
Adrian menepikan mobilnya di parkiran rumah sakit, kondisi sang istri memang terlihat sehat. Akan tetapi, kejadian di masa lampau mengharuskannya untuk melakukan kontrol ke rumah sakit secara rutin.
Di rumah sakit yang sama, Khadijah baru saja keluar dari sebuah ruangan. Selain Aminah dirawat di sana, ia juga meminta dokter yang menangani Naina untuk memberikan keterangan terkait masalah Alfin kepada pihak kepolisian.
"Terima kasih atas kerjasamanya, Dok. Keterangan Anda sangat berharga," ujar tim penyidik yang datang bersama Khadijah.
"Ya, sama-sama."
Mereka berpisah, Khadijah sedikit merasa lega. Bibirnya tersenyum meski hati perih bila mengingat kondisi keluarganya yang dihantam badai.
"Argh!" Ia memegangi perut ketika rasa sakit tiba-tiba mendera. Khadijah meringis, tapi sekuat mungkin menahan diri agar tidak terbawa panik. Ia duduk dengan tenang, menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Pah, kayaknya perempuan itu kesakitan. Mamah ke sana dulu sebentar, ya," ucap istri Adrian tak tega melihat Khadijah yang meringis kesakitan.
"Ya sudah," sahut Adrian.
Kepalanya celingukan ke kanan dan kiri, dan seluruh koridor rumah sakit. Alisnya terangkat tinggi, mengernyit kemudian saat melihat seseorang di kejauhan berjalan bersama seorang wanita.
"Eh, Mah! Mamah tunggu di sini, jangan ke mana-mana. Papah pergi sebentar!" Adrian pergi setelah istrinya setuju. Keduanya berpisah karena keperluan masing-masing.
"Mba! Mbak nggak apa-apa?" tegur wanita tersebut seraya duduk di samping Khadijah yang masih meringis.
Keadaan tempat tersebut jauh dari keramaian sehingga sedikit sekali orang yang berlalu-lalang di lorong itu.
"Perut saya sakit, Mbak, tapi nggak apa-apa. Ini sebentar lagi juga sembuh," sahut Khadijah berpeluh-peluh.
Istri Adrian membantu mengusap perut wanita berhijab itu, membuat jabang bayi di dalam kembali tenang.
"Saya juga dulu pernah hamil. Senangnya bukan main waktu dokter bilang kalo saya sedang mengandung buah cinta dari pernikahan kami," tutur istri Adrian sambil tersenyum, terkenang masa lalu yang indah bersama sang suami.
Berangsur-angsur kondisi perut Khadijah menjadi tenang, ia membenarkan posisi duduknya, mengelap keringat dan memburu udara dengan cepat.
"Pasti anak Mbak sekarang udah besar," ucap Khadijah setelah merasa lebih tenang. Ia berterimakasih kepada wanita itu karena telah membantunya mendapatkan ketenangan.
"Iya, kalo ada. Karena kejadian di masa lalu, saya harus kehilangan anak saya juga harus rela dengan takdir yang Tuhan gariskan untuk saya, yaitu saya nggak bisa hamil lagi," ungkap istri Adrian, matanya terlihat sendu meski bibir mengukir senyum.
__ADS_1
"Argh, maaf. Saya nggak tahu," ucap Khadijah sedikit merasa bersalah.
"Nggak apa-apa, lagian kita kenal juga nggak, 'kan. Saya cuma nggak tega tadi lihat Mbaknya meringis-ringis kesakitan." Wanita itu terkekeh, berbicara baik-baik saja padahal batinnya tersiksa.
"Semua yang terjadi di dunia ini adalah ujian, Mbak. Yang sabar, ya. Mudah-mudahan Allah ganti semua musibah dengan kebahagiaan," tutur Khadijah diaminkan wanita itu.
Ia menghela napas, teringat pada masa lalu. Sebuah kejadian yang tak pernah ia bayangkan untuk seumur hidupnya.
"Benar. Saya nggak menyesali semua yang terjadi pada hidup saya. Yah, walaupun ketika itu rasanya mati lebih baik daripada hidup terus membawa trauma yang mendalam. Kejadiannya emang udah lama, dua puluh tahun silam. Lebih malah, tapi traumanya sampai sekarang," ujar wanita itu membuat Khadijah bersimpati kepadanya.
Seperti apa kejadian yang dialami wanita itu di sama lalu? Ingin bertanya, tapi bukan ranahnya karena ia bukanlah siapa-siapa.
"Yang sabar, Mbak. Ikhlas," ucap Khadijah sembari mengusap tangannya.
Istri Adrian menatap wajah kakak Alfin itu, tersenyum tegar, setegar karang yang dihantam ombak.
"Ikhlas itu sangat mudah diucapkan lisan yang tak bertulang, tapi hati dan pikiran amat sulit menjalankan. Di saat lisan berkata ikhlas, berbanding terbalik dengan hati yang masih merasa sakit, juga pikiran yang selalu ingat. Begitu yang saya rasakan. Meski sudah dua puluh tahun lebih, hati saya masih merasa sakit dan saya nggak pernah bisa lupa sama kejadian itu," ungkapnya.
Khadijah mendesah, membenarkan ucapan wanita itu di dalam hatinya. Ikhlas memang sangat mudah untuk diucapkan, tapi betapa sulit saat dijalankan. Ketika masa lalu masih mengurung jiwa, ikhlas sulit untuk diterima.
Lisan Khadijah kelu mendengar penuturan istri Adrian itu. Sesakit apa kejadian di masa lalu yang menimpanya? Sehingga tak dapat ia lupakan meski sudah dua puluh tahun silam.
"Khadijah. Saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa Mbak," sahut Khadijah menyambut ramah tangan tersebut.
"Makasih. Saya nggak punya teman, sejak kejadian itu terjadi cuma suami saya terus menemani dan menghibur saya."
Khadijah terenyuh, mengira suami Habsoh adalah laki-laki yang baik dan setia. Ia teringat pada suaminya di rumah yang saat ini harus mengurus peternakan sambil merawat kedua anaknya.
"Mbak sangat beruntung punya suami yang setia dan baik," ujar Khadijah.
Habsoh tersenyum, mungkin sekarang iya, tapi dulu ... ia menghela napas, teringat pada kehidupan rumah tangganya di masa lalu bersama Adrian.
****
Di saat dokter mengabarkan kehamilannya, di saat itu juga kabar perselingkuhan Adrian bersama Lita ia dapatkan. Habsoh perempuan yang baik, dia menerima semua kesilapan suaminya ketika laki-laki itu bersujud meminta maaf.
__ADS_1
Saat itu, Lita yang tengah mengandung anak Adrian pergi entah ke mana. Meninggalkannya tanpa pamit juga kabar yang jelas.
"Aku berjanji nggak akan ngulangin lagi, Mah." Laki-laki itu berjanji, dan Habsoh memberinya kesempatan.
Kehidupan mereka berjalan bahagia, sampai pada hari itu beberapa orang datang ke rumah mencari Adrian. Sekelompok orang yang asing bagi Habsoh, tapi mengaku sebagai teman kantor suaminya ketika laki-laki itu pergi bekerja.
Maka tragedi mengenaskan itu pun terjadi, perzinahan suaminya dibayar tuntas oleh Habsoh. Ia dilecehkan oleh sekelompok orang yang mengaku teman Adrian, sampai harus kehilangan bayi dan rahimnya rusak.
Trauma yang berkepanjangan membuat Habsoh terkadang menangis sendirian, bahkan berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri, tapi selalu digagalkan Adrian.
****
Keduanya diam dalam hening, Habsoh hanyut dalam buai tragedi yang menimpanya dulu. Beruntung, Adrian benar-benar berubah dan mencintainya hingga kini. Laki-laki itu menjadi penghibur sekaligus pengganti semua yang hilang.
Dan saat kabar tentang anak Lita ia dapatkan, ketakutan Habsoh kembali memuncak. Namun, berkat kerja keras Adrian yang selalu meyakinkan istrinya itu, Habsoh menjadi lebih tenang.
Dering ponsel miliknya berbunyi, telepon dari Adrian.
"Sebentar." Ia meminta izin Khadijah.
"Iya, Pah. Kenapa? Mamah masih di tempat yang tadi," ucap Habsoh setelah mengangkat sambungan telepon.
"Mamah tunggu di sana, Papah di luar rumah sakit sekarang dan mau jemput Naina dulu di kantor polisi."
"A-apa? I-iya, Pah. Mamah tunggu di sini," sahut Habsoh, seraya mematikan sambungan telepon dan mendesah berat.
"Ada apa?" Khadijah bertanya dengan dahi yang mengerut.
"Suami saya ada di luar rumah sakit, dia mau menjemput anak kami dulu. Kalo Mbak Khadijah ada keperluan, nggak apa-apa, kok. Saya mau nunggu suami saya di sini," ucap Habsoh sambil tersenyum.
Bibir kakak Alfin itu pun mengulas senyum, tak akan ia meninggalkan Habsoh yang sudah menolongnya.
"Nggak apa-apa, saya temani sampai suami Mbak datang," ujar Khadijah tak tega bila meninggalkannya sendirian.
"Makasih."
__ADS_1
****
Sabar, ya. Akak-akak semua, nanti kita balik lagi ke Alfin.