
"Kalian yakin mau tinggal terpisah dulu?" tanya Adrian sekali lagi menegaskan sebelum mereka kembali ke kediaman masing-masing.
Naina memutuskan untuk tinggal di rumah Adrian, dan Alfin tetap berada di masjid sampai waktu yang tak tertentu.
"Iya, Pah. Karena ini salah satu syarat yang diajukan Naina sebelum akad tadi," ujar Alfin dengan yakin.
Gadis itu menunduk disaat empat pasang mata beralih padanya. Adrian, Habsoh, Sumiyati, dan juga Asep. Sementara Busyro dan Ustadz Hasan dapat mengerti keadaan itu.
"Sayang-"
"Mmm ... Pah, ini sudah jadi kesepakatan kami sebelum ijab qabul tadi. Jadi, jangan sudutkan Naina. Kalo ada alasan lain, syarat ini pasti akan batal dengan sendirinya. Begitu, 'kan, Nai?" Alfin memandang ke arah istrinya, gadis itu mengangguk dalam keadaan tertunduk.
Adrian menghela napas, jika kedua-duanya ridho maka tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan.
"Ya sudah kalo begitu. Sabar, ya, Nak. Mungkin ini ujian terakhir untuk kalian," ucap Adrian melirik Naina dengan ekor matanya.
Alfin tersenyum, tak ada beban ataupun kecewa yang tersirat di wajahnya. Laki-laki itu benar-benar menerima keadaan tersebut. Ia menyalami satu per satu dari mereka, menyisakan Naina yang masih mematung di tempatnya.
Alfin melangkah mengikis jarak sedikit, berdiri persis di hadapan sang istri yang masih menundukkan kepala.
"Hati-hati. Aku akan sering datang buat jenguk kamu. Tidur yang nyenyak, ya. Jangan lupa bermimpi tentang kita," ujar Alfin sembari meraih tangan Naina.
Ia mengangkat wajah, memandangi Alfin yang tersenyum manis dan hangat.
"Aku masih nggak percaya kalo kita sekarang udah nikah. Kamu juga jangan tidur malam-malam. Jangan lupa datangi Umi dan jangan pernah marah padanya." Naina tersenyum, membalas genggaman tangan suaminya.
Alfin mengangguk, menenangkan hati Naina yang masih saja mencemaskan keadaan Aminah.
"Sekarang boleh aku peluk kamu? Jujur aja aku masih kangen sama kamu, Nai," ungkap Alfin menatap sendu wajah istrinya.
Naina tertegun, tapi kemudian berhambur ke dalam pelukan Alfin. Mendekapnya erat, menyalurkan perasaannya yang tak pernah berkurang sedikit pun.
"Aku juga kangen sama kamu. Jangan lupa datang ke rumah," bisik Naina sambil memejamkan mata meresapi rasa yang mengalir hangat di seluruh pembuluh darahnya.
Ia melepas pelukan, mencium punggung tangan Alfin dengan takzim. Untuk kemudian mendapat balasan sebuah kecupan di dahi. Malam itu, mereka berpisah menahan segala kerinduan yang semakin menggumpal.
__ADS_1
Naina menoleh dan tersenyum sebelum masuk ke dalam mobil. Alfin melambaikan tangan, melepas kepergian sang istri. Mungkin dia tak akan bisa memejamkan mata karena gejolak rindu di hati.
Busyro menghela napas, mendatangi sang adik yang masih mematung memandang kepergian mobil Naina. Ia menepuk bahu laki-laki itu, memberinya kekuatan.
"Kamu yakin nggak apa-apa? Rindu sama istri itu nggak sama kayak rindu sama pacar. Kakak nggak yakin kamu bisa bertahan lama," ejek Busyro sebagai orang yang telah berpengalaman.
Alfin menahan senyum, menunduk malu. Yang dikatakan kakaknya itu memang tidaklah salah, karena saat itu juga ia sudah merasa ingin berlari mengejar Naina.
"Kakak nggak pulang?" tanya Alfin mengalihkan pembicaraan.
Busyro menghendikan bahu, melengos kembali ke masjid untuk berpamitan. Anak-anak Alfin sudah terlelap dalam buaian, hanya menyisakan tiga orang paling besar yang biasanya mengkaji kitab bersama Ustadz Hasan.
Alfin menghampiri mereka, duduk di antara ketiga anak itu. Disapunya kepala anak-anak itu penuh kasih, betapa dia menyayangi mereka.
"Ayah sama ibu nanti tinggal di sini, 'kan? Kalo rumah di belakang udah jadi?" tanya yang paling kecil di antara ketiga anak itu.
"Insya Allah, doakan saja mudah-mudahan rumahnya cepat jadi biar Ayah sama ibu bisa menempatinya," jawab Alfin disambut senyum sumringah oleh mereka.
"Aamiin!" Serentak mereka berseru, berharap doa sang ayah akan dikabul dengan segera.
"Innaa lillaahi. Iya, Yah. Nggak apa-apa, kok. Mudah-mudahan Nenek cepet sembuh," ujar mereka dengan penuh pengertian.
"Aamiin. Makasih, ya. Kalian emang anak-anak yang baik. Ayah beruntung punya kalian." Alfin memeluk ketiganya dengan bangga.
Sebelum kedatangan Naina dalam kehidupannya, merekalah yang menjadi teman hijrah Alfin. Menguatkan laki-laki itu, agar tetap berada di jalan yang lurus. Alfin mengecup kepala mereka satu per satu sebelum berdiri dan berpamitan kepada Ustadz Hasan.
"Maaf, Ustadz. Saya ngerepotin Ustadz lagi," ucap Alfin tak enak.
"Ah, nggak masalah. Mereka sama sekali nggak ngerepotin. Mereka anak-anak yang baik, mandiri dan selalu membantu menjaga kebersihan masjid." Ustadz Hasan tersenyum pada ketiga anak itu, mereka tersipu ketika Alfin ikut menatap.
"Kalo begitu kami permisi, Ustadz. Ini udah malam juga, anak-anak harus istirahat. Nanti subuh mereka tertinggal," pamit Busyro seraya melirik pada ketiga anak itu.
"Iya, Paman Ustadz. Insya Allah, subuh kami nggak ketinggalan," sahut si Sulung dengan pasti.
Sekali lagi mereka berpisah dengan sang ayah, dijaga Ustadz Hasan dan satu orang pengurus masjid lainnya. Alfin meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang lega.
__ADS_1
****
"Sayang, memangnya syarat seperti apa yang kamu ajuin sama Alfin, Nak?" tanya Habsoh berbalik badan menghadap Naina yang duduk di belakang bersama paman dan bibinya.
Wanita itu tidak pernah tahu kisah tentang Naina yang menggantikan Alfin. Begitu pula dengan Sumiyati dan Asep. Naina bungkam, tidak tahu harus menjawab apa. Hanya kedua matanya saja yang berkedip, dan pikiran sibuk mencari jawaban.
"Apa itu menyangkut ibunya Alfin?" Pertanyaan dari Adrian membuat mereka serentak menoleh kepada laki-laki itu.
"Dari mana Papah tahu?" tanya Naina sedikit gugup.
"Kenapa sama umi Aminah, Nak? Apa ada yang salah?" Asep ikut bertanya bingung. Sedikitnya dia tahu tentang keluarga Alfin.
Naina menunduk, belum ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"Dia menyalahkan Naina karena Alfin dipenjara. Kalian nggak tahu tadi siang aku menjemputnya di penjara. Anak kita itu menggantikan posisi Alfin karena tersinggung dengan ucapan ibunya," ungkap Adrian diakhiri helaan napas panjang.
Ketiganya membuka mulut tak percaya, menatap Naina yang terus menundukkan kepala.
"Ya Allah! Bener kayak gitu, Nai?" pekik Sumiyati tak ingin percaya.
Naina mengangkat wajah, menatap ketiga pasang mata yang menyalang padanya.
"Nggak usah dibahas lagi, ya. Nai nggak mau inget-inget itu lagi. Sekarang, 'kan, Nai udah nikah sama Alfin. Jadi, Nai nggak mau ada bahasan itu lagi," pinta Naina sedih.
Ketiganya terdiam, tak tahu lagi harus berkata apa. Berita yang baru mereka dengar itu cukup memacu detak jantung.
"Terus syarat apa yang kamu pinta dari Alfin? Kayaknya dia nggak keberatan sama sekali," tanya Habsoh sekali lagi.
"Nai cuma minta kita nggak tinggal satu rumah dulu sampai ibunya Alfin memberikan restunya. Itu aja, kok," jawab Naina kemudian menundukkan kepala lagi.
Mereka mendesah lega, sempat berpikir yang tidak-tidak. Khawatir Naina memberikan syarat yang berat kepada Alfin. Naina tidak pernah melarang laki-laki itu untuk mendatangi rumah mereka, bahkan menginap di sana.
"Kenapa nggak tinggal di rumah kita aja, sayang?" usul Adrian disambut gelengan kepala Naina.
"Siapa yang akan menjaga anak-anak kalo Alfin tinggal di rumah kita? Dia lagi bangun rumah di belakang asrama. Rumah itu nanti akan kami tempati, Pah," ucap Naina.
__ADS_1
Oh ... mereka paham.