
Hati tua kedua lansia itu bertambah hangat dengan berkumpulnya anak-anak Alfin dalam satu tempat yang sama. Menyaksikan sendiri mereka makan dengan lahap, bercengkerama, dan saling membantu satu sama lain, bahkan peralatan makan yang mereka bawa dicuci anak-anak itu tanpa harus menunggu perintah.
Keadaan kamar mereka sangat layak, bersih dan rapi. Pakaian-pakaian mereka tersusun teratur di dalam lemari. Buku-buku lengkap, semua kebutuhan mereka terpenuhi tanpa ada kurang sedikit pun.
Aminah menatap bangga pada bungsunya yang sedang membantu si kecil Halwa mencuci tangan. Sedangkan anak-anak lainnya saling membantu merapikan tempat makan, menyapu, dan mengepel lantai agar tidak terdapat bekas makanan yang bercecer.
"Maa syaa Allah! Menakjubkan, bisa lihat mereka secara langsung kayak gini. Alfin benar-benar berhasil mendidik mereka menjadi seperti yang kita lihat sekarang ini, Mi," sanjung Ahmad menatap bangga pada putra bungsunya.
"Alhamdulillah, Bi. Coba dari dulu kita datang ke sini, lihat sendiri gimana perjuangan Alfin membangun yayasannya ini. Jangankan membantu, hadir buat kasih dukungan aja nggak," sindir Aminah sembari melirik Ahmad yang tertawa mendengarnya.
"Yah ... itu, 'kan, dulu. Abi nggak percaya sama anak itu. Gimana mau percaya, penampilan kayak preman datang-datang bilang mau bangun yayasan, tapi alhamdulilah. Sekarang Abi menyaksikan sendiri perubahan dari anak kita itu, Mi," sahut Ahmad terkenang saat dulu menolak percaya pada bungsunya sampai-sampai Alfin pergi dari rumah.
"Sekarang dia udah buktikan kalo dia adalah orang hebat. Kita nggak perlu ragu lagi sama dia." Aminah tersenyum menyambut kedatangan Alfin bersama anak-anaknya.
"Umi mau ke toko depan, apa Naina kerja di sana?" tanya Aminah tak sabar ingin bertemu dengan calon menantunya itu.
"Iya, Mi. Nai kerja di sana, abis dzuhur nanti baru istirahat," jawab Alfin.
Aminah beranjak, mereka pergi berdua menuju tempat kerja Naina.
****
Anton berdiri di ambang pintu gudang, menatap Naina dengan liar. Gadis itu sudah hampir seharian tersenyum kepada para pelanggan yang datang.
Sebuah notifkasi pesan masuk ke ponselnya, ia segera membuka dan membaca isi pesan tersebut.
Pah, jangan lupa bawa mamah baru pulang buat aku. Aku mau main sama mamah baru itu.
Anton tersenyum, pesan dari anaknya yang selalu meminta ibu baru setiap kali Anton pulang ke rumah. Hari itu dia berjanji akan mempertemukannya dengan Naina setelah menunjukkan foto gadis itu padanya. Dia berniat meminta persetujuan dari Naina.
__ADS_1
Ia tersenyum, mungkin jika menyangkut anak hati Naina akan luluh dan bisa menerima perasaannya. Dia tidak memikirkan Alfin, juga memikirkan perasaan Naina. Hanya peduli pada dirinya sendiri, juga kebahagiaannya.
Namun, saat mengingat kedatangan Alfin tadi pagi ke toko, hatinya tiba-tiba memanas. Rasa cemburu pun menguasai, berubah menjadi emosi.
"Naina! Kamu ikut ke ruangan saya! Ada yang mau saya bicarakan sama kamu." Suara Anton terdengar sengit, jelas bernada penuh emosi.
Rekan Naina terperangah karenanya, satu rekan yang adiknya mengaji di masjid Alfin, menggelengkan kepala. Melarang Naina untuk pergi.
"Tapi saya belum selesai kerja, Pak. Sebentar lagi saya juga istirahat," tolak Naina dengan tegas.
Ia berpura-pura sibuk dengan komputer sesekali akan tersenyum saat pembeli datang membawa belanjaan.
Anton berdecak, kesal bukan main dengan penolakan Naina. Ia menatap sekitar, jatuh pandangannya pada sosok Vita yang sedang mencatat barang-barang di rak.
"Vit! Kamu gantiin Naina dulu. Ada yang harus saya bicarakan sama dia," titah Anton tanpa persetujuan dari kedua belah pihak.
Naina tertegun, begitu pula dengan Vita. Bukan tugasnya menjaga kasir meskipun ia bisa.
Sialan! Rupanya dia berani melawanku.
Anton berjalan mendekat, tak peduli pada tatapan semua karyawan. Beruntung tak ada satupun pelanggan yang datang kala itu.
"Kamu berani melawanku, hah! Aku ini atasan kamu, perlu kamu inget itu. Aku yang berkuasa di sini. Aku bilang, ikut!" bisik Anton cukup tegas di dekat telinga Naina.
Gadis itu menghela napas, menegakkan tubuhnya, kemudian melirik sang atasan.
"Kalo yang mau Bapak bicarakan masalah pekerjaan, bicarakan aja di sini. Saya akan dengarkan, tapi kalo masalah lain ... maaf, saya nggak bisa, Pak. Saya lagi kerja." Naina tetap menolak dengan tegas, bahkan tak ada lagi sikap hormat terhadap atasannya itu.
"Kurang aja kamu, ya. Berani-beraninya melawan aku! Ayo ikut!" Anton menarik tangan Naina cukup kuat.
__ADS_1
Ia meringis, terus memberontak mencoba melepaskan diri dari cekalan si pemangsa.
"Lepas! Aku nggak mau ikut!" tolak Naina sembari menahan tubuhnya agar tidak mengikuti tarikan Anton.
"Pak! Pak! Ja-jangan kayak gini, Pak. Kasihan Naina, Pak!" Vita datang memohon pada Anton untuk tidak menarik Naina secara paksa.
Mata laki-laki itu menjegil, menatap tajam dengan warnanya yang semerah darah.
"Jangan ikut campur! Kamu mau saya pecat!" geram Anton tak suka dihalang-halangi. Tangannya menuding tegas wajah Vita membuat gadis itu tak mampu berkutik. Langsung tertunduk, menggenggam jemarinya sendiri.
"Lepas! Saya nggak mau ikut!" Naina terus berteriak meronta agar Anton melepaskannya.
Namun, hati dan pikiran laki-laki itu telah dikuasai oleh amarah. Hilang akal sehatnya, hilang kemanusiaannya. Tanpa belas kasihan, dia terus menyerat Naina untuk dibawanya ke ruangan.
"Vit! Tolong aku, aku nggak mau ikut, Vit!" pinta Naina sembari menjulurkan tangan pada Vita.
"Pak, jangan kayak gitu. Kasihan Naina, Pak. Itu nggak bener. Semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik, Pak," mohon Vita sambil menangis tak tega melihat temannya yang tersiksa.
Naina melirik ponselnya, mencoba meraih benda tersebut, tapi cukup jauh. Dia ingin menghubungi Alfin, meminta pertolongan. Akan tetapi, Anton dengan sengaja menjatuhkannya hingga tak ada lagi harapan.
"Saya juga nggak mau kayak gini kalo Naina dengerin kata saya, tapi kamu denger sendiri, 'kan, gimana dia nolak? Itu bikin saya naik darah," ucap Anton dengan geram.
Naina meringis, pergelangan tangannya terasa ngilu dan perih. Akan tetapi, masih saja dia gerakan memberontak agar terlepas.
"Nai, kamu nurut aja sama si Bos. Dia cuma mau ngomong, kok," pinta Vita tak tega melihat Naina hampir menangis.
Namun, temannya yang lain justru menggelengkan kepala tetap melarang Naina untuk ikut.
"Pak, sekarang biarin saya kerja dulu. Nanti kalo udah selesai, baru kita ngomong. Bisa, ya?" ucap Naina menurunkan egonya.
__ADS_1
Anton tidak menggubris, dia takut jika menunggu nanti Naina justru akan menghubungi Alfin dan dia tak dapat melakukan rencananya.
"Nggak bisa! Ayo, sekarang! Aku mau sekarang juga!" tolak Anton kembali menyeret Naina untuk segera ke ruangannya.