buai lamunan.
Ucapan tegas Adrian terus mengiang di telinga dengan tajam. Menusuk-nusuk membuat hatinya perih teriris. Alfin tertarik perasaannya sendiri, tak mampu melakukan apapun selain diam dan menyesali semua yang terjadi.
Lemah, aku memang lemah. Aku nggak setangguh Naina yang rela mengorbankan kebebasannya demi aku. Aku lemah.
Batinnya bergumam perih, mengingat semua pengorbanan Naina, timbul rasa malu di hatinya. Terlebih saat mengingat ucapan Khadijah tentang Aminah yang berkata kasar dan tak pantas didengar. Semua itu mencabik hati murni Naina.
"Alfin! Sadar! Kejar dia, dan dapatkan Naina. Jangan cuma diam saja!" bentak Busyro sambil mengguncang kedua bahu adiknya.
Namun, pemuda itu masih bergeming, larut dalam alam pikirannya sendiri.
"Alfin!"
"Alfin!"
Sebuah tamparan ringan kembali mendarat di pipinya. Alfin memburu udara, tertarik kembali ke alam nyata dan menatap ketiga orang yang mengerubunginya. Pemuda itu terlihat seperti orang bodoh, menatap linglung pada ketiganya.
"Alfin!"
Ia mengangkat wajah, menatap si pemanggil.
"Di-di mana ini?" tanyanya benar-benar linglung.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Istighfar, Alfin! Baca istighfar!" ingat Ahmad sembari merengkuh tubuh anaknya.
__ADS_1
Laki-laki tua itu menangis histeris, tak tega melihat keadaan anaknya yang sangat terpukul. Alfin tiba-tiba ikut menangis, ketika sadar apa yang telah terjadi.
"Naina, Abi! Dia mau membawa Naina pergi, Abi. Dia mau misahin Alfin sama Naina," rengek Alfin benar-benar menyayat hati ketiganya.
Ahmad menepuk-nepuk punggung pemuda itu, memberinya kekuatan untuk dapat bangkit mengejar cintanya.
"Sabar! Tenang!" bisiknya lirih. Ia melepas pelukan, menangkup wajah anaknya dengan lembut.
"Bangun! Kejar dia, Nak. Jangan sampai dia membawa Naina pergi. Kamu akan rugi kalo kehilangan gadis seperti dia. Bangun, Alfin! Datangi tempat itu dan bawa dia ke Ustadz Hasan, nikahi dia sekarang juga!" ucap Ahmad dengan penuh keyakinan.
Alfin tertegun, meneguk ludahnya sendiri saat rasa tak percaya itu mengeringkan kerongkongan. Ia menatap kedua kakaknya, mereka mengangguk setuju.
"Gimana sama Umi?" tanyanya lirih.
Ahmad menggelengkan kepala, seraya berucap, "Nggak usah mikirin Umi. Abi merestui kalian. Sekarang, pergi!"
"Kakak temani!" Busyro berkata dengan sigap. Alfin perlahan bangkit, ditemani Busyro pergi menyusul Adrian. Laki-laki itu bisa melakukan apa saja untuk membawa Naina pergi dari penjara dan menjauhkannya dari Alfin.
Di dalam penjara, Naina duduk meringkuk di sudut ruangan. Mendekap tubuhnya sendiri, menangisi takdir yang harus ia jalani. Tak henti, hati menyebut asma Allah agar memberinya kekuatan untuk menjalani semua.
Tangannya terus menerus mengusap air yang jatuh, tak ada suara lirih yang terdengar. Tak ada isak tangis tersedu-sedan. Naina tak ingin meratap, apalagi menyesali yang terjadi.
Di balik jeruji lainnya, pemilik butik menangis mendengar Naina menggantikan posisi Alfin di dalam penjara. Rasa penyesalan semakin menusuk-nusuk hatinya, perih dan nyeri.
"Pak, izinkan aku ketemu sama Naina. Aku mau minta maaf sama dia. Tolong, Pak! Aku mohon!" pintanya.
Petugas tersebut membuka pintu dan membawanya ke ruangan Naina. Dia berdiri di pintu depan ruangan tersebut, memandang iba pada gadis di dalam sana. Pintu dibukanya, melangkah pelan nyaris tanpa suara.
"Naina!" Suara lirih itu disusul tangisannya yang menguar.
Gadis itu bergeming, bahkan menoleh saja ia enggan. Tubuh sang pemilik butik jatuh, ambruk di lantai. Tangisannya menyayat hati, betapa pilu melihat gadis yang tak berdosa mendekam dibalik jeruji besi selayaknya penjahat.
__ADS_1
"Maaf ... maafin aku, Naina. Maaf!" lirihnya bergetar.
"Nggak perlu minta maaf karena semua ini sudah terjadi." Ucapan Naina semakin membuat rasa sesal di hati mendalam. Menghujam tepat di jantungnya menimbulkan rasa nyeri yang semakin nyata.
"Aku nggak tahu semuanya akan jadi begini. Aku nggak nyangka kalo Anton sudah membuat rencana busuk itu. Dia bilang kalo mau melamar kamu di sana. Maafin aku, Naina!" ratapnya terdengar pilu.
Naina menahan isak tangis yang ingin keluar. Mengusap kedua sudut matanya yang semakin gencar menurunkan air.
"Nggak perlu disesali karena semuanya sudah terjadi. Pergilah, Bu. Aku juga nggak bisa berbuat apa-apa selain memaafkan Ibu," sahut Naina tanpa berbalik menatap ke arahnya.
Semakin histeris tangisannya. Memang apa yang dia harapkan? Apakah permintaan maafnya, akan mengembalikan keadaan Naina seperti sebelum kejadian itu?
"Aku benar-benar menyesal, Naina. Aku menyesal," ucapnya lagi, tapi tak digubris Naina.
"Apa yang Ibu harapkan dari meminta maaf itu? Apakah Ibu bisa mengembalikan keadaan aku? Jika iya, maka mintalah maaf sebanyak-banyaknya agar waktu kembali berputar, tapi rasanya mustahil. Semua itu nggak akan pernah terjadi," ucap Naina.
"Pergi saja, aku mau sendirian. Aku mau menenangkan diri di sini. Jauh dari manusia-manusia yang nggak punya hati, jauh dari kedengkian sang pendengki. Pergi!" usir Naina tak sedetik pun melirik ke arahnya.
Wanita paruh baya itu mengangkat wajahnya yang basah, menatap punggung Naina yang nampak tegar dan tangguh. Perlahan bangkit sambil meminta maaf dengan lirih. Ia berbalik dengan enggan, pergi membawa penyesalan mendalam di hatinya. Ia tak akan pernah bisa melupakan dosa terhadap Naina untuk sepanjang hidup di dunia ini.
Selepas kepergiannya, Naina tergugu sambil menutupi wajah. Dia akan memulai kehidupan baru di dalam tahanan, kehidupan yang jauh dari mulut-mulut tajam para pengaku kebenaran. Biarlah dia berada di sana, asal telinganya tak berdenging sakit karena goresan lisan tak bertulang.
Dengan diantar petugas, pemilik butik kembali ke dalam selnya. Ia kemudian melirik sel yang dihuni Anton. Laki-laki itu duduk menekuk lutut, kedua tangan menjuntai ke depan, kepala tertunduk dalam. Sekilas terlihat menyesal dengan semua yang direncanakannya. Namun, siapa yang tahu, hati dan pikiran laki-laki itu teramat busuk.
Pemilik butik mendatangi sel tersebut, memandang penuh amarah pada sosok laki-laki yang di dalam sana. Kedua tangannya mencengkram jeruji besi dengan erat, meluapkan kekesalan terhadap sosok memuakkan itu.
"Semua ini karena kamu, Anton. Aku harap hakim akan menjatuhkan hukuman yang berat buat kamu. Kamu nggak pantes disebut manusia karena seyogyanya manusia itu punya hati nurani, tapi kamu nggak. Kamu iblis, kamu layak dihukum berat, Anton!" cerocos pemilik butik dengan geram meluapkan emosinya kepada Anton.
Laki-laki di dalam sana bergeming, tak bergerak sedikit pun jua. Entahlah, apa dia sedang merenungi semua yang terjadi? Ataukah sedang menyesalinya?
Pemilik butik kembali melanjutkan langkah menuju selnya. Berdoa dalam hati agar Anton diberi hukuman seberat-beratnya.
__ADS_1