
Di sebuah restoran, sekelompok anak dan dua orang dewasa duduk sambil menikmati santap malam mereka. Acara dilanjutkan hingga malam, untuk mengunjungi pasar malam di daerah tersebut.
Kebahagiaan hati mereka jelas terlihat di wajah-wajah mungil itu, senyuman, canda tawa, juga celoteh anak-anak yang tak pernah usai. Mengisi deretan meja panjang yang dipesan khusus oleh Alfin untuk mereka.
"Ayah, apa kita akan liburan? Kayaknya udah lama kita nggak pergi liburan," tanya seorang anak yang paling besar di antara mereka.
Naina tertegun mendengarnya, bertanya dalam hati apakah anak-anak ini sering berlibur? Ia melirik Alfin yang tersenyum menanggapi, dia benar-benar sosok seorang ayah yang baik dan menjadi panutan semua anak-anak asuhnya.
"Mau liburan ke mana? Kalian tentukan dulu mau ke mana? Baru nanti Ayah pikirkan," sahut Alfin sembari menyuap makanannya ke mulut.
Mereka berdiskusi, Naina melirik. Ia tersenyum melihat keakraban semua anak itu. Tiada beda di antara mereka, semua dapat mengeluarkan pendapat. Berbagai macam tempat liburan mereka sebutkan.
"Apa mereka selalu kayak gitu?" bisik Naina sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Alfin.
Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum melihat ke arah anak-anaknya.
"Yah, mereka emang selalu kayak gitu. Bentar lagi kamu akan lihat tempat apa yang mau mereka datangi," jawab Alfin sedikit berbisik pula kepada Naina.
Mereka anak-anak luar biasa, yang kecil akan menurut pada yang besar, dan yang besar menyayangi yang kecil. Menegur ketika salah sambil menasihati satu sama lain.
"Udah, Yah!" seru anak yang paling besar.
"Tempat mana yang mau kalian datangi?" tanya Alfin sambil melipat tangan di atas meja.
"Karena si Kecil pengen lihat istana, yang lain pengen berlomba, ada juga yang mau bermain air. Kami memutuskan untuk pergi ke pantai! Di mana si Kecil bisa membuat dan melihat istana, yang lain bisa berlomba dan menaiki wahana sekaligus bermain air. Jadi Ayah, kapan kita akan pergi?" ucap si Sulung tanpa memikirkan dirinya sendiri.
Naina takjub semua saudaranya dipikirkan. Ia menatap yang lain, ke semuanya anak mengangguk setuju.
"Baiklah. Kayaknya cuaca juga lagi bagus. Pantai mana yang mau kalian kunjungi!" tanya Alfin setelah mendengar keinginan mereka.
__ADS_1
"Di mana aja, Yah. Yang penting kami bisa bermain," katanya dengan yakin.
Alfin menganggukkan kepala setuju, dia sudah menentukan ke mana akan membawa mereka liburan. Akhir pekan nanti adalah waktu yang tepat untuk menjernihkan pikiran mereka setelah enam hari lamanya bergulat dengan bangku sekolah.
"Apa Ibu juga ikut?" tanya Halwa di sela-sela kegembiraan mereka.
Naina tersenyum sambil mengusap kepalanya, menggeleng karena tak mungkin berada dalam satu lingkup dengan Alfin meski mereka semua ada di sana.
"Kayaknya Ibu masih belum bisa ikut. Kalian aja dulu, ya. Nanti klo udah waktunya, Ibu pasti ikut," ucap Naina dengan lembut.
Mereka menurunkan bahu sedih, Alfin sendiri ingin Naina ikut serta.
"Nggak apa-apa, ikut aja. Ustadz Hasan dan keluarganya biasa ikut juga. Kamu bisa nenemin istri beliau sekalian belajar sama dia tentang apa aja yang mau kamu tahu," ucap Alfin menerbitkan senyum di bibir mereka semua.
Naina tak pernah tahu soal itu, ia kira mereka hanya pergi bersama tanpa sang ustadz.
Gadis itu akhirnya mengangguk, setuju untuk ikut. Mereka bersorak gembira, senang karena pada akhirnya memiliki orang tua yang lengkap meski hanya orang tua asuh.
Acara dilanjutkan bermain di pasar malam sesuai keinginan anak-anak. Berbagai macam wahana mereka naiki dengan hati riang gembira. Membuat Naina benar-benar lupa cerita hidupnya yang pahit. Dia tertawa, bergembira, bersenda gurau bersama mereka. Di bawah pengawasan mata Alfin.
Pemuda itu tersenyum, hatinya tersentuh. Naina cepat sekali akrab dengan anak-anak asuhnya. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang ia jumpai. Mereka yang tidak memiliki ketulusan hati, tak akan mampu merebut hati anak-anak itu.
Sebelum kembali, mereka mengantar Naina terlebih dulu. Hingga memastikan gadis itu telah sampai di rumah dengan selamat. Malam yang menyenangkan, hati Naina terasa damai.
****
Pagi hari yang cerah, tapi tak secerah hati Naina yang harus berhenti bekerja sehingga kesibukan di pagi hari yang biasa dilakukan, kini tak ada lagi. Duduk termenung seorang diri, sambil menatap para pembeli yang mulai mengantri.
Ia berguling di kursi, menghadap langit-langit rumah yang tampak kusam. Menghela napas, terasa bosan jika tak bekerja seperti sekarang ini.
__ADS_1
"Bosen banget. Ngapain, ya?" celetuknya sendirian. Ia kembali berguling, menghadap jendela. Memperhatikan setiap wajah pembeli seblak milik Bibi.
"Mau ke masjid malu, masa ke sana mulu. Apa nanti kata orang." Ia mengeluh, menopang dagu di atas kedua tangan yang ditumpuk.
"Jangan ngelamun, mending pergi ke tukang sayur ambil pesanan Bibi," ucap Sumiyati tak sengaja melirik Naina dari jendela.
Sedikit terobati rasa bosan di hati gadis itu, ia bersegera turun dari kursi dan berjalan keluar dengan semangat. Menerima uang dari wanita itu dan pergi sambil tersenyum.
Beberapa tetangga menyapa, ada juga yang memuji Naina karena memutuskan menutup auratnya. Sebagian menggoda, seperti kebanyakan masyarakat di desa-desa.
"Nak Naina emangnya udah nggak kerja lagi, ya? Kenapa?" tanya pemilik warung sayur ketika Naina tiba di sana.
"Nggak, Bu. Nggak apa-apa, cuma udah nggak srek aja sama hati. Kalo ada yang mau kerja, bisa itu gantiin Nai di sana, Bu," jawab Naina sambil mengambil sebungkus cilok yang dijual bersama sayurannya.
"Oh, iya. Kebetulan itu anaknya tetangga Ibu ada yang pengen kerja. Bisa, ya, masuk sana?" ujar pemilik warung sambil membungkus pesanan bibi Naina.
"Oh, bisa, Bu. Coba aja bawa berkas-berkasnya ke sana. Pasti butuh karyawan itu, Bu. Soalnya cuma sedikit karyawannya," sahut Naina memberikan sebungkus cilok untuk disatukan dengan belanjaan Bibi.
"Ya udah, kalo gitu nanti saya sampaikan. Ini punya bibinya, ciloknya Ibu kasih gratis. Bonus buat calon mantu," canda si Ibu pemilik warung sambil tertawa.
"Bisa aja, Ibu. Makasih, Bu. Nai pamit dulu," pamit Naina menerima bungkusan dan berlalu pulang.
Ia meletakkan belanjaan di meja Bibi, dan ikut membantu Bibi melayani para pembeli. Akhirnya pergi juga rasa bosan dari hatinya. Membantu Bibi yang sibuk melayani pembeli, Naina tampak senang.
"Asyik juga kalo banyak yang beli kayak gini. Apalagi kalo liat antrian sampe panjang begitu. Kalo sendirian pasti Bibi kewalahan ngelayaninnya," ujar Naina sambil membungkus pesanan pembeli.
"Yah, Bibi udah biasa. Sebelum ada kamu juga, selalu kayak gini. Apalagi kalo musim hujan, beuh ... antri," ujar Bibi sambil tersenyum.
Naina melirik, melihat betapa cekatannya tangan Bibi merajang sayuran. Ia tersenyum, bersyukur karena kedua paruh baya itu amat menyayangi dirinya.
__ADS_1